0

[DNS #4] [TMH #2] Girls in the Dark – Akiyoshi Rikako

★ ★ ★ ★ ☆

gitd

Judul: Girls in the Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Haru
Genre: J-Lit
Tebal: 284 hlm
Rilis: Mei 2014
Harga toko: Rp52.000,00
Cara dapat: @ Publisher Outlet (20% OFF)

Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu…?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi….

Kau… pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

WHEN: Tanggal x Juli, setelah sekolah usai.
WHERE: SMA Putri Santa Maria, di dekat pot bunga di bawah teras.
WHO: Shiraishi Itsumi, Ketua Klub Sastra
WHAT: Mati
HOW: Telungkup bersimbah darah, menggenggam setangkai bunga suzuran.
WHY: Pembunuhan? Bunuh diri?

Ketika membuka buku ini dan melihat ilustrasi chandelier pada setiap judul bab, saya sudah punya feeling bagus terhadap novel ini. Ilustrasi chandelier kayak gitu menurut saya “Kindaichi banget” (entah di volume berapa saya menjumpai si chandelier ini) dan saya suka sekali dengan serial Kindaichi. Saat dibaca pun “nuansa Kindaichi” ini semakin terasa, bahkan menurut saya Girls in the Dark ini Kindaichi versi level up!

Untuk mengenang kematian mantan ketuanya, keenam anggota Klub Sastra mengadakan acara pembacaan naskah cerita pendek dari setiap anggota yang berisi kesan mereka terhadap Shiraisi Itsumi semasa hidupnya. Naskah ditutup dengan dugaan masing-masing, siapa kira-kira yang membunuh sang ketua? Selama proses pembacaan ini mereka juga mengadakan pesta yami-nabe, yaitu panci yang berisi air mendidih dan diisi bahan-bahan makanan (err, tidak harus berupa makanan sih) yang dibawa oleh masing-masing anggota. Bahan-bahan ini harus dirahasiakan satu sama lain dan dinikmati dalam kegelapan. Pesta yami-nabe ini nantinya turut berperan penting dalam cerita 😉

Nah, setelah setiap anggota klub membacakan naskah, harapannya sih bakal ada kejelasan mengenai apa yang terjadi di balik kematian Itsumi, tetapi yang terjadi … Wow~ Saya nggak bisa cerita lebih lanjut, musti dibaca sendiri 😛

Salut untuk penerjemah yang sebisa mungkin memberikan ciri kepenulisan masing-masing di setiap naskah yang dibacakan. Memang tidak semuanya memiliki ciri khas, tapi saya bisa sedikit mendeteksi adanya perbedaan. Misalnya gaya menulis Diana Detcheva, siswi asal Bulgaria, yang menggunakan kata ganti “saya”, sementara yang lain menggunakan “aku” (tapi di hlm. 104–105, kata ganti Diana Detcheva ini sempat tidak konsisten, tiba-tiba menggunakan “aku” lalu balik ke “saya” lagi). Sumikawa Sayuri, ketua klub pengganti yang cenderung berpembawaan serius, juga menggunakan kata ganti “saya” ketika memimpin pembacaan naskah. Sayuri ini satu-satunya anggota yang tidak membacakan naskahnya sendiri. Takaoka Shiyo, sang penulis novel, pun punya gaya menulis berbeda. Karena novelnya merupakan novel ringan, gaya menulisnya juga cenderung gaul dengan adanya kata-kata “nggak”, “terus”, “banget”, dll. Dari semua naskah yang dibacakan, gaya menulis favorit saya adalah milik Koga Sonoko, si siswi jurusan IPA. Berhubung terbiasa menggunakan logika, sewaktu berkegiatan di Klub Sastra dan harus menganalisis buku, gayanya jadi menggunakan prinsip 5W1H. Contohnya kayak apa bisa dilihat di awal review ini :)) Baca gaya menganalisis karya sastra begitu bikin saya jadi tergoda untuk selanjutnya me-review buku dengan gaya begitu juga x)

Overall, baru sekali ini saya membaca novel dengan format unik seperti ini. Benar-benar bacaan yang menyenangkan 🙂

***

Seperti biasa, review ditutup dengan catatan typo. Saya sih nemunya cuma sedikit 😉

(34) T.S. Elliot > T.S. Eliot
(34) Ezra Pounds > Ezra Pound
(76) menganalisanya > menganalisisnya
(153) turun temurun > turun-temurun
(156) departement store > department store
(173) Haloween > Halloween
(262) memilih untuk untuk mati > memilih untuk mati

0

[DNS #3] Soulmate on the Backstage – Nadia Silvarani

★ ★ ★ ☆ ☆

sotb

Judul: Soulmate on the Backstage
Penulis: Nadia Silvarani
Penerbit: Grasindo
Tebal: 186 hlm
Rilis: 6 Januari 2014
Harga toko: Rp38.000,00
Cara dapat: @ Toga Mas Affandi (25% OFF)

“The best actress jatuh kepada Amelia Larasati dari Sastra Pranciiiiis!”

Suasana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Negeri Indonesia malam ini begitu meriah. Laras, mahasiswi Sastra Prancis berwajah jutek itu, akhirnya menyabet penghargaan. Ia memang pemain teater berbakat.

Di atas penggung teater, Laras yang biasanya pendiam, kurang …berekspresi dan bahkan jutek, bisa berubah 180 derajat. Laras sanggup tertawa, marah, atau sedih dengan begitu sungguh-sungguh.

Namun, saat sang pelatih memintanya memerankan Adeline, seorang permaisuri kerajaan Eropa yang sedang jatuh cinta, Laras pun seolah menjadi anak teater kemarin sore. Aktingnya sangat kaku. Laras tak tahu apa itu jatuh cinta. Sudah sejak lama ia memutuskan tak terlibat perasaan lemah seperti itu. Perasaan itu hanya akan mengingatkannya pada seseorang yang tersimpan begitu dalam di lubuk hatinya, namun jauh dari pandangan matanya. Laras ingin menolak memerankan Adeline, tapi… itu berarti ia akan kehilangan mimpinya pergi ke Paris. Lalu, apa yang harus dilakukan Laras?

Apakah ia menerima peran Adeline dengan konsekuensi hatinya terluka? Atau ia rela melepas impiannya ke Paris?

Kalau bukan karena bisa diikutkan ke dalam challenge-nya Mbak Dinoy, mungkin buku ini masih akan saya timbun lebih lama lagi. Kesan di awal, buku ini memang tidak termasuk tipe buku yang segera saya baca. Pertama, judulnya menurut saya agak cheesy. Kedua, ketebalannya hanya 186 halaman dan saya jarang punya pengalaman bagus dengan buku lokal yang tipis, hehe. Minimal 200-an halaman deh. Kurang dari itu biasanya konflik diselesaikan terburu-buru atau yang lebih parah: “nggak ada ceritanya” 😐

Tapi, ternyata buku ini lumayan lho … Tema utamanya memang cinta, tapi tema sampingannya (keluarga dan passion) sama kuatnya. Setting dunia teater yang diambil terasa bukan sekadar tempelan. Karakter tokohnya juga kuat, nggak sekadar stereotyping. Saya pribadi suka dengan Laras yang tough, Mas Gele yang ajaib, dan terutama sepupu manis nan perhatian kayak Fara :3 Arga yang ngeselin pun nggak bisa saya benci sepenuhnya kok. Somehow saya mengerti kenapa dia bersikap menyebalkan begitu. Oh ya, kalau saya nggak salah ingat, Azka, sang pujaan hati Laras, juga dibilang nggak ganteng-ganteng amat. Dan saya justru suka karakterisasi yang kayak gitu. Bosen ah, sama teenlit yang cowoknya guanteng buanget, juago buasket, blablabla *padahal mah novel saya juga begitu, fufufu -,-*

Belum lama ini saya membaca Pangeran Kertas dan konflik utamanya (keluarga berantakan, teman khayalan, dan cinta pertama) sebenarnya mirip dengan Soulmate on the Backstage ini. Ending yang dipilih oleh dua penulis pun cenderung sama. Ketika membaca novel berkonflik sama dalam waktu berdekatan (kombinasi 3 konflik + penyelesaian sama pula), biasanya saya kurang bisa menikmati novel kedua, tapi Soulmate on the Backstage ini nggak lantas membosankan. Memang ya, mau dengan tema yang sama, penulis yang baik harusnya sih punya cara dan “sentuhan” sendiri-sendiri.

Buku ini saya tutup dengan kesan: cinta pertama memang manis ya, tapi akan lebih manis lagi kalau judul novel ini diganti *teteup* x)

***
Catatan:
1. Hlm. 9

Senyum Fara manis di wajah dekilnya. Sepertinya malam ini ia belum mandi lagi. Ia memang pemalas. Padahal kalau dilihat-lihat, wajah “imut mirip orang Asia”nya cukup memikat.

Saya kok kurang sreg ya dengan penggunaan kata “Asia” di atas. Orang Indonesia pun orang Asia kok, mungkin maksudnya muka oriental gitu kali ya?

2. Nama lengkap Laras ini puanjaaaaang buangeeeet, susah dihafal. Saking susahnya dihafal, penulisnya juga ikutan lupa, hehe. Bandingkan nama lengkap Laras berikut di dua halaman yang berbeda.

(15) Ameliananda ArLarasa Anindya Pramuswari Kirana Putri Abitama Aridipta
(82) Amelia Larasati Anindya Pramuswari Kirana Putri Aridipta

Memang sih, nama lengkap yang di bawah itu nama lengkap yang diingat oleh Azka dan membuat Laras takjub kok ada orang yang ingat nama lengkap dia. Tapi kalau namamu salah diingat harusnya nggak usah takjub dong, Ras! x)

3. Hlm. 20

Sembari melahap sandwich bikinan Mbak Eli, gak perlu, sudah dijelaskan Laras duduk di kursi pojok Stasiun Manggarai untuk menunggu kereta jurusan Depok, tempat kampusnya berada.

Begitu ketemu kalimat di atas, saya musti membacanya sampai berkali-kali. Ketika ada bagian yang dihilangkan … nah, baru ngerti deh maksudnya apa. Bagian apakah itu? Yak, betul. Coba deh hilangkan “gak perlu, sudah dijelaskan”, niscaya kalimat di atas langsung bisa dipahami. Saya kok curiganya ini tuh semacam komentar penyuntingan gitu, tapi pada proses akhirnya malah ikut tercetak.

4. Sebelum membaca buku ini, saya sudah mengintip review-nya di Goodreads dan menemukan adanya review dari sang penulis sendiri. Di situ penulis mengakui adanya kesalahan fatal berupa kesalahan penulisan nama sehingga saat membaca saya justru kayak lagi main detektif-detektifan, menanti-nantikan di mana salah namanya. Begitu ketemu, bukannya terganggu, malah jadi girang rasanya, hehe. Berikut yang berhasil saya temukan:

Hlm. 51
(x) “Veeeliiii!!! Mana ekspresinya?!”
(v) “Laaaraaas!!! Mana ekspresinya?!”

Hlm. 131
(x) “Re , ARGA!”
(v) “Ga, ARGA!”

Hlm. 144
(x) “Apa?! Lo kenapa sih, Ren?”
(x) “Lo ngomong apa sih, Ren?
(v) “Apa?! Lo kenapa sih, Ga?”
(v) “Lo ngomong apa sih, Ga?

Hlm. 182–184
Semua yang ditulis dengan “Véli” harusnya ditulis “Laras”.

5. TelenoRasa ini apa ya? Pertamanya saya pikir cuma salah ketik aja, karena kalau dari konteksnya sih maksudnya telenovela. Tapi kok munculnya berkali-kali berarti memang ditulis secara sadar kan ya? Apa memang istilah lainnya telenovela itu telenoRasa?

6. Di bab 14 dan 15 ada beberapa cuplikan buku harian Laras yang ditemukan dan dibaca oleh Fara. Nah, antara cuplikan buku harian dan komentar Fara saat membaca ini nulisnya pake huruf miring semua, nggak ada pembedaan font atau gimana. Bacanya agak bingung, euy! Kurang jelas mana yang merupakan tulisan Laras, mana yang merupakan komentar Fara.

5. Typo
. acting > akting
. actrees > actress
. aksesoris > aksesori
(14) memandamkan > memadamkan
(17) diluar > di luar
(22) berwallpaper > ber-wallpaper
(25) mensupportnya > men-support-nya/mendukungnya
(30) frustasi > frustrasi
(34) dicut > di-cut
(38) Ia menghampiri Rozlard dan Laras. > Ia menghampiri Gilang dan Laras.
(47) Tap > Tapi
(64) spot jantung > sport jantung
(95) … pikirnya Tapi … > … pikirnya. Tapi …
(97&98) perhiasaan > perhiasan
(101) dirudung > dirundung
(109) bermanicurenya > bermanikurnya
(123) Rozarld > Rozlard
(135) Adelaine > Adeline
(136) edelweise > edelweiss
(145) bermake-up > ber-make-up
(150) genggamanannya > genggamannya
(162) guman > gumam
(186) make a new friends > make new friends

0

[ACK #5] [DNS #2] Pangeran Kertas – Syahmedi Dean

“Kamu juga harus tahu … setiap bunga punya dua kekasih. Satu kekasih impian, satu kekasih kenyataan.”

★ ★ ★ ☆ ☆ pangeran

Judul: Pangeran Kertas Penulis: Syahmedi Dean
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Metropop
Tebal: 224 hlm
Rilis: September 2014
Harga toko: Rp50.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Mungkinkah Nania jatuh cinta pada impian yang ia ciptakan sendiri? Mungkin. Nania hidup dalam kesepian panjang, di antara Papa, bintang televisi yang sangat tenar, dan Mama, ibu yang hancur karena ketenaran suami. Nania mencari cinta dalam puisi-puisi yang ia tulis, sampai ia jatuh cinta pada sosok yang ia ciptakan, seorang Pangeran Kertas yang berhati putih, yang bisa menerima keluh kesah apa pun dari Nania, yang di dadanya Nania bisa menumpahkan tinta kata-kata. Apa yang terjadi ketika Pangeran Kertas menjadi kenyataan? Mereka berdua beradu kata-kata indah di bawah rembulan, beradu tatapan mata bertukar cinta.

Bagaimana jika pangeran impian berhadapan dengan pangeran lain yang lebih nyata? Mana yang harus dimenangkan, impian atau kenyataan? Nania semakin digempur oleh dua pilihan, sangat membingungkan. Salah satunya selalu menyembuhkan ketika yang lain menyakitkan. Mana yang menyakitkan, impian atau kenyataan? Puisi-puisi Nania semakin mengalir ke hamparan kertas.

Nania berdiri di depan megahnya Taj Mahal, monumen cinta paling abadi di muka bumi, merasakan betapa beruntungnya dihujani cinta dan kasih sayang. Nania pun terseret ke Yogyakarta, tempat benteng-benteng tua yang bertahan melalui dera kenangan masa lalu. Mencintai dan dicintai. Impian dan kenyataan. Pilihan yang sulit namun tetap harus diambil, lalu suatu hari nanti pilihan tersebut akan menjadi kenangan berair mata.

Pangeran Kertas merupakan novel kedelapan–sejauh ini novel terakhir–karya Syahmedi Dean, tetapi novel ini justru menjadi novel pertama karya Bang Dean yang saya baca. Dari segi tema sih sebenarnya tidak terlalu istimewa, yaitu kisah cinta segitiga antara Nania, sang “kekasih impian”, dan sang “kekasih kenyataan”. Untungnya, saya cukup suka dengan gaya bercerita Bang Dean yang mengalir. Dibanding tema novel sebagus apa pun, saya sih lebih memilih gaya bercerita sang penulisnyalah yang bagus. Syukur-syukur tema dan storytelling penulis sama bagusnya. Gaya cerita mengalir ini menurut saya karena Bang Dean banyak menggunakan dialog, tapi sayang jadi ada yang kelewatan belum diberi keterangan kata kerjanya, misalnya sahut, ujar, jawab, dll.:

Hlm. 18 “Cek jumlah followers-nya,” ujar Nania. “Huhu… Ada 65.531.” Lilu. Hlm. 36 “Dia ngebebasin kita menuliskan keluh kesah dan harapan ke dalam jiwanya. Tanpa pretensi, tanpa bikin kesal.” Nania.

Oh ya, meski ini novel Metropop, saya kok masih merasakan adanya nuansa Teenlit, terutama sampai pertengahan cerita. Mungkin karena Nania ini agak manja dengan ayahnya, plus digunakannya istilah “Pekan Sastra Remaja” pada acara yang dihadiri Nania. Barulah pada akhir cerita, di saat Nania harus memilih, saya merasakan kedewasaan Nania, sekaligus kedewasaan novel ini. Jujur saja saya termasuk yang pro dengan pilihan Nania. Percayalah, kalau Nania memilih sebaliknya, satu bintang sudah pasti akan berkurang 🙂

Kalau saya jadi Nania, saya sih nggak akan segitunya kesulitan menentukan pilihan. Karakter tokoh cowok-yang-tidak-jadi-dipilih Nania ini menurut saya agak lemah dan cenderung pasrah. Karakter favorit saya justru dua sahabat Nania, Lilu dan Deta, yang sukses memberi warna pada hari-hari suram Nania. Sayangnya, Lilu dan Deta ini karakternya masih “senapas”, tipe duo badut yang kurang bisa dibedakan satu sama lain. Bahkan, Bang Dean sendiri pun–dan juga lolos dari sensor Mbak Dinoy :P–sempat kecolongan menukar Lilu dan Deta. Pada hlm. 17 disebutkan kalau Deta-lah yang tengah dekat dengan Tito:

Jealous, jealous deh si Tito, lihat foto-foto gue sama si Boy ini,” ujar Deta sambil memperbesar wajah Boy di ponselnya.

Tapi, satu halaman kemudian, yang dipedekate Tito malah si Lilu. Yang bisa bikin jealous pun harusnya foto bersama Boy, bukan Dimas:

Oh, My God! Kenapa gue twitpic semua foto-foto gue sama si Dimas? Hadeeh!” pekik Lilu. “Lha, kenapa?” tanya Deta dan Nania serentak. “TITO’S BIRTHDAY BESOK!” teriak mereka bertiga serentak. “Aaaa… Delete, delete, delete!” “Mati lo, Lu! Tito bisa batal pedekate kalau dia lihat foto-foto selfie lo sama Dimas!”

Selain “pertukaran” di atas, ada lagi beberapa catatan lain: 1. Hlm. 31–32

Sebuah mobil sedan hitam berpelat nomor polisi terparkir di depan garasi. Nania mulai waswas. Pintu depan terbuka. Begitu Nania memasuki pintu, tiba-tiba seorang pria berseragam polisi mendadak berdiri sigap menyambut Nania.

Penggunaan nomor polisi ini agak rancu deh. Pelat nomor untuk kendaraan pribadi (meski bukan mobil polisi) itu tetap disebut pelat nomor polisi kok. Kalimat terakhir juga kurang efektif karena menggunakan tiba-tiba dan mendadak yang artinya sama. Jadi lebih baik salah satu saja:

(v) Begitu Nania memasuki pintu, tiba-tiba seorang pria berseragam polisi berdiri sigap menyambut Nania. (v) Begitu Nania memasuki pintu, seorang pria berseragam polisi mendadak berdiri sigap menyambut Nania.

2. Hlm. 38–39

Pada suatu siang Nania dan teman-temannya berkumpul di suatu tempat yang asri. Di sini Tito menjelaskan bahwa tempat tersebut pindahan dari Cikini, dulunya bernama Planten En Dierentuin dan merupakan taman bentukan organisasi Belanda bernama Culture Vereniging Planten En Dierentuin at Batavia. Paparan mengenai tempat tersebut ditutup dengan kata-kata Deta: “Dan sekarang, tadaaa… namanya telah menjadi Taman Margasatwa Ragunan.”

Fakta bahwa tempat tersebut adalah Ragunan terasa betul kalau sengaja diletakkan di akhir sebagai semacam kesimpulan/kejutan buat pembaca. Selain itu, paparan Tito soal sejarah Ragunan memang bagus, tapi cenderung agak “menceramahi”. Bagian ini jatuhnya jadi kurang natural.

3. Hlm. 65

“Mantri Jeron nggih, Pak,” ujar Raka sambil menurunkan ransel dari punggungnya. “Mantri Jeron ning hotel opo, Mas?” “Ora ning hotel. Ning omahku dhewe,” jawab Raka pendek.

Di luar Stasiun Tugu, Raka ditawari tumpangan oleh seorang pengemudi becak dan berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Meski Pak Tukang Becak berbahasa Jawa Ngoko, lebih pas rasanya kalau Raka menjawabnya dengan bahasa Jawa Krama.

4. Hlm. 88

(x) Perdebatan seru berlangsung di acara Diskusi Sastra Remaja yang bertempat di rumah kaca. Tiga pembicara dan satu moderator berhasil membuat riuh suasana. Peserta terdiri atas dua mahasiswa dari perguruan tinggi yang berbeda, dan satu siswa kelas tiga SMA. (v) Perdebatan seru berlangsung di acara Diskusi Sastra Remaja yang bertempat di rumah kaca. Tiga pembicara dan satu moderator berhasil membuat riuh suasana. Pembicara terdiri atas dua mahasiswa dari perguruan tinggi yang berbeda, dan satu siswa kelas tiga SMA.

5. Di awal disebutkan kalau Raka sebenarnya merasa berat bekerja di Jakarta karena meninggalkan ibunya di Jogja. Tetapi sewaktu Raka pergi–meski sebentar–ke tempat yang lebih jauh lagi, yaitu Jaipur, India, masalah ini tidak dibahas lagi. Seharusnya disinggung lagi–sekalimat saja cukup–bahwa ibunya mendukung kepergian Raka atau bagaimana.

6. Kalimat pertama pada hlm. 140 harusnya masih satu paragraf dengan kalimat di halaman sebelumnya.

7. Saat di India, Nania dan rombongannya dipandu oleh orang India bernama Aditya. Di sini Aditya selalu berbahasa Inggris. Hanya pada satu kalimat saja Aditya berbahasa Indonesia (meski maksudnya berbahasa Inggris), yaitu hlm. 149. Lebih baik satu kalimat itu sekalian diinggriskan saja. Nanggung euy!

8. Hlm. 195

Nania memejamkan mata, menggigit bibir, merasakan Raka mengecup bibirnya kemarin.

Adegan “kemarin” ini ada di hlm. 184–185, tapi saya baca sampai berkali-kali nggak ada adegan mengecup loh xD

9. Hlm. 195

(x) “Na, kita lupa ambil Pangeran Kertas di Maleeka Handmade Paper,” bisik Raka lembut. “Nggak apa-apa, Alvan ….” (v) “Na, kita lupa ambil Pangeran Kertas di Maleeka Handmade Paper,” bisik Alvan lembut. “Nggak apa-apa, Alvan ….”

10. Font puisi tidak seragam.

11. Kata Baku . café > kafe . cafeteria > kafeteria . hektar > hektare

12. Typo
(18) artis management > artist management/manajemen artis
(38) tarik napas dalam dalam > tarik napas dalam-dalam
(42) Makasih ya udah mau gue anterin > Makasih ya, udah mau gue anterin
(67) bica-ra > bicara
(84) menggaris bawahi > menggarisbawahi
(92) sa-ngat > sangat
(105) Awalnya gimana sih Mbak, bisa demam kayak gini? > Awalnya gimana sih, Mbak, bisa demam kayak gini?
(107) lo duduk di belakang Lu, pegangin Nania > lo duduk di belakang, Lu, pegangin Nania
(110) Alvan tahu adalah cowok yang > Alvan tahu dia adalah cowok yang
(120) ma-lah > malah
(140) She will br in love again > She will be in love again
(144) I’am > I am/I’m
(151) menik-mati > menikmati
(171) me-lihat > melihat
(176) de-pan > depan
(178) berpi-kir > berpikir
(183) im_pian > impian
(191) bu-lan > bulan
(209) Yogayakarta > Yogyakarta

Sebagai penutup, akan saya kutipkan satu kalimat favorit saya dari novel ini :’)

Tak ada yang lebih cantik ketika bulu mata seorang wanita basah karena air wudu. (Hlm. 97)

0

[DNS #1] Much Ado about Marriage – Karen Hawkins

★ ★ ☆ ☆ ☆

MAAM

Judul: Much Ado about Marriage
Penulis: Karen Hawkins
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 496 hlm
Rilis: Desember 2013
Harga toko: Rp62.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Pertemuan Thomas Wentworth dengan Fia MacLean yang cantik dan penuh semangat membuat misi mata-matanya berantakan. Belum lagi ketika bermesraan di hutan dengan gadis itu membuatnya ditangkap dan dikurung di kastel MacLean! Seakan kegagalan misinya belum cukup, upaya Thomas melarikan diri malah berujung pada hal yang paling tak ia inginkan: ia dipaksa menikahi Fia karena tertangkap basah dalam situasi—yang tampak—tak senonoh.

Sementara bagi Fia, walaupun enggan, pernikahannya dengan sang earl dari Inggris itu memberikan hikmah tersendiri. Ia terbebas dari perjodohan yang tak diinginkan, dan akan semakin dekat dengan mimpinya: pergi ke London untuk menjadi penulis drama.

Seiring waktu, Fia dan Thomas semakin kesulitan mengingkari perasaan terhadap satu sama lain. Meski Thomas bertekad meminta pembatalan pernikahan sesampainya di London, kehadiran Fia dalam hidupnya jelas menguji tekadnya itu.

Setelah saya ingat-ingat lagi (dan cek di Goodreads), Much Ado about Marriage ini rupanya merupakan genre hisrom pertama yang saya baca. Sebelumnya saya memang tidak pernah tertarik dengan hisrom karena untuk urusan novel hhhottt saya kadung cinta dengan yang dipadukan unsur suspense ala Sandra Brown. Hisrom pertama saya ini pun sepertinya belum bisa membuat saya tertarik untuk membaca hisrom lainnya 😛

Dari sisi karakter, misalnya. Heroin semacam Fia ini jelas bukan tipe favorit saya. Awalnya sih saya lumayan suka dengan sifatnya yang periang, penyayang binatang, dan cenderung tomboy (Btw, gambaran saya akan Fia kurang cocok dengan mbak-mbak yang di kover depan). Tapi makin belakang, Fia-nya kok jadi agak lenjeh dan err … gampangan. Tiap ketemu Thomas bawaannya agresif, pengen dicium mulu. Puncak kegemesan saya adalah sewaktu Fia memohon-mohon ke Thomas dengan bilang … “Bercintalah denganku.” -,- Ya tahu sih ini novel hhhottt, tapi kalau dibikin jaim dikit gitu (((kayaknya))) bakal lebih romantis kok. Thomas-nya juga sama aja. Sewaktu konflik utama akhirnya muncul, si Thomas ini main ngamuk aja, nggak mau dengerin penjelasan apa-apa. Tapi kalau dia mau dengerin penjelasan juga nggak jadi ada konflik, gimana dong? 😛

Soal konflik utama ini menurut saya memang cenderung lemah sih. Dari 496 halaman, nongolnya baru di halaman 432. Itu pun penyelesaiannya gampang, satu bab kemudian segala kesalahpahaman sudah terpecahkan. 432 halaman sebelumnya ngapain dong? Namanya juga novel hhhottt, sudah ketebak kan ngapain aja? x) Meskipun secara keseluruhan kurang bisa dinikmati, ada satu hal yang saya suka dari novel ini, yaitu perihal taruhan Robert dan Fia. Menurut saya taruhannya cute :”)

Oh ya, karena diikutkan untuk challenge dari Mbak Dinoy yang merupakan proofreader buku ini, berikut saya sertakan sedikit catatan kebahasaan:

Huruf Kapital
(110) Yang di atas > Yang di Atas (konteksnya Tuhan)

Inkonsistensi
. countess dan countess
. his lordship dan His Lordship
. laird dan laird

Kalimat
. Hlm. 37
(x) Kalau Angus punya pengetahuan sebanyak yang kaukatakan, kita akan mengajak dan Mary
(v) Kalau Angus punya pengetahuan sebanyak yang kaukatakan, kita akan mengajaknya dan Mary
. Hlm. 75
(x) Tidak manis, aku bukan Duncan
(v) Tidak, Manis, aku bukan Duncan
. Hlm. 164
(x) Ia akan mencari cara untuk mendekati pria keras kepala yang terpaksa setidaknya mereka bisa menjadi teman.
. Hlm. 203
(x) Dan aku tahu menurutmu secantik fisik dia menarik.
(v) Dan aku tahu menurutmu secara fisik dia menarik.
. Hlm. 358
(x) Duncan mengingatkannya bahwa kehangatan ini tidak nyata. Kedekatannya dengan Thomas bahwa hanya bersifat sementara.
(v) Duncan mengingatkannya bahwa kehangatan ini tidak nyata. Bahwa kedekatannya dengan Thomas hanya bersifat sementara.

Kata Baku (tergantung selingkung penerbit)
. mencelos > mencelus

Pemenggalan (Banyak ditemukan pemenggalan di tengah baris. Dilihat dari jumlahnya, kayaknya ini masalah teknis kali ya?)
(86) pu-nya
(88) meng-izin
(114) ti-dak
(122) ren-da
(217) meng-hin
(245) ja-wab
(253) ter-tekan
(278) ba-wah
(302) kori-dor
(309) bebera-pa
(427) ten-tang
(466) ban-tuan

Spasi
(250) takkasat > tak kasat

Tanda Baca
(166) membersihkan, menambatkan dan menangani kargo > membersihkan, menambatkan, dan menangani kargo
(289) “Terima kasih. > “Terima kasih.”
(306) Mary, Angus dan para binatang > Mary, Angus, dan para binatang

Typo
(15) dikatanan > dikatakan
(15) padahnya > padanya
(41) grak-geriknya > gerak-geriknya
(111) menyakitmu > menyakitimu
(190) kal > akal
(313) kamarnnya > kamarnya
(468) memberitahuaku > memberitahuku

0

[Master Post] Tantangan Membaca Karya Dini Novita Sari

Konon, Maret adalah bulan ketika semangat para kutu buku untuk menaklukkan reading challenge tahunan mulai rontok. Tapi, di sinilah saya, sudah 5 Maret 2015 malah posting untuk ikut challenge yang baru! Apa kabar 3 challenge sebelumnya? Mereka baik-baik saja … karena buku-buku untuk tantangan yang mau saya ikuti ini ternyata bisa diikutkan ke 3 tantangan lainnya 😉

katalogdinirc2015

Yapp, rasanya deja vu sewaktu pertama kali melihat-lihat buku apa saja yang bisa dimasukkan ke Tantangan Membaca 2015: Buku-Buku “Karya” Dini Novita Sari di sini. Rupanya buku-buku yang “kena campur tangan” Mbak @dinoynovita sebagian besar merupakan terbitan Haru dan terbitan Gramedia lini Amore-Metropop-Teenlit, alias challenge yang juga saya ikuti sebelumnya kok \(^^)/ Dibanding challenge sebelumnya, tantangan ini jadi terasa agak effortless sebenarnya, lol.

Meskipun dibilang effortless, dari 40-an buku karya Mbak Dinoy yang sudah ada (dan akan terus bertambah), rupanya baru ada 6 buku yang bisa saya jangkau 😛 Yaitu ….

1. Cheer Boy!! – Ryo Asai
2. Explicit Love Story – Lee Sae In
3. Girls in the Dark – Akiyoshi Rikako
4. Much Ado about Marriage – Karen Hawkins
5. Pangeran Kertas – Syahmedi Dean
6. Soulmate on the Backstage – Nadia Silvarani

Semoga ke depannya bisa terus bertambah. Semangat~