3

Fun Facts about Utrecht (2): Miffy

Entah kenapa saya jarang menggunakan foto profil dengan foto muka sendiri di berbagai akun di internet. Kalau nggak foto objek lain ya foto diri sendiri, tapi tampak belakang :)) Konon yang begini ini pertanda ketidak-PD-an seseorang, hahaha. Saya nggak ambil pusing dengan hipotesis seperti itu karena buat saya ini cuma masalah kebiasaan.
Begitu pula sewaktu saya mendaftar Kompetiblog 2011 dan ‘disunahkan’ untuk mengunggah foto profil di web. Tidak ingin repot, saya memilih calon foto profil saya dari file berisi ratusan koleksi kartu pos saya dan akhirnya pilihan saya jatuh pada kartu pos bergambar kelinci berikut …
Pertimbangan saya waktu itu adalah sekadar memilih kartu pos yang sekiranya lucu, begitu coba diunggah tampak manis di web tersebut, ya sudah.

Masalah foto profil ini pun segera terlupakan karena masih banyak hal yang jauuh lebih penting: belum tau mau menulis tentang apa, lanjut proses penulisan dan penyuntingan, lanjut deg-degan menunggu pengumuman, lanjut riweuh persiapan sebelum keberangkatan, lanjut sibuk belajar dan mengerjakan tugas summer course, dan seterusnya.

Masalah ini akhirnya mengemuka lagi pada suatu sore, saat saya berkesempatan JJS keliling Utrecht bersama Bu Kiki, dosen UI yang mengambil studi doktoral di Utrecht Universiteit dan berbaik hati memandu saya menjelajahi kota ini. Sewaktu jalan-jalan di sekitaran Oudegracht, saya melihat sebuah toko yang tampak memajang souvenir keramik berwarna biru yang merupakan oleh-oleh khas Delft. Sebuah pertanyaan pun terucap dari mulut saya:

“Kalau dari Utrecht oleh-oleh khasnya apa ya, Bu?”

Bu Kiki tampak berpikir sebentar kemudian mengajak saya lanjut berjalan sambil menjelaskan tentang sebuah karakter kartun yang diciptakan oleh seorang kartunis kelahiran Utrecht. Menurut beliau, karakter kartun tersebut merupakan karakter kesayangan sekaligus kebanggaan Utrecht. Kalau mau beli oleh-oleh khas Utrecht ya belilah pernak-pernik bergambar karakter tersebut!
Bu Kiki kemudian berhenti di sebuah toko dan menunjuk ke arah sederet kartu pos yang dipajang dengan gambar-gambar karakter yang dimaksud tersebut ….
(eneryvibes.wordpress.com)
Loh, kok si foto profil???
Ckck… Mana saya tahu kalau si kelinci lucu, yang saya pilih dari ratusan gambar yang lain untuk foto profil saya dulu, ternyata adalah kelinci kesayangan warga Utrecht. Dengan memajang gambar Miffy, nama si kelinci itu, saya seakan diam-diam menitipkan doa agar saya benar-benar dapat dikirim ke kota asal si kelinci tersebut. Bagi saya ini sebuah kebetulan yang indah 🙂
*
Miffy atau Nijntje (singkatan dari konijntje yang berarti ‘kelinci kecil’) adalah karakter ciptaan Dick Bruna, seorang kartunis kelahiran Utrecht. Karakter ini lahir pada tahun 1955 dengan ciri khas gaya yang minimalis: goresan garis yang sederhana dan penggunaan warna yang tidak banyak. Warga Utrecht sendiri memang sayaaangg sekali sama si Miffy ini. Ada banyak bentuk penghormatan terhadap Dick Bruna dan Miffy, antara lain:
1. Dick Bruna Huis @ Agnietenstraat 3
Tampak luar (oranjeflamingo.wordpress.com)
Tampak dalam (flickriver.com)
2. Nijntjepleintje @ Oudegracht – Van Asch of Wijckskade
(learningdutchatstevenson.blogspot.com)
Little Miffy Square, lengkap dengan patung Miffy (panoramio.com)
3. Miffy Traffic Light @ Lange Viestraat – Sint Jocobsstraat
Miffy Traffic Light (oddee.com)
*
Nah, sekarang, coba bayangkan kalau si Miffy ini bukan kelinci, tetapi kucing! Sosok apa yang bakal kalian ingat?
Iyes, si Hello Kitty!
Kucing Jepang keluaran Sanrio ini lahir tahun 1974, 19 tahun setelah Miffy lahir, tapi lucunya justru banyak yang menyebut si Miffy ini “Hello Kitty-esque rabbit”! Seakan si Hello Kitty ini belum cukup mirip dengan Miffy, dua tahun kemudian muncul teman Hello Kitty yang berupa kelinci bernama Cathy.
(ipkitten.blogspot.com)
Pada wawancaranya dengan The Daily Telegraph tahun 2008, Dick Bruna mengungkapkan ketidaksukaannya pada Hello Kitty. Menurutnya, Hello Kitty jelas meniru Miffy! Ketidaksukaan Dick Bruna ini jadi ‘lucu’ jika melihat bahwa sebenarnya Dick Bruna juga sempat dituduh hal serupa, yaitu tuduhan bahwa Miffy meniru Musti, karakter kucing dari Belgia yang lahir tahun 1945, 10 tahun sebelum Miffy lahir.
Jadi, kronologis tuduh-menuduh peniruan karakter ini memang agak rumit, pemirsa …
kucing Belgia – kelinci Belanda – kucing Jepang – kelinci Jepang 
(lille-art.com)
Terlepas dari keterlibatan Musti, pada November 2010 pengadilan Belanda menganggap Cathy terlalu mirip dengan Miffy dan menuntut Sanrio untuk menghentikan penjualan karakter Cathy di kawasan Belanda, Belgia, dan Luxemburg atau membayar denda. Sanrio mengajukan banding dan solusi justru datang dari sebuah bencana pada Maret 2011: tsunami di Jepang.
Bentuk dukacita dari Dick Bruna untuk Jepang
Mereka sepakat untuk berdamai. Sanrio setuju untuk tidak akan menggunakan karakter Cathy lagi dan alih-alih mempermasalahkan uang lewat jalur hukum, kedua belah pihak memutuskan untuk menyumbang korban tsunami sebesar 150 ribu Euro. Benar-benar akhir yang melegakan ya 🙂
Berpelukaaaaaan
Logo yang dibuat Dick Bruna untuk sebuah yayasan perdamaian
2

USS’11 – C 43

Selamat dini hari dari Nogosaren Lor!

Ke mana saja selama ini, Titish??? Huhuhu, maafkeun sudah lama menghilang tanpa kabar. Jujur, selama summer school saya cukup kesulitan mencari waktu untuk menulis karena aktivitas lumayan padat. Begitu ada waktu (semasa extend di Brussels & Paris), giliran internet yang susah dicari. Berhubung sudah pulang ke Indonesia lagi dengan keleluasaan waktu & koneksi, juga sudah Idul Fitri (hubungannya??), saya usahakan akan mulai rajin menulis lagi. Mumpung ingatan-ingatan akan berbagai peristiwa di sana juga masih menempel di kepala 🙂

Utopian vs Dystopian

Karena sudah menyinggung padatnya aktivitas summer school di sana, blog ini akan mulai saya tulisi lagi dengan cerita mengenai kelas yang saya ambil, Dutch Culture: Society & Current Issues. Hari pertama dimulai dengan gambaran umum perspektif masyarakat internasional terhadap negara Belanda. Berhubung kelas internasional, Maarten–sang instruktur–tinggal menanyai kami yang berasal dari negara yang berbeda-beda ini secara acak mengenai apa yang kami pikirkan pertama kali tentang Belanda. Tulip, cheese, Gay Parade, windmill, Red Light District adalah beberapa jawaban yang terkumpul dari sekian banyak sudut pandang negara. Jawaban yang bermacam-macam itu rupanya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hal-hal yang terdengar baik dan menyenangkan (utopian) dan hal-hal yang terkesan buruk dan jelek (dystopian). Dari koleksi kartu pos Belanda saya berikut pun seharusnya saya sudah bisa melihat hal ini:

international image (utopian)

vs

international image (dystopian)
Dengan materi-materi yang secara padat disampaikan selama dua minggu, kami, peserta kelas berkode C 43 yang hampir semuanya merupakan non-Dutch ini jadi lebih memahami Belanda dan berbagai aspeknya: mulai dari love-and-hate-relationship mereka dengan air, kecintaan mereka akan keluarga kerajaan yang sebenarnya nyaris tidak punya kekuasaan, seluk-beluk nasib imigran dan kedudukan Islam di sana,dan tentunya tak lupa membahas lebih mendalam akan sikap permisif mereka terhadap berbagai ethical issue (drugs, prostitution, euthanasia, abortion, same-sex marriage) yang berdampak langsung terhadap pandangan buruk masyarakat internasional kepada negara mereka (dystopian image) tersebut. Mereka berprinsip bahwa daripada berbagai ethical issue itu disikapi oleh masyarakat secara tidak bijak, lebih baik pemerintah turut mengatur dalam bentuk legalisasi yang bertanggung jawab. Forbidden fruits will be eaten anyway.

Photo courtesy of Inne Ongkodjojo

Liburan Berkedok Summer School

No matter what country you are from, you are bound to experience a culture shock. It is as simple as that. In general students will go through three phases: the so-called honeymoon phase, the I-hate-this-country phase and finally the adjustment phase. During the first phase you will probably like and feel excited about everything you see, hear and experience while in the second phase things might suddenly start to annoy you. By that time you might be feeling homesick, you might be missing your home country, family and friends. During the third phase you will acknowledge the cultural differences and see the benefits of living in the Netherlands. At the same time you will hopefully be able to look upon any downsides more objectively. During this phase students are usually better able to reflect on their own cultures (Your Practical Guide to Living in Holland, p.2).

buku imut pemberian NESO

Kalau dihubungkan dengan teori-tiga-fase yang ada di buku yang saya khatamkan ketika menunggu kereta di Stasiun Gambir lebih dari sebulan yang lalu di atas, mengikuti USS ini rasanya seperti mendapat kesempatan untuk merasakan pendidikan di Belanda dengan cara curang. Kenapa curang? Karena masa belajar yang amat singkat sama artinya dengan kegiatan serbapadat, memanfaatkan waktu setiap detiknya untuk mengeksplorasi negara ini sebaik-baiknya. Setiap hari berasa liburan karena rasanya seperti turis yang mendatangi berbagai tempat baru untuk mencoba hal-hal baru. Dua minggu keberadaan saya di sana isinya honeymoon phase semua dan begitu masa summer school saya sudah habis, saya pergi tanpa sempat mengalami I-hate-this-country phase. Belum sempat memasuki masa bersusah-susah saya keburu pulang! 🙂 Curang, bukan? 😀 Tidak seperti program bachelor atau master, summer school memang dirancang untuk ‘memanjakan’ para pesertanya. Di USS, misalnya, nyaris setiap hari selalu ada social program yang difasilitasi, seperti ekskursi ke berbagai kota di Belanda, cycling tour, schavenger hunt, poker night, sailing, night canoeing, traditional Dutch picnic, salsa workshop (!), dan masih banyak social program lainnya yang semakin membuat kita bingung “ini kita lagi sekolah atau liburan sih?” :p

Janskerkhof 30, summer school office
Utrecht Summer School merupakan summer school TERBESAR di Eropa yang berdiri pada 1987 sehingga USS tahun 2011 yang saya ikuti kemarin adalah USS yang ke-25! Memang kerasa sih kalau penyelenggaranya sudah berpengalaman. Para staf yang ngantor di Janskerkhof 30 sangat suabaarr menghadapi saya yang sering merepotkan: mengurusi refund social program yang jadwalnya bentrok, mengganti coupon booklet lama saya yang sobek-sobek kena tumpahan air mineral dengan yang baru, dan jasa terbesar adalah tempat penitipan koper berhari-hari yang AMAN dan GRATIS selama saya liburan ke Brussels dan Paris! Sepulangnya ke Indonesia pun saya masih rewel via email meralat alamat pengiriman transkip nilai dan responsnya … whuzz whuzz whuzz … amat memuaskan.

free entrance museum, discount, etc & yg langsung berguna pada hari pertama: simcard Lebara!

A Goal is a Dream with a Deadline

Mencicipi pendidikan di Belanda dalam waktu singkat membuat saya ingin belajar di sana lagi dalam waktu yang lebih lama. Sekilas mengunjungi Belgia dan Perancis membuat saya semakin yakin untuk tidak berpindah ke negara lain. Yap, meskipun rencana awal saya untuk mengambil master di Belanda melalui HSP gagal karena beasiswa tersebut keburu ditiadakan, mimpi untuk melanjutkan master di sana itu masih ada. Ada yang mau berjuang bersama saya? Yuk, mulai bergerak sekarang juga. Langkah pertama yang tepat untuk semakin mendekatkan diri dengan Belanda menurut saya adalah berkonsultasi dengan NESO Indonesia! 🙂
0

Fun Facts about Utrecht (1): Rietveld Schröder House

Oke, kurang adil rasanya saya menyebut-nyebut lebih suka Leiden daripada Utrecht tanpa mengeksplorasi Utrecht terlebih dahulu. Oleh karena itu, saya akan mencoba menulis beberapa hal menarik yang saya temui di Utrecht. Berhubung saya harus segera mengerjakan tugas kedua yang ditumpuk besok, rasanya bagian Fun Facts about Utrecht ini harus saya tulis dalam bentuk serial. Enjoy the first part! 🙂

***

Tugas pertama yang harus kami lakukan tidak hanya cukup dengan berjalan-jalan, kami juga harus mempresentasikannya di kelas. Dalam rangka mengerjakan slide presentasi tersebut, kami berkumpul di asrama Nicola & Gabriella: University College Utrecht. Mereka selalu berjalan dari asrama ke kampus (kawasan Drift) vice versa jadi ‘katanya’ sih dekat sehingga saya oke2 saja diajak berjalan kaki rame-rame, tapi ternyata … jarak itu memang relatif ya -_-” Untungnya setelah melewati pinggir pertokoan yang seakan tak kunjung usai, kami segera didinginkan dengan pemandangan Wilhelmina Park yang menenangkan ….

(skyskrapercity.com)

Begitu Wilhelmina Park terlewati, kami menyusuri jalan bernama Prins Hendriklaan dan Nicola kemudian bercerita tentang salah satu bangunan di jalan ini yang masuk ke dalam daftar World Heritage Sites – Unesco. Sambil terus berjalan saya dan Emily disuruh menebak bangunan yang manakah itu? Pada awalnya itu tebakan yang sulit karena sepanjang jalan itu berisi rumah-rumah antik nan cantik yang rasanya pantas-pantas saja masuk daftar WHS itu. Kemudian tebakan menjadi lebih mudah ketika ada cukup banyak orang berfoto-foto di depan rumah di ujung jalan. Rumahnya kayak apa justru belum kelihatan, tapi Nicola mengiyakan ketika saya dan Emily menunjuk bangunan di ujung jalan itu (berdasarkan adanya kerumunan orang). Siapa sangka setelah dilihat lebih lanjut rumahnya ‘cuma’ kayak gini???
Rietveld Schröder House
Come on, Belanda cuma punya 9 Unesco WHS (hasil googling kemudian) dan salah satunya ‘cuma’ kayak gini?? xD Setelah Nicola menjelaskan bahwa itu dibangun di tahun 1920-an (sliding walls in 1924!), saya pikir itu mulai masuk akal. Tapi kalau mau jujur, saya lebih terkesima dengan asramanya si Nicola daripada dengan si Rietveld Schröder House. Ini dia bentuknya …

Bandingkan dengan asrama saya! Ngeces2 saya+Emily melihatnya x)
6

Di Belanda dengan Jilbab di Kepala

Sewaktu film Fitna booming di mana2 terutama Indonesia, saya termasuk golongan yang apatis. Sementara teman-teman berlomba menanyakan “Udah nonton Fitna?”, saya cuma geleng-geleng kepala. Dibombardir dengan sekilas-sekilas tayangan di televisi nasional buat saya sudah cukup. Rupanya saya tidak bisa mengelak selamanya karena seminar sesi kedua hari Kamis kemarin ditutup dengan sedikit pembuka film Fitna tersebut.

Euhh … tu kan …

Iris, salah satu teman yang berasal dari Taiwan bahkan sampai shocked dan harus meninggalkan kelas saking ngerinya dengan apa yang ditayangkan di depan kelas. Dan bagi saya yang jadi satu-satunya cewek berjilbab di situ … It’s too offensive.

Saya percaya setiap ideologi punya ekstrimis masing-masing. Anders Behring Breivik yang sudah membunuh 90+ orang di Norwegia akhir Juli lalu menjadi bukti terbaru untuk hal itu. Lalu apa kabar saya dengan jilbab di kepala dan berada di negara tempat booming film Fitna itu berasal?

1. Hari kedua di sini, saya membeli es krim di gerai Venezia dan memesan Tiramisu Ice Cream. Begitu melihat saya berjilbab, si mbak2 Belanda yang jualan menyarankan saya membeli Cappuccino Ice Cream saja karena bebas alkohol dan toh rasanya nyaris sama. (Nice!)

2. Beberapa kali saya disapa dengan “Assalamu’alaikum” oleh orang2-entah-siapa dan saya selalu menjawab “Wa’alaikumsalam” dengan perasaan hangat yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Mirim, teman Korea saya, sampai bertanya “Do you know him?”, ketika saya disapa sesosok lelaki superkekar di Utrecht Centraal 😀

Tulisan kali ini akan saya tutup dengan pendapat Sri Mulyani yang saya baca di Intisari:

Obrolan tentang multikulturalisme yang keluar dari mulut seorang muslim Jawa yang tinggal di Indonesia itu omong kosong!

Rasanya berada di sini saya baru bisa mengerti.

senaz.blogsome.com

P.S. Sebelum ke sini saya nyari buku di atas, tapi belum nemu, euy!

2

Hura-Hura dengan Makanan Indonesia

apple strudel (1,5 Euro) > terlalu manis

burger ayam (2,75 Euro) > agak hambar

Makanan terenak yang saya makan selama empat hari pertama di sini adalah mie gelas yang saya bawa dari Indonesia -_-” Sampai saya menemukan ini:

senengnya pas bayar di kasir bisa ngomong: “Meja tiga belas!” 😀

Di sini makanan Indonesia terkenal enak sehingga dibandrol mahal. Kesemua restoran nan mahal itu pun belum tentu asli Indonesia. Kadang nama Indonesia dicatut untuk restoran yang aslinya berasal dari Thailand, misalnya. Mesti pinter milih-milih mana restoran Indonesia yang enak dan mana yang hasil catutan.

Beruntung saya bertemu Bu Kiki Kushartanti, dosen Linguistik UI yang saya ajak ketemuan di Utrecht sini. Toko Mitra ini merupakan rekomendasi dari beliau, letaknya di Lange Viestraat, cukup dekat dengan kampus. Di Toko Mitra saya memesan es kelapa muda dan tahu telor met lontong yang sudah disesuaikan dengan porsi bule. Saya cuma berhasil menghabiskan separo dan sisanya saya bungkus pulang alias meenemen (take away).

tahu telor met lontong (6,5 Euro + 1,35 Euro = 7,85 Euro)

Es kelapa muda basa-basi (2,1 Euro)

Tahu telornya enaaak, tapi es kelapa mudanya agak mengecewakan, mungkin karena saya udah keburu berharap bakal disodori kelapa utuh tinggal ngerok sendiri gitu, hehe. Meskipun tetep nggak bisa dibandingin sama yang di negeri sendiri, ini adalah makanan terenak dan TERMAHAL yang saya makan di sini. Toko Mitra juga berjualan pop mie, indomie, dan bahan-bahan makanan lain yang sangat familiar di Indonesia. Jadi bukan hal mustahil lagi kalau saya ingin memasak makanan Indonesia seautentik mungkin di asrama. 

Should I?