3

Fun Facts about Utrecht (2): Miffy

Entah kenapa saya jarang menggunakan foto profil dengan foto muka sendiri di berbagai akun di internet. Kalau nggak foto objek lain ya foto diri sendiri, tapi tampak belakang :)) Konon yang begini ini pertanda ketidak-PD-an seseorang, hahaha. Saya nggak ambil pusing dengan hipotesis seperti itu karena buat saya ini cuma masalah kebiasaan.
Begitu pula sewaktu saya mendaftar Kompetiblog 2011 dan ‘disunahkan’ untuk mengunggah foto profil di web. Tidak ingin repot, saya memilih calon foto profil saya dari file berisi ratusan koleksi kartu pos saya dan akhirnya pilihan saya jatuh pada kartu pos bergambar kelinci berikut …
Pertimbangan saya waktu itu adalah sekadar memilih kartu pos yang sekiranya lucu, begitu coba diunggah tampak manis di web tersebut, ya sudah.

Masalah foto profil ini pun segera terlupakan karena masih banyak hal yang jauuh lebih penting: belum tau mau menulis tentang apa, lanjut proses penulisan dan penyuntingan, lanjut deg-degan menunggu pengumuman, lanjut riweuh persiapan sebelum keberangkatan, lanjut sibuk belajar dan mengerjakan tugas summer course, dan seterusnya.

Masalah ini akhirnya mengemuka lagi pada suatu sore, saat saya berkesempatan JJS keliling Utrecht bersama Bu Kiki, dosen UI yang mengambil studi doktoral di Utrecht Universiteit dan berbaik hati memandu saya menjelajahi kota ini. Sewaktu jalan-jalan di sekitaran Oudegracht, saya melihat sebuah toko yang tampak memajang souvenir keramik berwarna biru yang merupakan oleh-oleh khas Delft. Sebuah pertanyaan pun terucap dari mulut saya:

“Kalau dari Utrecht oleh-oleh khasnya apa ya, Bu?”

Bu Kiki tampak berpikir sebentar kemudian mengajak saya lanjut berjalan sambil menjelaskan tentang sebuah karakter kartun yang diciptakan oleh seorang kartunis kelahiran Utrecht. Menurut beliau, karakter kartun tersebut merupakan karakter kesayangan sekaligus kebanggaan Utrecht. Kalau mau beli oleh-oleh khas Utrecht ya belilah pernak-pernik bergambar karakter tersebut!
Bu Kiki kemudian berhenti di sebuah toko dan menunjuk ke arah sederet kartu pos yang dipajang dengan gambar-gambar karakter yang dimaksud tersebut ….
(eneryvibes.wordpress.com)
Loh, kok si foto profil???
Ckck… Mana saya tahu kalau si kelinci lucu, yang saya pilih dari ratusan gambar yang lain untuk foto profil saya dulu, ternyata adalah kelinci kesayangan warga Utrecht. Dengan memajang gambar Miffy, nama si kelinci itu, saya seakan diam-diam menitipkan doa agar saya benar-benar dapat dikirim ke kota asal si kelinci tersebut. Bagi saya ini sebuah kebetulan yang indah ๐Ÿ™‚
*
Miffy atau Nijntje (singkatan dari konijntje yang berarti ‘kelinci kecil’) adalah karakter ciptaan Dick Bruna, seorang kartunis kelahiran Utrecht. Karakter ini lahir pada tahun 1955 dengan ciri khas gaya yang minimalis: goresan garis yang sederhana dan penggunaan warna yang tidak banyak. Warga Utrecht sendiri memang sayaaangg sekali sama si Miffy ini. Ada banyak bentuk penghormatan terhadap Dick Bruna dan Miffy, antara lain:
1. Dick Bruna Huis @ Agnietenstraat 3
Tampak luar (oranjeflamingo.wordpress.com)
Tampak dalam (flickriver.com)
2. Nijntjepleintje @ Oudegracht – Van Asch of Wijckskade
(learningdutchatstevenson.blogspot.com)
Little Miffy Square, lengkap dengan patung Miffy (panoramio.com)
3. Miffy Traffic Light @ Lange Viestraat – Sint Jocobsstraat
Miffy Traffic Light (oddee.com)
*
Nah, sekarang, coba bayangkan kalau si Miffy ini bukan kelinci, tetapi kucing! Sosok apa yang bakal kalian ingat?
Iyes, si Hello Kitty!
Kucing Jepang keluaran Sanrio ini lahir tahun 1974, 19 tahun setelah Miffy lahir, tapi lucunya justru banyak yang menyebut si Miffy ini “Hello Kitty-esque rabbit”! Seakan si Hello Kitty ini belum cukup mirip dengan Miffy, dua tahun kemudian muncul teman Hello Kitty yang berupa kelinci bernama Cathy.
(ipkitten.blogspot.com)
Pada wawancaranya dengan The Daily Telegraph tahun 2008, Dick Bruna mengungkapkan ketidaksukaannya pada Hello Kitty. Menurutnya, Hello Kitty jelas meniru Miffy! Ketidaksukaan Dick Bruna ini jadi ‘lucu’ jika melihat bahwa sebenarnya Dick Bruna juga sempat dituduh hal serupa, yaitu tuduhan bahwa Miffy meniru Musti, karakter kucing dari Belgia yang lahir tahun 1945, 10 tahun sebelum Miffy lahir.
Jadi, kronologis tuduh-menuduh peniruan karakter ini memang agak rumit, pemirsa …
kucing Belgia – kelinci Belanda – kucing Jepang – kelinci Jepangย 
(lille-art.com)
Terlepas dari keterlibatan Musti, pada November 2010 pengadilan Belanda menganggap Cathy terlalu mirip dengan Miffy dan menuntut Sanrio untuk menghentikan penjualan karakter Cathy di kawasan Belanda, Belgia, dan Luxemburg atau membayar denda. Sanrio mengajukan banding dan solusi justru datang dari sebuah bencana pada Maret 2011: tsunami di Jepang.
Bentuk dukacita dari Dick Bruna untuk Jepang
Mereka sepakat untuk berdamai. Sanrio setuju untuk tidak akan menggunakan karakter Cathy lagi dan alih-alih mempermasalahkan uang lewat jalur hukum, kedua belah pihak memutuskan untuk menyumbang korban tsunami sebesar 150 ribu Euro. Benar-benar akhir yang melegakan ya ๐Ÿ™‚
Berpelukaaaaaan
Logo yang dibuat Dick Bruna untuk sebuah yayasan perdamaian
0

Kanal-Kanal Saksi Kenakalan

Beberapa hari sebelum terbang ke Belanda, saya menulis komentar sok asyik nan kontradiktif di grup Facebook teman-teman seangkatan, terkait dengan keberangkatan saya ke sana:

Ramadhan nanti akan ada cewek berjilbab jalan-jalan di red light district, nontoni cewek-cewek telanjang dipajang, berbuka puasa dengan ganja & beli oleh-oleh buat kalian di museum seks!

Komentar di atas jelas cuma komentar ngasal dari orang non-Belanda yang sedang membicarakan negara tersebut dari sudut pandang dystopian. Karena cuma nulis ngawur, mana saya sangka kalau sebenarnya saya punya kesempatan besar untuk benar-benar merealisasikan ‘bualan’ tersebut.
*

Hari-hari terakhir berada di Eropa saya menginap di Amsterdam, di sebuah hostel bernama St. Christopher’s at The Winston yang saya booking jauh-jauh hari sewaktu masih di Indonesia. Saya memilih hostel tersebut semata-mata atas pertimbangan menghindari adegan berlama-lama menyeret koper. Dengan kata lain, saya mencari hostel yang lokasinya dekat dengan Amsterdam Centraal. Bodohnya, lagi-lagi karena meremehkan riset, saya baru tahu kalau hostel saya ini juga dekat dengan kawasan Red Light District, begitu sudah pulang ke Tanah Air! Pantesan sewaktu check in saya disambut oleh si mas2 yang jaga di meja resepsionis dengan tatapan kamu-ngapain-bisa-sampai-di-sini-sendirian-wahai-cewek-berjilbab-dengan-tampang-alim?

Meskipun tidak datang bersama siapapun, saya mengambil kamar berjudul 4 bed female dorm yang berarti saya akan punya 3 teman sekamar yang benar-benar tidak dikenal. Bagian harus sekamar dengan orang asing ini sempat bikin saya pikir-pikir cukup lama karena agak parno dengan masalah keamanan, kenyamanan, dll. Tapi kalau tidak dicoba, entah kapan lagi saya bisa mencicipi bagaimana rasanya menginap di hostel dengan tipe kamar dormitory ini. Model kamar beginian kan nggak ngetrend di Indonesia. Lagipula kalau mau ambil private room … duitnye dari maneeee? Akhirnya dengan banyak doa, saya niatkan ambil kamar dormitory. Asal tidak mengambil tipe mixed dorm alias campur cewek-cowok *wewww*, insya Allah aman. Bismillah.

St. Christopher’s at The Winston (hostelclub.com)

Insiden kereta penuh air mata di Paris sebelumnya otomatis membuyarkan jadwal traveling solo saya di Amsterdam. Prediksi indah saya adalah saya akan tiba di Amsterdam cukup pagi untuk kemudian menyempatkan diri jalan-jalan ke Volendam atau Delft. Ini pilihan yang sulit karena kota yang pertama adalah semacam kota wajib-kunjung-turis sementara kota yang terakhir murni iming-iming dari Geges. Rupanya saya tidak perlu repot-repot memilih karena saya sampai di Amsterdam sudah siang, mood berantakan, sementara koper saya saja masih teronggok manis nun jauh di Utrecht sana. Ngokk.

Sepulang dari Utrecht untuk mengambil koper, saya segera ke hostel dan diantarkan ke sebuah kamar di lantai atas. Sambil menaiki tangga yang curam (untungnya mas resepsionis berbaik hati mengangkat si koper-yang-beratnya-bikin-frustrasi), jujur saya merasa deg-degan menghadapi calon teman-teman sekamar saya. Jangan sampai deh dapat teman sekamar yang nyolongan, rese, atau malah rasis. Kekhawatiran saya rupanya harus tertunda karena 2 ranjang yang tampak sudah ditempati sedang ditinggalkan penghuninya. Dari sisa 2 ranjang yang ada, saya memilih ranjang yang paling dekat dengan jendela. Setelah mandi dan sedikit bebenah koper, tibalah saatnya saya menyesatkan diri di Amsterdam!

Damrak (eveandersson.com)

Berhubung belum beli oleh-oleh sama sekali, saya mengarahkan diri ke Damrak, kawasan di pinggir kanal antara Amsterdam Centraal dan hostel yang saya lihat banyak menjual oleh-oleh. Di sini saya kalap dan nyaris menghabiskan semua Euro yang tersisa dengan membeli oleh-oleh standar seperti gantungan kunci, T-Shirt, dan pajangan. Sedang asyik-asyiknya jalan-jalan sendirian di Damrak, tiba-tiba saya menemukan sebuah bangunan yang ngawe-awe minta dimasuki.

Amsterdam Sex Museum! (eurotrip.com)

Saya benar-benar tidak menyangka museum yang sempat saya sebut di Facebook itu lokasinya sangat dekat dengan lokasi hostel tempat saya menginap. Setelah mempertimbangkan mau-masuk-atau-tidak sambil belanja kartu pos di kios sebelah, saya akhirnya mengurungkan niat untuk masuk. Fakta bahwa saya cewek dan sendirian menyiutkan nyali saya untuk berkeliling di dalam museum bertarif 4 Euro tersebut. Lagipula, sepenasaran apapun, saya semacam punya tanggung jawab moral untuk tidak memasuki museum itu dengan dandanan sealim ini :p

Sebagai penghibur atas batalnya kunjungan ke Amsterdam Sex Museum, saya pun menghadiahi diri saya sendiri dengan oleh-oleh yang ‘lucu’ berupa kartu pos bergambar langka dan …

Agar lebih sopan saya menyebutnya pasta gunting ๐Ÿ˜

Berhubung si pacar lebih jago masak daripada saya, sewaktu mudik kemarin dia sempat saya minta memasak si pasta gunting ini. Entahlah cewek macam apa yang meminta pacarnya memasak pasta berbentuk begini, ahaha –” Bukan maksud saya untuk bersikap ‘nakal’, tapi jauh-jauh ke city of freedom masak saya nggak beli kenang-kenangan ‘khas’ Amsterdam! Tapi definisi khas ini rupanya jadi agak kelewatan sih. Saya nyaris membeli satu pot kecil tanaman ganja lohhh … Banyaknya ‘coffee shop‘ alias kedai ganja yang pating tlecek di kota ini bikin saya lupa sama sekali kalau ganja dilarang di Indonesia. Untungnya saya segera ingat sehingga sekarang tidak perlu ngeblog dengan judul Dari Belanda ke Penjara +_+

Karena Euro semakin menipis dan belanjaan mulai membebani, saya memutuskan untuk pulang ke hostel dan segera beristirahat saja agar besok tidak ketinggalan pesawat. Dua teman sekamar saya masih tidak ada di kamar, tetapi rupanya tadi sempat ada yang pulang karena saya menemukan sesuatu yang mencolok yang saya yakin tadi tidak ada: celana dalam warna oranye ngejreng bekas dipakai yang dengan wagu-nya semampir di atas lemari.

Meskipun pada awalnya terbengong-bengong, saya segera menyadari sesuatu. Ah iya, city of freedom!
2

USS’11 – C 43

Selamat dini hari dari Nogosaren Lor!

Ke mana saja selama ini, Titish??? Huhuhu, maafkeun sudah lama menghilang tanpa kabar. Jujur, selama summer school saya cukup kesulitan mencari waktu untuk menulis karena aktivitas lumayan padat. Begitu ada waktu (semasa extend di Brussels & Paris), giliran internet yang susah dicari. Berhubung sudah pulang ke Indonesia lagi dengan keleluasaan waktu & koneksi, juga sudah Idul Fitri (hubungannya??), saya usahakan akan mulai rajin menulis lagi. Mumpung ingatan-ingatan akan berbagai peristiwa di sana juga masih menempel di kepala ๐Ÿ™‚

Utopian vs Dystopian

Karena sudah menyinggung padatnya aktivitas summer school di sana, blog ini akan mulai saya tulisi lagi dengan cerita mengenai kelas yang saya ambil, Dutch Culture: Society & Current Issues. Hari pertama dimulai dengan gambaran umum perspektif masyarakat internasional terhadap negara Belanda. Berhubung kelas internasional, Maarten–sang instruktur–tinggal menanyai kami yang berasal dari negara yang berbeda-beda ini secara acak mengenai apa yang kami pikirkan pertama kali tentang Belanda. Tulip, cheese, Gay Parade, windmill, Red Light District adalah beberapa jawaban yang terkumpul dari sekian banyak sudut pandang negara. Jawaban yang bermacam-macam itu rupanya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hal-hal yang terdengar baik dan menyenangkan (utopian) dan hal-hal yang terkesan buruk dan jelek (dystopian). Dari koleksi kartu pos Belanda saya berikut pun seharusnya saya sudah bisa melihat hal ini:

international image (utopian)

vs

international image (dystopian)
Dengan materi-materi yang secara padat disampaikan selama dua minggu, kami, peserta kelas berkode C 43 yang hampir semuanya merupakan non-Dutch ini jadi lebih memahami Belanda dan berbagai aspeknya: mulai dari love-and-hate-relationship mereka dengan air, kecintaan mereka akan keluarga kerajaan yang sebenarnya nyaris tidak punya kekuasaan, seluk-beluk nasib imigran dan kedudukan Islam di sana,dan tentunya tak lupa membahas lebih mendalam akan sikap permisif mereka terhadap berbagai ethical issue (drugs, prostitution, euthanasia, abortion, same-sex marriage) yang berdampak langsung terhadap pandangan buruk masyarakat internasional kepada negara mereka (dystopian image) tersebut. Mereka berprinsip bahwa daripada berbagai ethical issue itu disikapi oleh masyarakat secara tidak bijak, lebih baik pemerintah turut mengatur dalam bentuk legalisasi yang bertanggung jawab. Forbidden fruits will be eaten anyway.

Photo courtesy of Inne Ongkodjojo

Liburan Berkedok Summer School

No matter what country you are from, you are bound to experience a culture shock. It is as simple as that. In general students will go through three phases: the so-called honeymoon phase, the I-hate-this-country phase and finally the adjustment phase. During the first phase you will probably like and feel excited about everything you see, hear and experience while in the second phase things might suddenly start to annoy you. By that time you might be feeling homesick, you might be missing your home country, family and friends. During the third phase you will acknowledge the cultural differences and see the benefits of living in the Netherlands. At the same time you will hopefully be able to look upon any downsides more objectively. During this phase students are usually better able to reflect on their own cultures (Your Practical Guide to Living in Holland, p.2).

buku imut pemberian NESO

Kalau dihubungkan dengan teori-tiga-fase yang ada di buku yang saya khatamkan ketika menunggu kereta di Stasiun Gambir lebih dari sebulan yang lalu di atas, mengikuti USS ini rasanya seperti mendapat kesempatan untuk merasakan pendidikan di Belanda dengan cara curang. Kenapa curang? Karena masa belajar yang amat singkat sama artinya dengan kegiatan serbapadat, memanfaatkan waktu setiap detiknya untuk mengeksplorasi negara ini sebaik-baiknya. Setiap hari berasa liburan karena rasanya seperti turis yang mendatangi berbagai tempat baru untuk mencoba hal-hal baru. Dua minggu keberadaan saya di sana isinya honeymoon phase semua dan begitu masa summer school saya sudah habis, saya pergi tanpa sempat mengalami I-hate-this-country phase. Belum sempat memasuki masa bersusah-susah saya keburu pulang! ๐Ÿ™‚ Curang, bukan? ๐Ÿ˜€ Tidak seperti program bachelor atau master, summer school memang dirancang untuk ‘memanjakan’ para pesertanya. Di USS, misalnya, nyaris setiap hari selalu ada social program yang difasilitasi, seperti ekskursi ke berbagai kota di Belanda, cycling tour, schavenger hunt, poker night, sailing, night canoeing, traditional Dutch picnic, salsa workshop (!), dan masih banyak social program lainnya yang semakin membuat kita bingung “ini kita lagi sekolah atau liburan sih?” :p

Janskerkhof 30, summer school office
Utrecht Summer School merupakan summer school TERBESAR di Eropa yang berdiri pada 1987 sehingga USS tahun 2011 yang saya ikuti kemarin adalah USS yang ke-25! Memang kerasa sih kalau penyelenggaranya sudah berpengalaman. Para staf yang ngantor di Janskerkhof 30 sangat suabaarr menghadapi saya yang sering merepotkan: mengurusi refund social program yang jadwalnya bentrok, mengganti coupon booklet lama saya yang sobek-sobek kena tumpahan air mineral dengan yang baru, dan jasa terbesar adalah tempat penitipan koper berhari-hari yang AMAN dan GRATIS selama saya liburan ke Brussels dan Paris! Sepulangnya ke Indonesia pun saya masih rewel via email meralat alamat pengiriman transkip nilai dan responsnya … whuzz whuzz whuzz … amat memuaskan.

free entrance museum, discount, etc & yg langsung berguna pada hari pertama: simcard Lebara!

A Goal is a Dream with a Deadline

Mencicipi pendidikan di Belanda dalam waktu singkat membuat saya ingin belajar di sana lagi dalam waktu yang lebih lama. Sekilas mengunjungi Belgia dan Perancis membuat saya semakin yakin untuk tidak berpindah ke negara lain. Yap, meskipun rencana awal saya untuk mengambil master di Belanda melalui HSP gagal karena beasiswa tersebut keburu ditiadakan, mimpi untuk melanjutkan master di sana itu masih ada. Ada yang mau berjuang bersama saya? Yuk, mulai bergerak sekarang juga. Langkah pertama yang tepat untuk semakin mendekatkan diri dengan Belanda menurut saya adalah berkonsultasi dengan NESO Indonesia! ๐Ÿ™‚
0

Fun Facts about Utrecht (1): Rietveld Schrรถder House

Oke, kurang adil rasanya saya menyebut-nyebut lebih suka Leiden daripada Utrecht tanpa mengeksplorasi Utrecht terlebih dahulu. Oleh karena itu, saya akan mencoba menulis beberapa hal menarik yang saya temui di Utrecht. Berhubung saya harus segera mengerjakan tugas kedua yang ditumpuk besok, rasanya bagian Fun Facts about Utrecht ini harus saya tulis dalam bentuk serial. Enjoy the first part! ๐Ÿ™‚

***

Tugas pertama yang harus kami lakukan tidak hanya cukup dengan berjalan-jalan, kami juga harus mempresentasikannya di kelas. Dalam rangka mengerjakan slide presentasi tersebut, kami berkumpul di asrama Nicola & Gabriella: University College Utrecht. Mereka selalu berjalan dari asrama ke kampus (kawasan Drift) vice versa jadi ‘katanya’ sih dekat sehingga saya oke2 saja diajak berjalan kaki rame-rame, tapi ternyata … jarak itu memang relatif ya -_-” Untungnya setelah melewati pinggir pertokoan yang seakan tak kunjung usai, kami segera didinginkan dengan pemandangan Wilhelmina Park yang menenangkan ….

(skyskrapercity.com)

Begitu Wilhelmina Park terlewati, kami menyusuri jalan bernama Prins Hendriklaan dan Nicola kemudian bercerita tentang salah satu bangunan di jalan ini yang masuk ke dalam daftar World Heritage Sites – Unesco. Sambil terus berjalan saya dan Emily disuruh menebak bangunan yang manakah itu? Pada awalnya itu tebakan yang sulit karena sepanjang jalan itu berisi rumah-rumah antik nan cantik yang rasanya pantas-pantas saja masuk daftar WHS itu. Kemudian tebakan menjadi lebih mudah ketika ada cukup banyak orang berfoto-foto di depan rumah di ujung jalan. Rumahnya kayak apa justru belum kelihatan, tapi Nicola mengiyakan ketika saya dan Emily menunjuk bangunan di ujung jalan itu (berdasarkan adanya kerumunan orang). Siapa sangka setelah dilihat lebih lanjut rumahnya ‘cuma’ kayak gini???
Rietveld Schrรถder House
Come on, Belanda cuma punya 9 Unesco WHS (hasil googling kemudian) dan salah satunya ‘cuma’ kayak gini?? xD Setelah Nicola menjelaskan bahwa itu dibangun di tahun 1920-an (sliding walls in 1924!), saya pikir itu mulai masuk akal. Tapi kalau mau jujur, saya lebih terkesima dengan asramanya si Nicola daripada dengan si Rietveld Schrรถder House. Ini dia bentuknya …

Bandingkan dengan asrama saya! Ngeces2 saya+Emily melihatnya x)
1

Maen ke Leiden

Sebenarnya summer school ini akan lebih sempurna tanpa tugas dan ujian. Total ada 2 tugas dan 1 ujian akhir yang harus dilalui di sini. Untungnya tugas pertama bisa dibilang sangat menyenangkan: JALAN-JALAN! ๐Ÿ˜€

You will be divided into groups of 3–4 students. With your group, visit one of the Dutch cities on the list below. Walk around the city centre and visit the museum. If possible, make pictures.

Dengan pilihan Alkmaar, Delft, Den Bosch, Enkhuizen, Rotterdam, Haarlem, dan Leiden, saya sudah tahu akan memilih apa …

LEIDEN!
Masih ingat kan tentang doktrinasi dosen bahasa Belanda saya tentang mahasiswa Ilmu Budaya yang harus pernah menuntut ilmu sampai ke Utrecht dan Leiden? Berhubung sudah pernah merasakan sekolah di Utrecht, paling tidak saya harus menjejakkan kaki di Leiden. Saya ke sana bersama tiga orang lain: Nicola & Gabriella dari Italia (they’re couple!) serta Emily dari Taiwan yang juga sekolah di USS bersama pacarnya (kelompok lain). Ckck, pacaran mereka edukatif sekali ya? ๐Ÿ˜€

Friendly adalah kesan pertama yang saya dapat dari Leiden. Saya suka dengan tata kotanya yang meletakkan Visitor Centre persis di gedung sebelah pintu keluar Leiden Centraal Station. One day tripper seperti kami berempat jadi punya pedoman yang jelas harus ke mana begitu keluar dari stasiun kereta. Euh, saya malah tidak tahu di mana letak Visitor Centre Utrecht ๐Ÿ˜

peta antinyasar yang diambil dari Visitor Centre Leiden

Berhubung agak mendung, kami memutuskan untuk putar-putar kota dulu baru masuk ke museum (mumpung belum hujan). Pilihan yang tidak begitu tepat sebenarnya karena di museum terakhir saya hanya punya waktu sekitar satu setengah jam untuk berkeliling di sebuah museum buesar bertarif 9 Euro, hiks (every second counts!). Bangunan pertama yang kami kunjungi di sini adalah De Burcht, benteng yang dibangun di atas bukit buatan yang di masa sekarang digunakan sebagai gardu pandang ke penjuru Kota Leiden.

Pintu masuk De Burcht (leiden-omslag.blogspot.com)

Dari De Burcht kami berkeliling di sekitar Pieterskerk, Latin School (sekolahnya Rembrandt), dan The American Pilgrim Museum serta memasuki dua museum: Stedelijk Museum De Lakenhal dan Rijksmuseum van Oudheden.

Pieterskerk

Latin School

The American Pilgrim Museum

The Museums
Karena sedang banyak renovasi, masuk ke Stedelijk Museum De Lakenhal ini gratis (asyik!). Koleksinya kebanyakan lukisan-lukisan Rembrandt & murid-muridnya, serta sejarah Leiden dan tekstilnya. Di sini memotret koleksi museum sama sekali tidak diperbolehkan.

Stedelijk Museum De Lakenhal
Sedangkan untuk masuk Rijksmuseum van Oudheden saya harus membayar 9 Euro (yang sudah saya ceritakan tadi). Andaikan saya nggak kelupaan bawa student card sebenarnya bisa jadi bayar 5,5 Euro saja (argh!). Konon mahasiswa arkeologi malah bisa masuk gratis ke sini. Kenapa? Karena museum ini memang museumnya Universitas Leiden yang mengkhususkan diri pada arkeologi. Dengan satu setengah jam yang tersisa, jujur, susah sekali rasanya memperhatikan benar-benar kesemua koleksi dari Mesir, Roman, Yunani, Timur-Tengah, dan Belanda tempo doeloe yang buanyaak sekali itu. Yang saya suka dari museum ini adalah banyaknya media penunjang yang dapat ditemukan di pojok-pojok museum seperti ini …

Boleh foto-foto, tapi tanpa flash

Selain mengunjungi museum saya juga mampir ke Universitas Leiden dan membeli beberapa souvenir di situ. Universitas Leiden merupakan universitas tertua di Belanda (1575). Konon setelah berhasil mengusir tentara Spanyol dari Leiden, rakyat Leiden diberi dua pilihan hadiah dari William van Oranje: dibebaskan dari pajak atau dibikinin universitas. Dan inilah pilihan rakyat Leiden …

Leiden University – Academy Building ๐Ÿ™‚

buying souvenirs = one step closer to be a Leiden University student :p

Dan tibalah saatnya kami harus pulang. Kami berempat setuju lebih suka Leiden daripada Utrecht :p Kotanya cantik, kecil, ke mana-mana terjangkau. Di sini burung juga kesannya lebih banyak. Sampai-sampai waktu jalan-jalan kami papasan dengan seseorang yang baru saja kejatuhan eek si burung. Ouchhh, kami nyaris kena.

Bye-bye, Leiden ….