1

There’s A Conspiracy Against Me in Brussels

Ups, sementara rekan summer school saya sudah bisa bercerita sampai Swiss dan bahkan sudah kembali ke Belanda lagi, saya baru akan bercerita tentang …
Senangnya ikut summer school hadiah dari NESO kemarin adalah saya dan Geges bebas menentukan mau pulang kapan. Pihak NESO tinggal menyesuaikan pemesanan tiket pesawat sesuai keinginan kami: 17 Agustus untuk saya dan 24 Agustus untuk Geges. Yap, dengan beberapa pertimbangan saya memang memutuskan untuk tidak berlama-lama extend di sana. Toh buat saya lima hari sudah cukup karena sebenarnya satu-satunya kota yang ingin dan harus saya sambangi sewaktu mumpung-sudah-di-Eropa kemarin cuma Paris. Saya harus mampir tiduran di atas rumput Paris sambil nontoni Eiffel. Titik.
Berhubung saya berencana menggunakan Thalys dan kalau dari Belanda mau ke Paris lewat Belgia, saya pun memutuskan untuk mampir barang sehari di ibukotanya: Brussels. Sebatas itu sajalah fungsi Brussels bagi saya: kota transit. Karena merupakan kota iseng-iseng itulah saya pun menyepelekan persiapan ke sana. Survei yang saya lakukan sebatas browsing hostel dan peta. Saya semakin menyepelekan sewaktu saya nemu peta Brussels yang cukup mencerahkan di sebuah website unyu. “Brussels kecil kok, ke mana-mana bisa jalan kaki katanya. Gampang lah nanti,” pikir saya waktu itu. Begitu tiket kereta sudah dipesan dan booking hostel sudah dilakukan, barulah saya sedikit melakukan survei lagi dan tiba pada sebuah artikel di internet yang berjudul … jreng jreng jreng

Brussels: Most Boring City in Europe

Zzzzzz… Dari begitu banyak pilihan kota di Eropa kenapa juga kota yang mau saya kunjungi justru kota yang menurut survei paling membosankan? Hahaha *ketawa datar* Sebenarnya saya nggak masalah sih Brussels ini kota yang kayak apa, motivasi awal saya toh cuma menjadikan Brussels sebagai kota transit, jalan-jalan sedikit, kalau capek ya tidur. Masalahnya saya ke Brussels bersama Geges dan bisa dibilang Geges ke Brussels karena saya. Saya jadi semacam bertanggung jawab atas menarik tidaknya kota ini dan merasa bersalah begitu tahu kalau ternyata kota ini tidak begitu menjanjikan :-S Ketidakmenarikan kota ini bahkan sudah diiyakan oleh Geges melalui blognya :p Karena sudah tahu dari awal bahwa Brussels kota membosankan, saya jadi tidak terlalu berharap banyak dari kota ini. Kadang dengan mempersiapkan ekspektasi yang serendah-rendahnya, seseorang jadi bisa lebih menikmati sesuatu yang akan dihadapinya. Sayangnya masalah ekspektasi-serendah-rendahnya itu pun tidak banyak membantu. Cukup banyak kejadian yang tidak mengenakkan terjadi di Brussels, misalnya:
1. Dalam rangka mencari metro, saya dan Geges keluar dari Gare du Midi dan baru beberapa detik berjalan … terciumlah bau pesing! Menurut saya apa yang berada di sekitar stasiun sangat penting. Apa yang dilihat, dicium, didengar, dan dirasakan pertama kali begitu datang di sebuah kota baru sangat berpengaruh untuk membentuk keseluruhan kesan kota tersebut. Visitor Centre tepat di luar stasiun Leiden Centraal memberikan kesan tourist friendly. Bau pesing yang tercium tepat di luar Gare du Midi? -_-“
2. Masih dalam rangka mencari metro, saya dan Geges menunggu di pinggir sebuah pemberhentian di luar Gare du Midi. Ini pun atas petunjuk dari seseorang berseragam yang sempat kami tanyai. Di sini kami celingak-celinguk cukup lama. Segala peta dan petunjuk yang ada di papan tidak mencerahkan, mau mengambil kendaraan yang mana dan ke arah mana saja kami tidak tahu. Beberapa kali bertanya kepada orang sekitar juga sama sekali tidak membantu. Akhirnya saya mengalami sendiri apa yang saya sebut-sebut di artikel kompetiblog saya. Nanyanya pake bahasa apa, jawabnya pake bahasa apa. Bahkan ini saya belum sampai di Perancis -_-” Intinya kami kebingungan dan frustrasi. Kami sempat berjalan menjauhi Gare du Midi, kesasar, dan memutuskan untuk kembali lagi. Saya sampai sms2 minta bantuan ke si pacar di Sydney sana. Jauh amat minta bantuannya ya? Hahaha, namanya juga frustrasiii. Sama-sama capek dan bete bikin suasana antara saya dan Geges jadi agak nggak enak. Yak, selama dua minggu summer school hahahihi bersama tidak ada konflik apa-apa, begitu sampai di Brussels kami langsung ‘sedikit berantem’ :p Oh ya, dan ternyata yang namanya metro itu pemberhentiannya masih ada di dalam kawasan Gare du Midi. Jadi dari tadi saya dan Geges ke luar stasiun berjam-jam itu ternyata sia-sia belaka -_-“
Peta Brussels metro
3. Setelah keluar dari bencana kesasar dan berhasil menemukan hostel, kami leyeh-leyeh cukup lama untuk meredakan frustrasi. Pukul 6 kami sudah ada janji dengan Mirim, Chloe, dan Ben, teman-teman USS yang juga sedang ada di Brussels, untuk bertemu di Starbucks Gare Centrale. Ben yang sudah lebih lama bermalam di Brussels otomatis menjadi pemandu kami. Sebagai satu-satunya cowok di kelompok kami, dia membuktikan teori man, spatial ability & sense of direction-nya dengan sebentar-sebentar bilang this way … this way… sambil melangkahkan kaki tanpa ragu di jalanan Brussels yang menurut saya membosankan mirip satu sama lain: jalan sempit dikelilingi gedung-gedung tua nan tinggi & rawan bikin kesasar. Objek wisata yang ditawarkan Brussels pun menurut saya tidak terlalu menarik. Bagi saya Grand Place (Grote Markt), maaf, biasa saja :p Manneken Pis yang jadi simbol kebanggaan kota ini pun tidak terlalu mengesankan. Saya sudah mendengar sih kalau banyak yang kecele dengan ukurannya, tetapi saya juga nggak menyangka kalau Manneken Pis memang sekecil ‘itu’ :p
overrated size Manneken Pis (wikipedia.org)
Jeanneke Pis (1985), a counterpoint in gender terms to Manneken Pis (bruselas.net)
yaestaellista.com
4. Puas melihat-lihat Grand Place, kami memutuskan untuk makan malam di gang sekitar Grand Place. Kebingungan memilih restoran yang menawarkan menu yang mirip-mirip, kami akhirnya memilih sebuah restoran yang menawarkan paket dengan harga paling terjangkau: 12 Euro/paket komplet dari appetizer, main course, dessert, sampai minuman. Meskipun berlima kami hanya memesan tiga paket dan sepertinya itu pilihan yang salah karena selama memesan dan makan kok kami jadi dilayani dengan tidak begitu baik: pelayan yang tak segera mengerti apa pesanan kami, pesanan yang tak kunjung datang, begitu pesanan datang pun pelayan menyampaikan dengan cara yang tidak begitu menyenangkan–sedikit menggebrak meja, senggal-senggol alat makan, dan tanpa senyum atau sekadar berbasa-basi mengucapkan smakelijk eten/bon appetit. Kami berlima sampai menelaah lebih lanjut kenapa kami diperlakukan seperti ini. Apakah karena: (a) Kami berlima tapi kok cuma memesan tiga paket, (b) Kami orang Asia, rrrr atau (c) Memang budaya mereka tidak menempatkan pembeli sebagai raja. Yang mana pun jawabannya, kesan dari restoran itu cuma satu: marmos. Marai emosi :-S
Semarmos apa pun Kota Brussels untunglah ada beberapa fakta kecil yang sedikit memberikan poin positif, misalnya:
1. Makanan di sini enak-enak, lebih cocok di lidah saya daripada yang ada di Belanda :p Waffle-nya (1,8 Euro) hangat dan lezat, manisnya pas. Cokelatnya juga enak, manisnya lain, nggak bikin eneg. Konon cokelat Belgia adalah cokelat terlezat di dunia, satu peringkat di atas cokelat Swiss. Hidangan dari restoran menyebalkan itu pun sebenarnya enak-enak. Sayangnya saya kelupaan nggak ngicip kentang goreng di sini :-S
The most delicious chocolate in the world?
2. Harga kartu pos di sini paling murah dibandingkan dengan di Belanda dan Perancis! Ini jelas poin penting bagi kolektor kartu pos kayak saya :p Saya sudah bisa membawa 12 kartu pos hanya dengan membayar 3 Euro, hampir sama dengan harga kartu pos di Indonesia. Di Belanda dan Perancis, dengan 3 Euro saya hanya dapat sekitar 3 kartu pos saja :-S Selain murah, beberapa kartu pos di Brussels juga bertema, mmmm … ‘unik’ 😐
3. Beruntung kami mendapatkan hostel yang sangat nyaman. Letaknya cukup strategis (dekat Stasiun Rogier). Dengan membayar 33 Euro per orang per malam, kami mendapatkan kamar twin private yang nyaman lengkap dengan kamar mandi yang cukup luas dan bersih. Sesuai namanya, Sleep Well, saya bisa tidur nyenyak di hostel ini baik saat siang (istirahat sebelum bertemu Mirim dkk.) maupun malam. Para pegawainya baek2 dan yang paling saya suka dari hostel ini adalah: ADA LIFT! (Fasilitas yang bakal saya rindukan di hostel-hostel saya selanjutnya -_-“) Paginya kami juga mendapat sarapan yang enak sebagai bekal kekuatan untuk melanjutkan perjalanan ke Paris.
Sleep Well Hostel
Check out dari hostel dengan perut kenyang keesokan harinya membuat suasana hati saya cukup membaik. Rasanya Brussels nggak jelek-jelek amat lah. Dengan langkah ringan saya berjalan dari hostel ke Stasiun Rogier untuk selanjutnya menaiki metro tujuan Gare du Midi dan dari sana lanjut naik Thalys ke Kota Paris. Memasuki lorong Stasiun Roger yang kusam, semrawut dengan kabel dan bahan bangunan berserakan sehingga memberi kesan ‘belum jadi’ membuat suasana hati saya mulai berubah. Dan puncaknya adalah sewaktu … ciittt ciittt kress
OH.
MY.
GOD.
Sepatu saya nginjek tikuuuuusssssssssssss!! Saya langsung teriak histeris dan lari terjijik-jijik. Dua orang cewek yang lagi jalan di situ plus Geges sampai kebingungan saya itu kenapa. Melihat sedikit noda darah di sepatu saya, saya jadi kasihan sama si tikus. Biasanya saya tipe orang yang nggak tegaan sama hewan, tapi untuk kali itu nggak ngerti deh nasib tikus yang lagi jalan-jalan santai kemudian saya injek itu gimana. Saya nggak berani nengokin. Maaf ya, Kus T_T Dan untuk kamu, Brussels, sepertinya saya trauma mengunjungimu lagi. Kamu sudah tidak tertolong. There must be something wrong with youuuu x(
Really? -_-“