3

Fun Facts about Utrecht (2): Miffy

Entah kenapa saya jarang menggunakan foto profil dengan foto muka sendiri di berbagai akun di internet. Kalau nggak foto objek lain ya foto diri sendiri, tapi tampak belakang :)) Konon yang begini ini pertanda ketidak-PD-an seseorang, hahaha. Saya nggak ambil pusing dengan hipotesis seperti itu karena buat saya ini cuma masalah kebiasaan.
Begitu pula sewaktu saya mendaftar Kompetiblog 2011 dan ‘disunahkan’ untuk mengunggah foto profil di web. Tidak ingin repot, saya memilih calon foto profil saya dari file berisi ratusan koleksi kartu pos saya dan akhirnya pilihan saya jatuh pada kartu pos bergambar kelinci berikut …
Pertimbangan saya waktu itu adalah sekadar memilih kartu pos yang sekiranya lucu, begitu coba diunggah tampak manis di web tersebut, ya sudah.

Masalah foto profil ini pun segera terlupakan karena masih banyak hal yang jauuh lebih penting: belum tau mau menulis tentang apa, lanjut proses penulisan dan penyuntingan, lanjut deg-degan menunggu pengumuman, lanjut riweuh persiapan sebelum keberangkatan, lanjut sibuk belajar dan mengerjakan tugas summer course, dan seterusnya.

Masalah ini akhirnya mengemuka lagi pada suatu sore, saat saya berkesempatan JJS keliling Utrecht bersama Bu Kiki, dosen UI yang mengambil studi doktoral di Utrecht Universiteit dan berbaik hati memandu saya menjelajahi kota ini. Sewaktu jalan-jalan di sekitaran Oudegracht, saya melihat sebuah toko yang tampak memajang souvenir keramik berwarna biru yang merupakan oleh-oleh khas Delft. Sebuah pertanyaan pun terucap dari mulut saya:

“Kalau dari Utrecht oleh-oleh khasnya apa ya, Bu?”

Bu Kiki tampak berpikir sebentar kemudian mengajak saya lanjut berjalan sambil menjelaskan tentang sebuah karakter kartun yang diciptakan oleh seorang kartunis kelahiran Utrecht. Menurut beliau, karakter kartun tersebut merupakan karakter kesayangan sekaligus kebanggaan Utrecht. Kalau mau beli oleh-oleh khas Utrecht ya belilah pernak-pernik bergambar karakter tersebut!
Bu Kiki kemudian berhenti di sebuah toko dan menunjuk ke arah sederet kartu pos yang dipajang dengan gambar-gambar karakter yang dimaksud tersebut ….
(eneryvibes.wordpress.com)
Loh, kok si foto profil???
Ckck… Mana saya tahu kalau si kelinci lucu, yang saya pilih dari ratusan gambar yang lain untuk foto profil saya dulu, ternyata adalah kelinci kesayangan warga Utrecht. Dengan memajang gambar Miffy, nama si kelinci itu, saya seakan diam-diam menitipkan doa agar saya benar-benar dapat dikirim ke kota asal si kelinci tersebut. Bagi saya ini sebuah kebetulan yang indah 🙂
*
Miffy atau Nijntje (singkatan dari konijntje yang berarti ‘kelinci kecil’) adalah karakter ciptaan Dick Bruna, seorang kartunis kelahiran Utrecht. Karakter ini lahir pada tahun 1955 dengan ciri khas gaya yang minimalis: goresan garis yang sederhana dan penggunaan warna yang tidak banyak. Warga Utrecht sendiri memang sayaaangg sekali sama si Miffy ini. Ada banyak bentuk penghormatan terhadap Dick Bruna dan Miffy, antara lain:
1. Dick Bruna Huis @ Agnietenstraat 3
Tampak luar (oranjeflamingo.wordpress.com)
Tampak dalam (flickriver.com)
2. Nijntjepleintje @ Oudegracht – Van Asch of Wijckskade
(learningdutchatstevenson.blogspot.com)
Little Miffy Square, lengkap dengan patung Miffy (panoramio.com)
3. Miffy Traffic Light @ Lange Viestraat – Sint Jocobsstraat
Miffy Traffic Light (oddee.com)
*
Nah, sekarang, coba bayangkan kalau si Miffy ini bukan kelinci, tetapi kucing! Sosok apa yang bakal kalian ingat?
Iyes, si Hello Kitty!
Kucing Jepang keluaran Sanrio ini lahir tahun 1974, 19 tahun setelah Miffy lahir, tapi lucunya justru banyak yang menyebut si Miffy ini “Hello Kitty-esque rabbit”! Seakan si Hello Kitty ini belum cukup mirip dengan Miffy, dua tahun kemudian muncul teman Hello Kitty yang berupa kelinci bernama Cathy.
(ipkitten.blogspot.com)
Pada wawancaranya dengan The Daily Telegraph tahun 2008, Dick Bruna mengungkapkan ketidaksukaannya pada Hello Kitty. Menurutnya, Hello Kitty jelas meniru Miffy! Ketidaksukaan Dick Bruna ini jadi ‘lucu’ jika melihat bahwa sebenarnya Dick Bruna juga sempat dituduh hal serupa, yaitu tuduhan bahwa Miffy meniru Musti, karakter kucing dari Belgia yang lahir tahun 1945, 10 tahun sebelum Miffy lahir.
Jadi, kronologis tuduh-menuduh peniruan karakter ini memang agak rumit, pemirsa …
kucing Belgia – kelinci Belanda – kucing Jepang – kelinci Jepang 
(lille-art.com)
Terlepas dari keterlibatan Musti, pada November 2010 pengadilan Belanda menganggap Cathy terlalu mirip dengan Miffy dan menuntut Sanrio untuk menghentikan penjualan karakter Cathy di kawasan Belanda, Belgia, dan Luxemburg atau membayar denda. Sanrio mengajukan banding dan solusi justru datang dari sebuah bencana pada Maret 2011: tsunami di Jepang.
Bentuk dukacita dari Dick Bruna untuk Jepang
Mereka sepakat untuk berdamai. Sanrio setuju untuk tidak akan menggunakan karakter Cathy lagi dan alih-alih mempermasalahkan uang lewat jalur hukum, kedua belah pihak memutuskan untuk menyumbang korban tsunami sebesar 150 ribu Euro. Benar-benar akhir yang melegakan ya 🙂
Berpelukaaaaaan
Logo yang dibuat Dick Bruna untuk sebuah yayasan perdamaian
0

Kanal-Kanal Saksi Kenakalan

Beberapa hari sebelum terbang ke Belanda, saya menulis komentar sok asyik nan kontradiktif di grup Facebook teman-teman seangkatan, terkait dengan keberangkatan saya ke sana:

Ramadhan nanti akan ada cewek berjilbab jalan-jalan di red light district, nontoni cewek-cewek telanjang dipajang, berbuka puasa dengan ganja & beli oleh-oleh buat kalian di museum seks!

Komentar di atas jelas cuma komentar ngasal dari orang non-Belanda yang sedang membicarakan negara tersebut dari sudut pandang dystopian. Karena cuma nulis ngawur, mana saya sangka kalau sebenarnya saya punya kesempatan besar untuk benar-benar merealisasikan ‘bualan’ tersebut.
*

Hari-hari terakhir berada di Eropa saya menginap di Amsterdam, di sebuah hostel bernama St. Christopher’s at The Winston yang saya booking jauh-jauh hari sewaktu masih di Indonesia. Saya memilih hostel tersebut semata-mata atas pertimbangan menghindari adegan berlama-lama menyeret koper. Dengan kata lain, saya mencari hostel yang lokasinya dekat dengan Amsterdam Centraal. Bodohnya, lagi-lagi karena meremehkan riset, saya baru tahu kalau hostel saya ini juga dekat dengan kawasan Red Light District, begitu sudah pulang ke Tanah Air! Pantesan sewaktu check in saya disambut oleh si mas2 yang jaga di meja resepsionis dengan tatapan kamu-ngapain-bisa-sampai-di-sini-sendirian-wahai-cewek-berjilbab-dengan-tampang-alim?

Meskipun tidak datang bersama siapapun, saya mengambil kamar berjudul 4 bed female dorm yang berarti saya akan punya 3 teman sekamar yang benar-benar tidak dikenal. Bagian harus sekamar dengan orang asing ini sempat bikin saya pikir-pikir cukup lama karena agak parno dengan masalah keamanan, kenyamanan, dll. Tapi kalau tidak dicoba, entah kapan lagi saya bisa mencicipi bagaimana rasanya menginap di hostel dengan tipe kamar dormitory ini. Model kamar beginian kan nggak ngetrend di Indonesia. Lagipula kalau mau ambil private room … duitnye dari maneeee? Akhirnya dengan banyak doa, saya niatkan ambil kamar dormitory. Asal tidak mengambil tipe mixed dorm alias campur cewek-cowok *wewww*, insya Allah aman. Bismillah.

St. Christopher’s at The Winston (hostelclub.com)

Insiden kereta penuh air mata di Paris sebelumnya otomatis membuyarkan jadwal traveling solo saya di Amsterdam. Prediksi indah saya adalah saya akan tiba di Amsterdam cukup pagi untuk kemudian menyempatkan diri jalan-jalan ke Volendam atau Delft. Ini pilihan yang sulit karena kota yang pertama adalah semacam kota wajib-kunjung-turis sementara kota yang terakhir murni iming-iming dari Geges. Rupanya saya tidak perlu repot-repot memilih karena saya sampai di Amsterdam sudah siang, mood berantakan, sementara koper saya saja masih teronggok manis nun jauh di Utrecht sana. Ngokk.

Sepulang dari Utrecht untuk mengambil koper, saya segera ke hostel dan diantarkan ke sebuah kamar di lantai atas. Sambil menaiki tangga yang curam (untungnya mas resepsionis berbaik hati mengangkat si koper-yang-beratnya-bikin-frustrasi), jujur saya merasa deg-degan menghadapi calon teman-teman sekamar saya. Jangan sampai deh dapat teman sekamar yang nyolongan, rese, atau malah rasis. Kekhawatiran saya rupanya harus tertunda karena 2 ranjang yang tampak sudah ditempati sedang ditinggalkan penghuninya. Dari sisa 2 ranjang yang ada, saya memilih ranjang yang paling dekat dengan jendela. Setelah mandi dan sedikit bebenah koper, tibalah saatnya saya menyesatkan diri di Amsterdam!

Damrak (eveandersson.com)

Berhubung belum beli oleh-oleh sama sekali, saya mengarahkan diri ke Damrak, kawasan di pinggir kanal antara Amsterdam Centraal dan hostel yang saya lihat banyak menjual oleh-oleh. Di sini saya kalap dan nyaris menghabiskan semua Euro yang tersisa dengan membeli oleh-oleh standar seperti gantungan kunci, T-Shirt, dan pajangan. Sedang asyik-asyiknya jalan-jalan sendirian di Damrak, tiba-tiba saya menemukan sebuah bangunan yang ngawe-awe minta dimasuki.

Amsterdam Sex Museum! (eurotrip.com)

Saya benar-benar tidak menyangka museum yang sempat saya sebut di Facebook itu lokasinya sangat dekat dengan lokasi hostel tempat saya menginap. Setelah mempertimbangkan mau-masuk-atau-tidak sambil belanja kartu pos di kios sebelah, saya akhirnya mengurungkan niat untuk masuk. Fakta bahwa saya cewek dan sendirian menyiutkan nyali saya untuk berkeliling di dalam museum bertarif 4 Euro tersebut. Lagipula, sepenasaran apapun, saya semacam punya tanggung jawab moral untuk tidak memasuki museum itu dengan dandanan sealim ini :p

Sebagai penghibur atas batalnya kunjungan ke Amsterdam Sex Museum, saya pun menghadiahi diri saya sendiri dengan oleh-oleh yang ‘lucu’ berupa kartu pos bergambar langka dan …

Agar lebih sopan saya menyebutnya pasta gunting 😐

Berhubung si pacar lebih jago masak daripada saya, sewaktu mudik kemarin dia sempat saya minta memasak si pasta gunting ini. Entahlah cewek macam apa yang meminta pacarnya memasak pasta berbentuk begini, ahaha –” Bukan maksud saya untuk bersikap ‘nakal’, tapi jauh-jauh ke city of freedom masak saya nggak beli kenang-kenangan ‘khas’ Amsterdam! Tapi definisi khas ini rupanya jadi agak kelewatan sih. Saya nyaris membeli satu pot kecil tanaman ganja lohhh … Banyaknya ‘coffee shop‘ alias kedai ganja yang pating tlecek di kota ini bikin saya lupa sama sekali kalau ganja dilarang di Indonesia. Untungnya saya segera ingat sehingga sekarang tidak perlu ngeblog dengan judul Dari Belanda ke Penjara +_+

Karena Euro semakin menipis dan belanjaan mulai membebani, saya memutuskan untuk pulang ke hostel dan segera beristirahat saja agar besok tidak ketinggalan pesawat. Dua teman sekamar saya masih tidak ada di kamar, tetapi rupanya tadi sempat ada yang pulang karena saya menemukan sesuatu yang mencolok yang saya yakin tadi tidak ada: celana dalam warna oranye ngejreng bekas dipakai yang dengan wagu-nya semampir di atas lemari.

Meskipun pada awalnya terbengong-bengong, saya segera menyadari sesuatu. Ah iya, city of freedom!
0

Leaving Paris: Save The Worst for Last

Sekitar dua minggu yang lalu saya tidak sengaja menonton ulang film The Da Vinci Code dan merasa girang karena sekarang lebih familiar dengan lokasi syutingnya *norak*. Beberapa hari kemudian lagi-lagi saya tidak sengaja menonton ulang film lain yang bersetting di Paris, yaitu Mr. Bean’s Holiday. Namun, berbeda dengan The Da Vinci Code yang bikin girang, film yang seharusnya lucu ini justru bikin saya bete sebete-betenya. Semua itu gara-gara satu adegan yang mengingatkan saya pada satu-satunya hal yang ingin saya lupakan dari liburan kemarin di Eropa: adegan Mr. Bean ketinggalan kereta.
Melihat Rowan Atkinson berlari-lari mengejar kereta di Gare du Lyon mengingatkan saya akan rasanya ngos-ngosan setelah lari-lari di sepanjang rel Gare du Nord untuk kemudian mendapati fakta bahwa kereta yang akan membawa saya kembali ke Belanda sudah tidak terkejar lagi. Ya ampuuuunnnn, kejadiannya nyaris sama sehingga saya nontonnya penuh buruk sangka Apa ya Mr. Bean’s Holiday ini khusus dibuat untuk mengece sayaaaawhich is anakronisme karena saya liburan tiga tahun setelah Mr. Bean’s Holiday diproduksi, zzz.  
oyya.tumblr.com

“Keretanya sudah berangkat. Kamu SUDAH telat tiga menit.” Begitu kata petugasnya yang langsung menyadarkan saya bahwa: ini Eropa, Nona! Punctuality-nya bisa bikin orang Indonesia bergidik ngeri. Di Indonesia mungkin saya bisa bilang saya BARU telat tiga menit.

Berhubung tiket Thalys saya tidak fleksibel, ya sudah wasalam. Saya tidak bisa minta ganti. Ingatan akan senang-senang selama dua minggu di Eropa ke belakang seakan lenyap dan digantikan dengan kenyataan menjengkelkan bahwa sekarang saya di Eropa, sendirian, ketinggalan kereta, dan kalau harus beli tiket lagi entah bawa duit cukup atau tidak. Sambil menahan tangis pun saya segera mengantre di loket dan mendapatkan tiket seharga 3,5 kali tiket semula T___________T Sepanjang perjalanan Paris–Amsterdam saya cuma bisa mengelus-elus kursi sambil ngedumel dalam hati “mahal beneeeerrr buat bisa duduk di siniiii”
P.S. Kemarin saya janjian main ke kos teman, sang teman kaget bukan kepalang begitu membuka pintu gerbang dan mendapati saya datang tepat waktu. “Titissshh, aku belum mandiiii. Aku bilang jam sebelas soalnya biasanya kamu nyampe sini juga jam setengah dua belasan.” :))
0

Eiffel, I Miss Him

Hati-hati! Ke kota paling romantis di dunia tanpa didampingi pasangan itu bisa bikin makan ati 😀 Berikut ini top three tempat romantis di Paris yang kemarin sempat saya kunjungi bersama Geges dan suatu hari nanti harus saya kunjungi lagi bersama pasangan. Amin! xD
3. Seine River Sightseeing
Sepulang dari Louvre, hari sudah semakin sore. Dari Jardin des Tuileries saya dan Geges mengarah ke Sungai Seine dan nongkrong di dekat jembatan Passerelle Léopold-Sédar-Senghor *beuh, namanya susahh +_+* Pantulan cahaya matahari di Sungai Seine yang cuantik ditambah dengan alunan musik jazz live rupanya memberikan efek tertentu. Di sini saya mendadak kangen sama si pacar, haha.
2. Paris Love Bridge
Puas thenguk-thenguk di pinggir kali, kami memutuskan segera pulang ke hostel untuk beristirahat dan melewati jembatan bernama susah tadi. Apa yang ada di sepanjang jembatan mulai menarik perhatian kami: love padlocks! Di Paris sendiri rupanya ada tiga jembatan tempat para pasangan “menggembok” cinta mereka, yaitu Passerelle Léopold-Sédar-Senghor, Pont des Arts, dan Pont de l’Archevêché. Di sana ada buanyaaak sekali gembok-gembok unyu bertuliskan sepasang nama. Saya bahkan sempat menemukan nama dua cewek dalam satu gembok :p
Geges kemudian mengusulkan agar saya melakukan hal serupa. Berhubung saya tidak membawa gembok ke mana-mana dan juga tidak membawa spidol permanen untuk melakukan vandalisme terhadap gembok-gembok berbahan logam yang sudah bercokol di sana, akhirnya saya mencari gembok yang ditempeli secarik kertas dan membubuhkan nama saya dan *uhuk2* nama pacar di dekat nama dua orang yang sudah ada di sana, zzzz… Beberapa hari sesudahnya pun saya bercerita kepada pacar dengan mengatakan “dalam hubungan kita sekarang ada empat orang” +_+
1. Eiffel @ Night
Eiffel pada malam hari adalah tempat yang HARUS, WAJIB, dan MUSTI dikunjungi bersama pasangan. Sebelumnya saya hanya tahu kalau Eiffel di saat malam memang dipenuhi lampu-lampu, tapi saya tidak menyangka kalau atraksi lampunya benar-benar cuantiiiiik sekaliiiii! Saya dan Geges sampai terbengong-bengong melihatnya. Atmosfer yang superromantis tersebut bikin saya refleks sms ke pacar bilang saya kangen dan sms balasan darinya adalah …

Kena paris fever ya,hu

0

Paris Day 2: Summer Sesummer-Summernya

Tidak seperti hostel di Brussels yang kami pilih dari hostelworld dengan mudahnya, hostel kami di Paris terpilih setelah melalui proses yang cukup panjang. Mengingat Paris termasuk kota mahal, cukup sulit rasanya memilih hostel memuaskan dengan harga terjangkau. Nemu hostel strategis tapi kok harganya selangit, begitu ada hostel murah eh lha kok jauh dari mana-mana. Urusan memilih akomodasi di Paris ini jadi terpaksa kami endapkan untuk beberapa lama sampai akhirnya benar-benar sudah tidak bisa ditunda lagi penyelesaiannya. Semakin mendekati tanggal keberangkatan, kami akhirnya berhasil menyisakan dua kandidat saja: St. Christopher’s Paris dan Hotel du Commerce.
vs
Kalau boleh jujur, faktor utama saya pengen tinggal di St. Christopher’s Paris adalah lokasinya yang di tepi danau buatan (Bassin de la Villette). Cantik! Tapi akhirnya kami harus berpikir rasional dan mengesampingkan faktor emosional nan romantis tersebut karena meskipun pemandangannya cantik, St. Christopher’s Paris ini letaknya cukup jauh, di timur laut sana. Karena lebih memilih bisa-jalan-jalan-di-seputar-hostel daripada bisa-nonton-danau-dari-jendela-hostel, akhirnya pilihan kami condong ke Hotel du Commerce, hostel seharga 27 Euro per malam yang cukup dekat dengan salah satu objek vital di Paris, Notre Dame Cathedral. Nah, itu buktinya ada hostel strategis dan murah? Ooo, di dunia ini tidak ada yang sempurna, sodara-sodaraaa … Biarpun strategis dan (terkesan) murah, harga segitu tidak termasuk sarapan dan bahkan kamar mandi. Yap, di sini mau mandi pun harus bayar 2 Euro! Rasanya gimanaaa gitu mandi kok bayar sekitar 24 ribu rupiah. Berhubung saya termasuk manusia yang tahan tidak mandi (*ehhhh?), rasanya kekurangan hostel yang satu ini masih bisa ditoleransi. Mumpung sudah tinggal dekat dengan Notre Dame Cathedral, hari kedua kami menyempatkan diri untuk mengunjungi si objek-wisata-tetangga dengan berjalan kaki. Rencananya dari Notre Dame Cathedral kami akan mengunjungi Versaille dan menikmatinya seharian.
Sesampainya di Notre Dame, tampak antrean pengunjung yang sudah mengular di depan pintu gereja. Sembari ikut mengantre, saya segera mengganti alas kaki (dari sandal jepit ke sepatu). Belajar dari pengalaman walking tour kemarin, hari ini saya memang berniat memakai sandal jepit selama perjalanan. Sepatu tetap tersedia di dalam tas dalam rangka berjaga-jaga siapa tahu ada objek wisata yang melarang pengunjungnya memakai sandal jepit. Bete juga kan kalau jauh-jauh sampai Versaille ternyata terkendala hanya gara-gara sandal jepit. Di Notre Dame sendiri tidak ada larangan khusus untuk memakai sandal jepit, saya berinisiatif sendiri saja untuk berganti alas kaki, hitung-hitung menghormati rumah ibadah agama lain.
Sepanjang bagian dalam gereja berlangit-langit supertinggi ini terdapat beberapa bilik-bilik terpisah, lengkap dengan altar dan patung yang berbeda-beda. Saya yang kurang mengerti segera bertanya pada Geges yang pastinya lebih tahu. Sebagai pemeluk agama Islam yang mengunjungi rumah ibadah agama Katolik bersama seorang pemeluk agama Protestan, saya jadi mendapat banyak pengetahuan baru akan perbedaan agama Katolik dan Kristen Protestan. Bilik-bilik tersebut dilengkapi dengan lilin-lilin kecil seharga 2 Euro yang dapat dinyalakan untuk berdoa. Konsepnya seperti kantin kejujuran. Tidak ada yang menjaga lilin-lilin tersebut, tetapi pengunjung tentunya tahu diri untuk memasukkan 2 Euro ke dalam stoples apabila memang mengambil lilin tersebut. Selain lilin kecil seharga 2 Euro ada pula lilin besar seharga 5 Euro yang dimasukkan ke dalam gelas plastik bertutup. Selain digunakan untuk berdoa, take-away-candle ini juga dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Setelah memasukkan 5 Euro ke dalam stoples, saya segera mengambil sebuah lilin dan memasukkannya ke dalam tas.
Rencana semula, kami akan langsung berangkat ke Versaille sekeluarnya dari Notre Dame. Apa daya godaan penjaja souvenir di sepanjang jalan di seputaran Notre Dame membuat kami kewalahan dengan belanjaan dan terpaksa pulang ke hostel dulu. Begini nih untungnya ambil hostel yang dekat. Karena pulang ke hostel lagi sama dengan tersitanya waktu yang seharusnya dialokasikan ke Versaille, kami pun sedikit bergegas menuju metro. Lagi-lagi kami tersesat dan entah bagaimana terdampar sampai di stasiun Invalides dan membaca sebuah pengumuman di ticket office bahwa … jreng jreng … hari itu Versaille tutup. Hahaha, nggak lagi-lagi deh berwisata dengan survei ala kadarnya. Lain kali benar-benar harus mempersiapkan sedetail-detailnya, hufff. Keluar dari stasiun Invalides tanpa ada ide mau berwisata ke mana, akhirnya kami memutuskan untuk walking tour lagi di seputaran stasiun. Bangunan mana yang kelihatan dari stasiun dan kayaknya menarik, ya udah deh itu yang disamperin. Di ujung kiri sana ada Les Invalides dan di kanan ada pasangan Grand Palais dan Petit Palais, faktor cuaca yang superrrpuanass akhirnya menuntun kami untuk memilih objek yang lebih dekat: belok kanan.
Berbeda dengan cuaca di Belanda yang autumn-nearing-winter berkedok summer, cuaca di Paris ini benar-benar summer sesummer-summernya: panas, silau, sumuk, gerah, dst. Sementara Geges masih semangat berjalan-jalan di depan Grand Palais, saya memilih ngeyup di Petit Palais sambil berusaha menelepon si pacar di ujung belahan dunia sana. Puas ngadem, kami melanjutkan perjalanan menuju Musee du Louvre melewati Luxor Obelisk dan masuk melalui Jardin des Tuileries, taman kota yang sangat luas, tempat beratus-ratus orang sedang berjemur. Kami yang berasal dari negara tropis dan bosan dengan sinar matahari setiap harinya hanya bisa berdecak heran melihat pemandangan tersebut. Di Jardin des Tuileries ini jugalah kami sempat melihat seseorang yang kejang-kejang ketika sedang berjemur. Kayaknya sih kena serangan panas. Orang itu segera ditolong dan kami melanjutkan perjalanan sambil merasa tidak enak karena pada awalnya kami dan orang-orang di sekitar mengira dia ini lagi maen teater! +_+ Sesampainya di Louvre kami cuma duduk-duduk sambil ngadem di pinggir kolam yang ternyata kotor penuh sampah :-S
E ya ampuuuun, kirain yang beginian cuma nemu di tanah air!
*to be continued*