0

[DNS #3] Soulmate on the Backstage – Nadia Silvarani

★ ★ ★ ☆ ☆

sotb

Judul: Soulmate on the Backstage
Penulis: Nadia Silvarani
Penerbit: Grasindo
Tebal: 186 hlm
Rilis: 6 Januari 2014
Harga toko: Rp38.000,00
Cara dapat: @ Toga Mas Affandi (25% OFF)

“The best actress jatuh kepada Amelia Larasati dari Sastra Pranciiiiis!”

Suasana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Negeri Indonesia malam ini begitu meriah. Laras, mahasiswi Sastra Prancis berwajah jutek itu, akhirnya menyabet penghargaan. Ia memang pemain teater berbakat.

Di atas penggung teater, Laras yang biasanya pendiam, kurang …berekspresi dan bahkan jutek, bisa berubah 180 derajat. Laras sanggup tertawa, marah, atau sedih dengan begitu sungguh-sungguh.

Namun, saat sang pelatih memintanya memerankan Adeline, seorang permaisuri kerajaan Eropa yang sedang jatuh cinta, Laras pun seolah menjadi anak teater kemarin sore. Aktingnya sangat kaku. Laras tak tahu apa itu jatuh cinta. Sudah sejak lama ia memutuskan tak terlibat perasaan lemah seperti itu. Perasaan itu hanya akan mengingatkannya pada seseorang yang tersimpan begitu dalam di lubuk hatinya, namun jauh dari pandangan matanya. Laras ingin menolak memerankan Adeline, tapi… itu berarti ia akan kehilangan mimpinya pergi ke Paris. Lalu, apa yang harus dilakukan Laras?

Apakah ia menerima peran Adeline dengan konsekuensi hatinya terluka? Atau ia rela melepas impiannya ke Paris?

Kalau bukan karena bisa diikutkan ke dalam challenge-nya Mbak Dinoy, mungkin buku ini masih akan saya timbun lebih lama lagi. Kesan di awal, buku ini memang tidak termasuk tipe buku yang segera saya baca. Pertama, judulnya menurut saya agak cheesy. Kedua, ketebalannya hanya 186 halaman dan saya jarang punya pengalaman bagus dengan buku lokal yang tipis, hehe. Minimal 200-an halaman deh. Kurang dari itu biasanya konflik diselesaikan terburu-buru atau yang lebih parah: “nggak ada ceritanya” 😐

Tapi, ternyata buku ini lumayan lho … Tema utamanya memang cinta, tapi tema sampingannya (keluarga dan passion) sama kuatnya. Setting dunia teater yang diambil terasa bukan sekadar tempelan. Karakter tokohnya juga kuat, nggak sekadar stereotyping. Saya pribadi suka dengan Laras yang tough, Mas Gele yang ajaib, dan terutama sepupu manis nan perhatian kayak Fara :3 Arga yang ngeselin pun nggak bisa saya benci sepenuhnya kok. Somehow saya mengerti kenapa dia bersikap menyebalkan begitu. Oh ya, kalau saya nggak salah ingat, Azka, sang pujaan hati Laras, juga dibilang nggak ganteng-ganteng amat. Dan saya justru suka karakterisasi yang kayak gitu. Bosen ah, sama teenlit yang cowoknya guanteng buanget, juago buasket, blablabla *padahal mah novel saya juga begitu, fufufu -,-*

Belum lama ini saya membaca Pangeran Kertas dan konflik utamanya (keluarga berantakan, teman khayalan, dan cinta pertama) sebenarnya mirip dengan Soulmate on the Backstage ini. Ending yang dipilih oleh dua penulis pun cenderung sama. Ketika membaca novel berkonflik sama dalam waktu berdekatan (kombinasi 3 konflik + penyelesaian sama pula), biasanya saya kurang bisa menikmati novel kedua, tapi Soulmate on the Backstage ini nggak lantas membosankan. Memang ya, mau dengan tema yang sama, penulis yang baik harusnya sih punya cara dan “sentuhan” sendiri-sendiri.

Buku ini saya tutup dengan kesan: cinta pertama memang manis ya, tapi akan lebih manis lagi kalau judul novel ini diganti *teteup* x)

***
Catatan:
1. Hlm. 9

Senyum Fara manis di wajah dekilnya. Sepertinya malam ini ia belum mandi lagi. Ia memang pemalas. Padahal kalau dilihat-lihat, wajah “imut mirip orang Asia”nya cukup memikat.

Saya kok kurang sreg ya dengan penggunaan kata “Asia” di atas. Orang Indonesia pun orang Asia kok, mungkin maksudnya muka oriental gitu kali ya?

2. Nama lengkap Laras ini puanjaaaaang buangeeeet, susah dihafal. Saking susahnya dihafal, penulisnya juga ikutan lupa, hehe. Bandingkan nama lengkap Laras berikut di dua halaman yang berbeda.

(15) Ameliananda ArLarasa Anindya Pramuswari Kirana Putri Abitama Aridipta
(82) Amelia Larasati Anindya Pramuswari Kirana Putri Aridipta

Memang sih, nama lengkap yang di bawah itu nama lengkap yang diingat oleh Azka dan membuat Laras takjub kok ada orang yang ingat nama lengkap dia. Tapi kalau namamu salah diingat harusnya nggak usah takjub dong, Ras! x)

3. Hlm. 20

Sembari melahap sandwich bikinan Mbak Eli, gak perlu, sudah dijelaskan Laras duduk di kursi pojok Stasiun Manggarai untuk menunggu kereta jurusan Depok, tempat kampusnya berada.

Begitu ketemu kalimat di atas, saya musti membacanya sampai berkali-kali. Ketika ada bagian yang dihilangkan … nah, baru ngerti deh maksudnya apa. Bagian apakah itu? Yak, betul. Coba deh hilangkan “gak perlu, sudah dijelaskan”, niscaya kalimat di atas langsung bisa dipahami. Saya kok curiganya ini tuh semacam komentar penyuntingan gitu, tapi pada proses akhirnya malah ikut tercetak.

4. Sebelum membaca buku ini, saya sudah mengintip review-nya di Goodreads dan menemukan adanya review dari sang penulis sendiri. Di situ penulis mengakui adanya kesalahan fatal berupa kesalahan penulisan nama sehingga saat membaca saya justru kayak lagi main detektif-detektifan, menanti-nantikan di mana salah namanya. Begitu ketemu, bukannya terganggu, malah jadi girang rasanya, hehe. Berikut yang berhasil saya temukan:

Hlm. 51
(x) “Veeeliiii!!! Mana ekspresinya?!”
(v) “Laaaraaas!!! Mana ekspresinya?!”

Hlm. 131
(x) “Re , ARGA!”
(v) “Ga, ARGA!”

Hlm. 144
(x) “Apa?! Lo kenapa sih, Ren?”
(x) “Lo ngomong apa sih, Ren?
(v) “Apa?! Lo kenapa sih, Ga?”
(v) “Lo ngomong apa sih, Ga?

Hlm. 182–184
Semua yang ditulis dengan “Véli” harusnya ditulis “Laras”.

5. TelenoRasa ini apa ya? Pertamanya saya pikir cuma salah ketik aja, karena kalau dari konteksnya sih maksudnya telenovela. Tapi kok munculnya berkali-kali berarti memang ditulis secara sadar kan ya? Apa memang istilah lainnya telenovela itu telenoRasa?

6. Di bab 14 dan 15 ada beberapa cuplikan buku harian Laras yang ditemukan dan dibaca oleh Fara. Nah, antara cuplikan buku harian dan komentar Fara saat membaca ini nulisnya pake huruf miring semua, nggak ada pembedaan font atau gimana. Bacanya agak bingung, euy! Kurang jelas mana yang merupakan tulisan Laras, mana yang merupakan komentar Fara.

5. Typo
. acting > akting
. actrees > actress
. aksesoris > aksesori
(14) memandamkan > memadamkan
(17) diluar > di luar
(22) berwallpaper > ber-wallpaper
(25) mensupportnya > men-support-nya/mendukungnya
(30) frustasi > frustrasi
(34) dicut > di-cut
(38) Ia menghampiri Rozlard dan Laras. > Ia menghampiri Gilang dan Laras.
(47) Tap > Tapi
(64) spot jantung > sport jantung
(95) … pikirnya Tapi … > … pikirnya. Tapi …
(97&98) perhiasaan > perhiasan
(101) dirudung > dirundung
(109) bermanicurenya > bermanikurnya
(123) Rozarld > Rozlard
(135) Adelaine > Adeline
(136) edelweise > edelweiss
(145) bermake-up > ber-make-up
(150) genggamanannya > genggamannya
(162) guman > gumam
(186) make a new friends > make new friends