0

[DNS #8] Fangirl – Rainbow Rowell

★ ★ ☆ ☆ ☆

fangirl

Judul: Fangirl
Penulis: Rainbow Rowell
Penerbit: Spring
Genre: Young Adult
Tebal: 456 hlm
Rilis: November 2014
Harga toko: Rp74.000,00
Cara dapat: @ Social Agency Baru Jakal (20% OFF)

Cath dan Wren—saudari kembarnya—adalah penggemar Simon Snow. Oke, seluruh dunia adalah penggemar Simon Snow, novel berseri tentang dunia penyihir itu. Namun, Cath bukan sekadar fan. Simon Snow adalah hidupnya!

Cath bahkan menulis fanfiksi tentang Simon Snow menggunakan nama pena Magicath di Internet, dan ia terkenal! Semua orang menanti-nantikan fanfiksi Cath.

Semuanya terasa indah bagi Cath, sampai ia menginjakkan kaki ke universitas. Tiba-tiba saja, Wren tidak mau tahu lagi tentang Simon Snow, bahkan tak ingin menjadi teman sekamarnya! Dicampakkan Wren, dunia Cath jadi jungkir balik. Sendirian, ia harus menghadapi teman sekamar eksentrik yang selalu membawa pacarnya ke kamar, teman sekelas yang mengusik hatinya, juga profesor Penulisan Fiksi yang menganggap fanfiksi adalah tanda akhir zaman.

Seolah dunianya belum cukup terguncang, Cath juga masih harus mengkhawatirkan kondisi psikis ayahnya yang labil. Sekarang, pertanyaan buat Cath adalah: mampukah ia menghadapi semua ini?

Saya percaya rating (di Goodreads) sekadar perkara selera. Setelah membaca Fangirl saya jadi makin memercayainya 😛

Sesuai kronologi penerbitan Spring, saya membeli Fangirl dulu baru To All the Boys I’ve Loved Before (TATBILB). Mau nggak mau saya jadi menaruh harapan besar pada Fangirl. Buku pertama penerbit baru gitu lho. Berpuluh-puluh tahun kemudian–semoga Penerbit Spring berusia panjang–Fangirl ini nantinya akan terus dikenang layaknya Karmila di Gramedia.

Beberapa halaman pertama … kenapa saya nggak mudeng-mudeng yaa xD Susahhh bangettt masuk ke dalam cerita. Apa ini masalah penerjemahan aja? Saya lantas mengintip beberapa review di Goodreads. Dapat sedikit bocoran cerita juga bodo amat deh, sebaca saya nggak ada spoiler fatal kok. Dan yang penting para reviewer pada kasih rating tinggi (termasuk yang membaca versi terjemahan ini), jadi lumayan termotivasi deh baca lagi.

Baca … baca … baca …

Tetep nggak konsen, euy! Belum bisa masuk-masuk juga ke dunia mereka. Selingkuhin dengan buku lain dulu deh …

Buku selingkuhan (yang rating-nya nggak tinggi-tinggi amat) malah bisa terselesaikan dengan lancar, lanjut baca Fangirl lagi, menyerah lagi, selingkuh lagi, begitu seterusnya sampai Fangirl ini keluar-masuk dari rak “currently-reading” berkali-kali. Sampai buku terbitan kedua Spring–TATBILB–nongol, dan ikut jadi selingkuhan juga. Berbeda dengan Fangirl, TATBILB ini saya baca dalam semalam aja! Dan saya suka banget bangettt, terutama sama Peter Kavinsky x)

Nah, karena saya sekelebat pernah baca kalau Levi ini orangnya so sweet, siapa tahu kan ya Levi ini se-sweet Peter Kavinsky juga. Jadilah Peter Kavinsky TATBILB ini akhirnya lumayan berhasil menggerakkan saya untuk membaca Fangirl.

Ya memang berhasil terselesaikan sih, tapi bacanya tetap saja nggak bisa enjoy. Berasa baca buku sekadar untuk menunaikan kewajiban aja.

1. Kalimat-kalimatnya nggak mudengi xD Beberapa terlalu panjang, lainnya berasa sekali terjemahan yang belum diluweskan. Beberapa kalimat yang nggak mudengi, misalnya:

Hlm. 130

Rambutnya masih basah dan jatuh (basah, pirang) ke matanya.

Saya merasa nggak sreg dengan adanya kata-kata dalam kurung itu aja sih. Dan kemunculan kata-kata berkurung ini nggak cuma sekali.

Hlm. 362

Perawat tadi kembali dengan berkas-berkas pelepasan dan memberitahu Wren kalau ia harus meninggalkan rumah sakit dengan kursi roda.

Berkas pelepasan? Maksudnya berkas kepulangan?

2. Cerita Simon Snow dan fanfic-nya kurang bisa saya nikmati. Padahal itu lumayan signifikan untuk mendekatkan pembaca dan tokoh utama. Gini lho, Simon Snow itu berasa banget fanfic Harry Potter. Nah, fanfic-nya ini dibikin fanfic lagi. Mau nggak mau ngebayanginnya Simon-Baz = Harry-Draco. Jadinya malah geli xD Kemunculannya pun kebanyakan berupa fragmen-fragmen yang nggak membentuk cerita. Apa ya harus baca Carry On (yang belum terbit) dulu, baru bisa menikmati Fangirl ya?

3. Interaksi Cath-Levi anehhh xD Cath itu kayak terobsesi dengan rambut Levi, tulang apanyalah, dll. Tiap adegan skinship mereka itu alurnya lambat pula. Hoahem~

4. Dalam percakapan-percakapan mereka banyak referensi yang nggak langsung dikenal oleh pembaca Indonesia (minimal saya deh), misalnya Battlestar Gallactica, dll. Harusnya disertakan catatan kaki, biar saya pembaca lebih paham.

Jadi, Spring, terjemahin P.S. I Still Love You aja ya, Carry On nggak usah xD

***

Typo
(18) megetik > mengetik
(150) di-persembahkan > dipersembahkan
(373) inda > indah

0

[DNS #7] [TMH #4] Wishing Her to Die – Jung Soo Hyun

★ ★ ★ ☆ ☆

wishing

Judul: Wishing Her to Die
Penulis: Jung Soo Hyun
Penerbit: Haru
Genre: K-Iyagi
Tebal: 408 hlm
Rilis: Maret 2014
Harga toko: Rp67.000,00
Cara dapat: @ Publisher Outlet (20% OFF)

Kepada Lee Min-ah.
Salam kenal. Aku Yoon Jae-hee. Meski sulit dipercaya, sekarang aku ada di dalam tubuhmu.

Jae-hee

Nasibku sungguh sial: pacarku meninggalkanku, aku tidak lulus audisi musikal, ditambah lagi aku mati ditabrak truk.
Tapi aku mendapat kesempatan untuk merasuki tubuh orang lain meskipun hanya sehari, dan aku mengambil kesempatan itu.

Boleh, kan? Hanya satu hari saja.

Min-ah

Orang pikir aku memiliki segalanya: karier sebagai pengacara di firma hukum raksasa Korea, kecantikan, dan kekayaan. Tapi, aku masih terikat dengan masa laluku. Aku harus menyelidiki semuanya sampai tuntas.

Namun, kenapa aku membuang waktu mengikuti audisi musikal yang bahkan tak bisa kuingat? Ke mana ingatanku selama beberapa jam itu? Jae-hee? Siapa Jae-hee?

Kenapa sepertinya dia menginginkan tubuhku selamanya?

Setelah puas dengan Girls in the Dark, ekspektasi saya terhadap Wishing Her to Die jadi meningkat pesat. Meski tidak bisa dibilang segenre, bagi saya kedua buku ini sepintas mirip: sama-sama (1) terbitan Haru, (2) bertema non-romance dengan (3) kover bernuansa gelap dan misterius.

Buku ini mulai saya baca sebagai pengantar tidur. Di awal memang agak susah masuk ke dunia Jae-hee dan Min-ah, tapi keseruan baru dimulai ketika mereka berdua saling berkirim surat. Dalam pertarungan memperebutkan tubuh (sekaligus pria) ini, awalnya saya pikir pembaca bakal disetir untuk lebih “memihak” Jae-hee yang gemuk-berhati-baik dibanding Min-ah yang bitchy-nan-cantik. Tapi rupanya cerita ini nggak sedangkal itu kok. Ke belakang saya justru lebih menyukai Min-ah yang cerdas dan punya strategi tersendiri untuk mempertahankan tubuhnya.

Berhubung ngantuk, buku ini saya tutup di halaman 200-an. Sekali duduk bisa betah baca segitu lho, ya memang semenarik itulah buku itu di awal. Sayangnya, begitu saya lanjutkan sehari kemudian, keajaiban itu sudah menghilang ….

Ketika ada ramalan bahwa akan terjadi kecelakaan dan hanya satu jiwa saja yang akan tinggal dalam tubuh tersebut, otak saya tidak cukup prima untuk mencerna mana yang akan terus hidup dan mana yang tidak. Prosedurnya agak mbingungi (bagi otak saya :)). Kekecewaan terbesar saya terhadap buku ini terutama pada halaman 325–345 ketika ada salah satu tokoh kunci menceritakan masa lalunya. Jawaban satu buku ditumpuk di bagian ini! Akan lebih baik kalau dicicil dari awal atau gimana. Si tokoh kunci ini pun udah ketebak di pertengahan cerita, jadi ya memang setelah 200-an halaman itu nggak ada motivasi kuat untuk melanjutkan membaca dengan semangat.

***

Catatan Kebahasaan
1. Kalimat membingungkan

a. Hlm. 138

Untuk mendapatkan rekomendasi magang di Goldman-Sachs, ia mencoba mendekat dan merawat dua anak perempuan profesornya yang membanggakan peringkat pertama selama dua bulan.

b. Hlm. 264

Menurut artikel yang dulu pernah ia cari, Grup Hyesung dipecah menjadi puluhan perusahaan kecil dan dijual ke perusahaan lain. Namun dalam surat wasiat itu, anak laki-laki tertua mewarisi seluruh perusahaan. Tidak ada manajer yang memecah perusahaannya sendiri seperti itu karena tidak selesai.

2. Font surat di hlm. 241 berbeda dengan sebelumnya.

3. Typo
(Blurb) mengambl > mengambil
(Blurb) karir > karier
(13) Gangnamyang > Gangnam yang
(104) kusinya > kursinya
(138) Golman-Sachs > Goldman-Sachs
(257–258) mengeta-ui > mengeta-hui
(268) menyenang-kan > menyenangkan
(272) tahu?Tidak > tahu? Tidak

0

[ACK #7] [DNS #6] A Beautiful Mess – Rosi L. Simamora

★ ★ ★ ☆ ☆

abm
Judul: A Beautiful Mess
Penulis: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Metropop
Tebal: 344 hlm
Rilis: Februari 2015
Harga toko: Rp75.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Sebuah rahasia kelam memaksa Freya, gadis manja dan “high maintenance”, meminta bantuan ayahnya, lalu dengan terpaksa menerima nasib menyingkir ke pulau terpencil.

Di sana ia harus bekerja, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Freya seumur hidupnya. Dan siapa lagi yang mengawasi Freya kalau bukan Lian, pria tampan yang sepertinya membenci Freya sejak awal?

Namun Lian juga menyimpan rahasia. Dan diam-diam, ia menyadari sesuatu telah tumbuh. Cintakah? Tidak. Tidak. Jangan cinta!

Dan benarkah Freya telah berhasil meninggalkan masa lalunya? Ataukah… hantu masa lalu yang kelam namun teramat memikat itu akhirnya mengejar Freya hingga ke ujung dunia, dan ia selamanya takkan pernah lepas darinya? Takluk kembali pada satu-satunya laki-laki yang membuatnya begitu hidup, dan sekaligus mati?

Kisah ini bercerita tentang cinta. Dan nafsu. Tentang jatuh. Dan bangkit. Tentang luka dan rasa takut. Dan bagaimana menaklukkannya.

Mulanya review ini mau saya awali dengan “Ini adalah karya pertama Rosi L. Simamora yang saya baca …”, tapi saya lantas teringat kalau sudah membaca Autumn Once More. Seingat saya banyak editor GPU yang menjadi kontributor buku itu, jadi kemungkinan besar saya pernah baca karya Mbak Rosi sebelumnya dong. Setelah googling sebentar, benar ternyata ada satu cerpen karya Mbak Rosi di sana. Judulnya “Senja yang Sempurna”. Sayangnya saya nggak ingat bagaimana ceritanya. Rupanya karya tersebut belum bisa meninggalkan kesan tertentu bagi saya, hehehe.

Lantas bagaimana kesan saya terhadap A Beautiful Mess ini? Coba deh dari kesan positif dulu ….

1. Saya nggak follow twitter-nya Mbak Rosi, tapi ada satu twitnya yang pernah nongol di TL dan membekas di ingatan saya (di-retweet Mbak Dinoy kalau nggak salah):

@rosimamora67: Krn kata2 adlh senjata utama penulis, bukalah kamus sesering mungkin. Pelajari kata2 baru, mk tulisanmu lebih kaya n berwarna. #WritingTips

Dan Mbak Rosi ini orangnya walk-the-talk banget. Diksi di novelnya itu … beuh … juara! Saya ini orang yang nggak malas-malas amat buka kamus (tuntutan kerjaan), tapi buanyakkk banget diksi di novel ini yang lumayan asing buat saya. Misalnya nih … merancap, bertemperasan, berkeredap, tubir, lindap, degil. Kata-kata dewa banget deh itu semua!

2. Meski setting-nya di Indonesia Timur, novel ini Batak banget dan membuka mata saya perihal budayanya. Dari yang semula nggak tahu apa-apa soal pariban, ya sekarang jadi tahu sedikit lah. Terus jadi mengerti juga bagaimana situasi keluarga Batak yang tidak punya keturunan laki-laki.

Nah, sekarang giliran kesan negatif …

1. Saya kurang suka gaya bercerita Mbak Rosi ketika hendak menekankan sesuatu. Biasanya kata yang ditekankan akan diulang tiga kali! Kali! Kali! Ya seperti ini! Ini! Ini! Dan itu berkali! Kali! Kali! Jadinya saya bosen! Bosen! Bosen!

2. Setiap Freya mengobrol dengan Patar itu … ya Tuhaaannn! Pengen saya skip! Benar-benar uji kesabaran! Gaya merayunya si Patar ini benar-benar nggak berkelas dan jadinya saya ikut sebel sama Freya yang meladeninya (kebanyakan sengaja supaya Lian cemburu). Mana dibilang cewek-cewek pada klepek-klepek kalau sudah kena rayuan Patar +_+

3. Saya nggak terlalu peduli sama tokoh-tokohnya. Habisnya nggak ada yang lovable. Patar-nya jelas ngeselin. Freya juga ikutan ngeselin. Alasan Lian ngambek sama Freya pun menurut saya kurang kuat dan agak kekanak-kanakan. Jadi ya memang susah untuk bisa sepenuhnya menikmati novel ini.

***

Catatan Kebahasaan
1. Hlm. 254

030259
made by Waraopea
Desa Syuru
US$ 2412

031267
Perahu Roh
made by Wilmora
US$ 2308

Yang di atas ini adalah keterangan produk patung yang dibikin Freya. Saya kurang sreg aja sama konsistensi urutannya. Mending disamain aja urutannya, misal: kode-judul patung-nama pemahat-harga.

2. Hlm. 262–263

Soal fakta-fakta tentang kepemilikan Lian akan resor itu kok agak aneh ya. Nggak ada penjelasan dari siapa pun, tetapi tiba-tiba Freya tahu akan fakta-fakta tersebut. Mungkin maksudnya pada saat itu ayah Freya menjelaskannya, tetapi hal itu nggak disebutkan sama sekali tuh. Jadi langsung masuk narasi pembeberan fakta-fakta dan kesannya Freya tahu begitu saja.

Saya juga nemu Ferya, mencap, dan mem baca (harusnya Freya, mengecap, dan membaca), tapi lupa nggak saya catat di halaman berapa. Untuk masalah kebahasaan ini nggak bisa saya bahas maksimal nih. Soalnya saya nulis review ini dalam keadaan udah nggak pegang bukunya, hehehe … v(^^)

0

[DNS #5] [TMH #3] You Are the Apple of My Eye – Giddens Ko

★ ★ ★ ☆ ☆ yataome

Judul: You Are the Apple of My Eye
Penulis: Giddens Ko
Penerbit: Haru
Genre: M-Novel
Tebal: 350 hlm
Rilis: Februari 2014
Harga toko: Rp63.000,00
Cara dapat: @ Social Agency Baru Jakal (20% OFF)

Kau sangat kekanak-kanakan – Shen Jiayi Sedikit pun kau tidak berubah, nenek yang keras kepala – Ke Jingteng

Semua berawal saat Ke Jingteng, seorang siswa pembuat onar, dipindahkan untuk duduk di depan Shen Jiayi, supaya gadis murid teladan itu bisa mengawasinya. Ke Jingteng merasa Shen Jiayi sangat membosankan seperti ibu-ibu, juga menyebalkan. Apalagi, gadis itu selalu suka menusuk punggungnya saat ia ingin tidur di kelas dengan pulpen hingga baju seragamnya jadi penuh bercak tinta. Namun, perlahan Ke Jingteng menyadari, kalau Shen Jiayi adalah seorang gadis yang sangat spesial untuknya.

Karena masa mudaku, semua adalah tentangmu…

Kalau ada buku terbitan Haru yang paling pengin saya baca, itu adalah You Are the Apple of My Eye karya Giddens Ko ini. Kenapa? Karena rating di Goodreads menggiurkan sekali~~ :d Sudah melampaui angka psikologis alias 4 koma. Sepinter apa pun seorang mahasiswa nggak akan ber-IP segitu, deh~ *halah* Nah, karena rating itulah saya jadi berharap banyak. Ekspektasi saya terhadap buku ini kadung tinggi. Jatuhnya jadi rawan kecewa dan memang itulah yang terjadi. Bukan berarti buku ini nggak bagus, tapi ya nggak sebagus “itu” saja.

Pertama, karakter Li Xiaohua ini “nggak guna” banget deh xD Kemunculannya terkesan malah jadi pengganggu aja. Harusnya buku ini tentang Ke Jingteng & Shen Jiayi, tapi “muter jauh” nyeritain Ke Jingteng & Li Xiaohua dulu. Kalau pakai analogi Romeo+Juliet, Li Xiaohua ini jadi kayak Rosaline. Sempat berarti buat Romeo, tapi ya keberadaannya langsung dilupakan begitu Juliet muncul. Kalau saja ini fiksi, dihilangkan juga nggak bakal terlalu ngefek. Berhubung ini semacam autobiografi, ya dimaklumi deh Li Xiaohua nongol, lha wong kenyataannya memang ada tokoh ini 😛 Lagian berkat tokoh Li Xiaohua jadi ada adegan “anjing Li Xiaohua” dan saya suka bangettt sama bagian itu x)

Kedua, saya kurang cocok dengan gaya bercerita penulisnya. Beberapa kali saya sempat tersendat untuk melanjutkan karena gayanya memang bukan tipe page turner. Terus, ada apa sih dengan adegan mengupil?? Apa ini ritual favorit Giddens Ko? Sering banget muncul sampai saya nyaris bisa memprediksi kapan muncul lagi. Kayaknya sih perupilan ini dimunculkan untuk memberikan kesan bahwa Ke Jingteng itu cuek dan slengekan, tapi porsinya too much sehingga pembaca jadi bosen.

Nah, selanjutnya sisi positif buku ini … Saya suka sekali pesan di buku ini bahwa love can bring out the best in someone. Ke Jingteng yang dulunya cuek sama pelajaran bisa jadi pinter lhooo~ Yang jelas buku ini bikin inget masa SMA banget, huhu. Bukan masalah romance-nya, tapi bagaimana keseharian pelajar menghadapi ujian itu loh … autentik banget deh penggambarannya! Inget banget bagaimana di papan tulis tertulis besar-besar: H- … menuju UM UGM. Tapi seingat saya kok nggak ada H- … menuju UN ya? Zaman saya kayaknya memang pada lebih mementingkan ujian masuk perguruan tinggi daripada ujian kelulusan 😛 Dan entah kenapa kok ya UGM-oriented sekali, padahal dalam kenyataannya banyak juga yang kemudian kuliah di UI, ITB, dll., tapi yang mendapat tempat kehormatan di papan tulis SMA saya cuma UGM, cih~ 😛 Jadi inget pula bagaimana saat kelas 3 SMA itu pada sering bolos massal. Tapi waktu bolos itu pun digunakan untuk belajar, ckck. Biasanya pelajaran yang ditinggal itu yang dianggap nggak penting, seringnya PPKn, ehehehe.

Waduh, ini sih kebanyakan curcol x)

Seperti biasa, review ditutup dengan catatan typo (yang sedikittt):

(173) Sepajang > Sepanjang
(268) kampusku > kampusku.

P.S. Habis ini saya mau cari filmnya ah~ Kayaknya sih bakal lebih bisa saya nikmati.

0

[DNS #4] [TMH #2] Girls in the Dark – Akiyoshi Rikako

★ ★ ★ ★ ☆

gitd

Judul: Girls in the Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Haru
Genre: J-Lit
Tebal: 284 hlm
Rilis: Mei 2014
Harga toko: Rp52.000,00
Cara dapat: @ Publisher Outlet (20% OFF)

Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu…?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi….

Kau… pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

WHEN: Tanggal x Juli, setelah sekolah usai.
WHERE: SMA Putri Santa Maria, di dekat pot bunga di bawah teras.
WHO: Shiraishi Itsumi, Ketua Klub Sastra
WHAT: Mati
HOW: Telungkup bersimbah darah, menggenggam setangkai bunga suzuran.
WHY: Pembunuhan? Bunuh diri?

Ketika membuka buku ini dan melihat ilustrasi chandelier pada setiap judul bab, saya sudah punya feeling bagus terhadap novel ini. Ilustrasi chandelier kayak gitu menurut saya “Kindaichi banget” (entah di volume berapa saya menjumpai si chandelier ini) dan saya suka sekali dengan serial Kindaichi. Saat dibaca pun “nuansa Kindaichi” ini semakin terasa, bahkan menurut saya Girls in the Dark ini Kindaichi versi level up!

Untuk mengenang kematian mantan ketuanya, keenam anggota Klub Sastra mengadakan acara pembacaan naskah cerita pendek dari setiap anggota yang berisi kesan mereka terhadap Shiraisi Itsumi semasa hidupnya. Naskah ditutup dengan dugaan masing-masing, siapa kira-kira yang membunuh sang ketua? Selama proses pembacaan ini mereka juga mengadakan pesta yami-nabe, yaitu panci yang berisi air mendidih dan diisi bahan-bahan makanan (err, tidak harus berupa makanan sih) yang dibawa oleh masing-masing anggota. Bahan-bahan ini harus dirahasiakan satu sama lain dan dinikmati dalam kegelapan. Pesta yami-nabe ini nantinya turut berperan penting dalam cerita 😉

Nah, setelah setiap anggota klub membacakan naskah, harapannya sih bakal ada kejelasan mengenai apa yang terjadi di balik kematian Itsumi, tetapi yang terjadi … Wow~ Saya nggak bisa cerita lebih lanjut, musti dibaca sendiri 😛

Salut untuk penerjemah yang sebisa mungkin memberikan ciri kepenulisan masing-masing di setiap naskah yang dibacakan. Memang tidak semuanya memiliki ciri khas, tapi saya bisa sedikit mendeteksi adanya perbedaan. Misalnya gaya menulis Diana Detcheva, siswi asal Bulgaria, yang menggunakan kata ganti “saya”, sementara yang lain menggunakan “aku” (tapi di hlm. 104–105, kata ganti Diana Detcheva ini sempat tidak konsisten, tiba-tiba menggunakan “aku” lalu balik ke “saya” lagi). Sumikawa Sayuri, ketua klub pengganti yang cenderung berpembawaan serius, juga menggunakan kata ganti “saya” ketika memimpin pembacaan naskah. Sayuri ini satu-satunya anggota yang tidak membacakan naskahnya sendiri. Takaoka Shiyo, sang penulis novel, pun punya gaya menulis berbeda. Karena novelnya merupakan novel ringan, gaya menulisnya juga cenderung gaul dengan adanya kata-kata “nggak”, “terus”, “banget”, dll. Dari semua naskah yang dibacakan, gaya menulis favorit saya adalah milik Koga Sonoko, si siswi jurusan IPA. Berhubung terbiasa menggunakan logika, sewaktu berkegiatan di Klub Sastra dan harus menganalisis buku, gayanya jadi menggunakan prinsip 5W1H. Contohnya kayak apa bisa dilihat di awal review ini :)) Baca gaya menganalisis karya sastra begitu bikin saya jadi tergoda untuk selanjutnya me-review buku dengan gaya begitu juga x)

Overall, baru sekali ini saya membaca novel dengan format unik seperti ini. Benar-benar bacaan yang menyenangkan 🙂

***

Seperti biasa, review ditutup dengan catatan typo. Saya sih nemunya cuma sedikit 😉

(34) T.S. Elliot > T.S. Eliot
(34) Ezra Pounds > Ezra Pound
(76) menganalisanya > menganalisisnya
(153) turun temurun > turun-temurun
(156) departement store > department store
(173) Haloween > Halloween
(262) memilih untuk untuk mati > memilih untuk mati