0

[ACK #7] [DNS #6] A Beautiful Mess – Rosi L. Simamora

★ ★ ★ ☆ ☆

abm
Judul: A Beautiful Mess
Penulis: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Metropop
Tebal: 344 hlm
Rilis: Februari 2015
Harga toko: Rp75.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Sebuah rahasia kelam memaksa Freya, gadis manja dan “high maintenance”, meminta bantuan ayahnya, lalu dengan terpaksa menerima nasib menyingkir ke pulau terpencil.

Di sana ia harus bekerja, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Freya seumur hidupnya. Dan siapa lagi yang mengawasi Freya kalau bukan Lian, pria tampan yang sepertinya membenci Freya sejak awal?

Namun Lian juga menyimpan rahasia. Dan diam-diam, ia menyadari sesuatu telah tumbuh. Cintakah? Tidak. Tidak. Jangan cinta!

Dan benarkah Freya telah berhasil meninggalkan masa lalunya? Ataukah… hantu masa lalu yang kelam namun teramat memikat itu akhirnya mengejar Freya hingga ke ujung dunia, dan ia selamanya takkan pernah lepas darinya? Takluk kembali pada satu-satunya laki-laki yang membuatnya begitu hidup, dan sekaligus mati?

Kisah ini bercerita tentang cinta. Dan nafsu. Tentang jatuh. Dan bangkit. Tentang luka dan rasa takut. Dan bagaimana menaklukkannya.

Mulanya review ini mau saya awali dengan “Ini adalah karya pertama Rosi L. Simamora yang saya baca …”, tapi saya lantas teringat kalau sudah membaca Autumn Once More. Seingat saya banyak editor GPU yang menjadi kontributor buku itu, jadi kemungkinan besar saya pernah baca karya Mbak Rosi sebelumnya dong. Setelah googling sebentar, benar ternyata ada satu cerpen karya Mbak Rosi di sana. Judulnya “Senja yang Sempurna”. Sayangnya saya nggak ingat bagaimana ceritanya. Rupanya karya tersebut belum bisa meninggalkan kesan tertentu bagi saya, hehehe.

Lantas bagaimana kesan saya terhadap A Beautiful Mess ini? Coba deh dari kesan positif dulu ….

1. Saya nggak follow twitter-nya Mbak Rosi, tapi ada satu twitnya yang pernah nongol di TL dan membekas di ingatan saya (di-retweet Mbak Dinoy kalau nggak salah):

@rosimamora67: Krn kata2 adlh senjata utama penulis, bukalah kamus sesering mungkin. Pelajari kata2 baru, mk tulisanmu lebih kaya n berwarna. #WritingTips

Dan Mbak Rosi ini orangnya walk-the-talk banget. Diksi di novelnya itu … beuh … juara! Saya ini orang yang nggak malas-malas amat buka kamus (tuntutan kerjaan), tapi buanyakkk banget diksi di novel ini yang lumayan asing buat saya. Misalnya nih … merancap, bertemperasan, berkeredap, tubir, lindap, degil. Kata-kata dewa banget deh itu semua!

2. Meski setting-nya di Indonesia Timur, novel ini Batak banget dan membuka mata saya perihal budayanya. Dari yang semula nggak tahu apa-apa soal pariban, ya sekarang jadi tahu sedikit lah. Terus jadi mengerti juga bagaimana situasi keluarga Batak yang tidak punya keturunan laki-laki.

Nah, sekarang giliran kesan negatif …

1. Saya kurang suka gaya bercerita Mbak Rosi ketika hendak menekankan sesuatu. Biasanya kata yang ditekankan akan diulang tiga kali! Kali! Kali! Ya seperti ini! Ini! Ini! Dan itu berkali! Kali! Kali! Jadinya saya bosen! Bosen! Bosen!

2. Setiap Freya mengobrol dengan Patar itu … ya Tuhaaannn! Pengen saya skip! Benar-benar uji kesabaran! Gaya merayunya si Patar ini benar-benar nggak berkelas dan jadinya saya ikut sebel sama Freya yang meladeninya (kebanyakan sengaja supaya Lian cemburu). Mana dibilang cewek-cewek pada klepek-klepek kalau sudah kena rayuan Patar +_+

3. Saya nggak terlalu peduli sama tokoh-tokohnya. Habisnya nggak ada yang lovable. Patar-nya jelas ngeselin. Freya juga ikutan ngeselin. Alasan Lian ngambek sama Freya pun menurut saya kurang kuat dan agak kekanak-kanakan. Jadi ya memang susah untuk bisa sepenuhnya menikmati novel ini.

***

Catatan Kebahasaan
1. Hlm. 254

030259
made by Waraopea
Desa Syuru
US$ 2412

031267
Perahu Roh
made by Wilmora
US$ 2308

Yang di atas ini adalah keterangan produk patung yang dibikin Freya. Saya kurang sreg aja sama konsistensi urutannya. Mending disamain aja urutannya, misal: kode-judul patung-nama pemahat-harga.

2. Hlm. 262–263

Soal fakta-fakta tentang kepemilikan Lian akan resor itu kok agak aneh ya. Nggak ada penjelasan dari siapa pun, tetapi tiba-tiba Freya tahu akan fakta-fakta tersebut. Mungkin maksudnya pada saat itu ayah Freya menjelaskannya, tetapi hal itu nggak disebutkan sama sekali tuh. Jadi langsung masuk narasi pembeberan fakta-fakta dan kesannya Freya tahu begitu saja.

Saya juga nemu Ferya, mencap, dan mem baca (harusnya Freya, mengecap, dan membaca), tapi lupa nggak saya catat di halaman berapa. Untuk masalah kebahasaan ini nggak bisa saya bahas maksimal nih. Soalnya saya nulis review ini dalam keadaan udah nggak pegang bukunya, hehehe … v(^^)

0

[ACK #6] Tongkat Ajaib Lolita #1: A Magical Birthday Present – Karla M. Nashar

★ ★ ★ ☆ ☆

ambp

Judul: A Magical Birthday Present
Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Teenlit
Tebal: 184 hlm
Rilis: Januari 2010
Harga toko: Rp25.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Pernah membayangkan bisa mendengar isi hati orang lain? Kedengarannya sih asyik, tapi coba tanya Lolita. Pasto cewek itu bakal menggeleng keras-keras.

Sebagai hadiah ulang tahun kelima belas, Lolita mendapat warisan tongkat kayu kecil dari pohon Baobab berumur ribuan tahun, yang membuatnya bisa mendengar isi hati orang lain yang membutuhkan pertolongannya. Seketika hidup Lolita berubah. Waktu gaulnya habis untuk membantu orang-orang tersebut. Ia pun dimusuhi kedua sahabatnya yang menganggapnya nggak asyik lagi. Untung ada Dharma. Bersama cowok sederhana itu, Lolita memulai pengalaman uniknya sebagai pemegang kekuatan kelima dalam keluarga besar Brahmadiningrat.

Belum lama ini saya bilang kalau saya kurang bisa menikmati buku-buku lokal yang tebalnya kurang dari 200 halaman, tapi ini saya malah baca yang tipis-tipis lagi, hehe … Serial Tongkat Ajaib Lolita ini udah sering saya lihat di KK Book Rental, tapi ya itu … gara-gara bukunya tipis saya jadi nggak begitu tertarik untuk membawanya pulang. Berhubung rating serial ini di Goodreads cukup tinggi, di rental pun komplet ada ketiga bukunya, yaweslah, saya ngicip satu buku dulu. Kalau bagus ya pinjam lanjutannya, kalau nggak ya udah, nggak usah diteruskan.

Meski tipis, konfliknya terselesaikan dengan cukup baik kok, nggak terburu-buru seperti yang saya khawatirkan pada buku-buku tipis biasanya. Di buku pertama ini, ada dua kasus yang harus dibantu Lolita, yaitu masalah teman sekelasnya yang pendiam dan dua orang gurunya yang saling suka, tapi masih malu-malu. Ada benih-benih cinta juga di antara Lolita dan Dharma, yang tentunya bakal berkembang di buku-buku selanjutnya. Satu-satunya yang nggak saya suka dari buku ini adalah karakter Charlotte yang ngeselin. Mana di buku selanjutnya si Charlotte ini masih nongol lagi -,-

Apakah buku ini cukup bagus sehingga membuat saya pengin baca lanjutannya? Baca lanjutannya sih pengin, tapi buku ini bukan yang bagus banget sehingga bikin saya pengin baca lanjutannya sesegera mungkin, hehe.

***

Catatan:

1. Hlm. 55

Jam lima sore Lolita dan teman-temannya sampai di rumah. Ketiganya langsung berebut mandi duluan. Setelah selesai, mereka bergegas mengenakan gaun masing-masing. Sebelumnya wajah mereka sudah dirias di salon.

Apa memang orang lain ada yang dirias dulu baru mandi ya? Saya soalnya biasanya mandi dulu baru dirias 😐

2. Typo
(32) semuaa > semua
(145) menganti > mengganti
(151) Darma > Dharma
(165) barus > harus

0

[ACK #5] [DNS #2] Pangeran Kertas – Syahmedi Dean

“Kamu juga harus tahu … setiap bunga punya dua kekasih. Satu kekasih impian, satu kekasih kenyataan.”

★ ★ ★ ☆ ☆ pangeran

Judul: Pangeran Kertas Penulis: Syahmedi Dean
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Metropop
Tebal: 224 hlm
Rilis: September 2014
Harga toko: Rp50.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Mungkinkah Nania jatuh cinta pada impian yang ia ciptakan sendiri? Mungkin. Nania hidup dalam kesepian panjang, di antara Papa, bintang televisi yang sangat tenar, dan Mama, ibu yang hancur karena ketenaran suami. Nania mencari cinta dalam puisi-puisi yang ia tulis, sampai ia jatuh cinta pada sosok yang ia ciptakan, seorang Pangeran Kertas yang berhati putih, yang bisa menerima keluh kesah apa pun dari Nania, yang di dadanya Nania bisa menumpahkan tinta kata-kata. Apa yang terjadi ketika Pangeran Kertas menjadi kenyataan? Mereka berdua beradu kata-kata indah di bawah rembulan, beradu tatapan mata bertukar cinta.

Bagaimana jika pangeran impian berhadapan dengan pangeran lain yang lebih nyata? Mana yang harus dimenangkan, impian atau kenyataan? Nania semakin digempur oleh dua pilihan, sangat membingungkan. Salah satunya selalu menyembuhkan ketika yang lain menyakitkan. Mana yang menyakitkan, impian atau kenyataan? Puisi-puisi Nania semakin mengalir ke hamparan kertas.

Nania berdiri di depan megahnya Taj Mahal, monumen cinta paling abadi di muka bumi, merasakan betapa beruntungnya dihujani cinta dan kasih sayang. Nania pun terseret ke Yogyakarta, tempat benteng-benteng tua yang bertahan melalui dera kenangan masa lalu. Mencintai dan dicintai. Impian dan kenyataan. Pilihan yang sulit namun tetap harus diambil, lalu suatu hari nanti pilihan tersebut akan menjadi kenangan berair mata.

Pangeran Kertas merupakan novel kedelapan–sejauh ini novel terakhir–karya Syahmedi Dean, tetapi novel ini justru menjadi novel pertama karya Bang Dean yang saya baca. Dari segi tema sih sebenarnya tidak terlalu istimewa, yaitu kisah cinta segitiga antara Nania, sang “kekasih impian”, dan sang “kekasih kenyataan”. Untungnya, saya cukup suka dengan gaya bercerita Bang Dean yang mengalir. Dibanding tema novel sebagus apa pun, saya sih lebih memilih gaya bercerita sang penulisnyalah yang bagus. Syukur-syukur tema dan storytelling penulis sama bagusnya. Gaya cerita mengalir ini menurut saya karena Bang Dean banyak menggunakan dialog, tapi sayang jadi ada yang kelewatan belum diberi keterangan kata kerjanya, misalnya sahut, ujar, jawab, dll.:

Hlm. 18 “Cek jumlah followers-nya,” ujar Nania. “Huhu… Ada 65.531.” Lilu. Hlm. 36 “Dia ngebebasin kita menuliskan keluh kesah dan harapan ke dalam jiwanya. Tanpa pretensi, tanpa bikin kesal.” Nania.

Oh ya, meski ini novel Metropop, saya kok masih merasakan adanya nuansa Teenlit, terutama sampai pertengahan cerita. Mungkin karena Nania ini agak manja dengan ayahnya, plus digunakannya istilah “Pekan Sastra Remaja” pada acara yang dihadiri Nania. Barulah pada akhir cerita, di saat Nania harus memilih, saya merasakan kedewasaan Nania, sekaligus kedewasaan novel ini. Jujur saja saya termasuk yang pro dengan pilihan Nania. Percayalah, kalau Nania memilih sebaliknya, satu bintang sudah pasti akan berkurang 🙂

Kalau saya jadi Nania, saya sih nggak akan segitunya kesulitan menentukan pilihan. Karakter tokoh cowok-yang-tidak-jadi-dipilih Nania ini menurut saya agak lemah dan cenderung pasrah. Karakter favorit saya justru dua sahabat Nania, Lilu dan Deta, yang sukses memberi warna pada hari-hari suram Nania. Sayangnya, Lilu dan Deta ini karakternya masih “senapas”, tipe duo badut yang kurang bisa dibedakan satu sama lain. Bahkan, Bang Dean sendiri pun–dan juga lolos dari sensor Mbak Dinoy :P–sempat kecolongan menukar Lilu dan Deta. Pada hlm. 17 disebutkan kalau Deta-lah yang tengah dekat dengan Tito:

Jealous, jealous deh si Tito, lihat foto-foto gue sama si Boy ini,” ujar Deta sambil memperbesar wajah Boy di ponselnya.

Tapi, satu halaman kemudian, yang dipedekate Tito malah si Lilu. Yang bisa bikin jealous pun harusnya foto bersama Boy, bukan Dimas:

Oh, My God! Kenapa gue twitpic semua foto-foto gue sama si Dimas? Hadeeh!” pekik Lilu. “Lha, kenapa?” tanya Deta dan Nania serentak. “TITO’S BIRTHDAY BESOK!” teriak mereka bertiga serentak. “Aaaa… Delete, delete, delete!” “Mati lo, Lu! Tito bisa batal pedekate kalau dia lihat foto-foto selfie lo sama Dimas!”

Selain “pertukaran” di atas, ada lagi beberapa catatan lain: 1. Hlm. 31–32

Sebuah mobil sedan hitam berpelat nomor polisi terparkir di depan garasi. Nania mulai waswas. Pintu depan terbuka. Begitu Nania memasuki pintu, tiba-tiba seorang pria berseragam polisi mendadak berdiri sigap menyambut Nania.

Penggunaan nomor polisi ini agak rancu deh. Pelat nomor untuk kendaraan pribadi (meski bukan mobil polisi) itu tetap disebut pelat nomor polisi kok. Kalimat terakhir juga kurang efektif karena menggunakan tiba-tiba dan mendadak yang artinya sama. Jadi lebih baik salah satu saja:

(v) Begitu Nania memasuki pintu, tiba-tiba seorang pria berseragam polisi berdiri sigap menyambut Nania. (v) Begitu Nania memasuki pintu, seorang pria berseragam polisi mendadak berdiri sigap menyambut Nania.

2. Hlm. 38–39

Pada suatu siang Nania dan teman-temannya berkumpul di suatu tempat yang asri. Di sini Tito menjelaskan bahwa tempat tersebut pindahan dari Cikini, dulunya bernama Planten En Dierentuin dan merupakan taman bentukan organisasi Belanda bernama Culture Vereniging Planten En Dierentuin at Batavia. Paparan mengenai tempat tersebut ditutup dengan kata-kata Deta: “Dan sekarang, tadaaa… namanya telah menjadi Taman Margasatwa Ragunan.”

Fakta bahwa tempat tersebut adalah Ragunan terasa betul kalau sengaja diletakkan di akhir sebagai semacam kesimpulan/kejutan buat pembaca. Selain itu, paparan Tito soal sejarah Ragunan memang bagus, tapi cenderung agak “menceramahi”. Bagian ini jatuhnya jadi kurang natural.

3. Hlm. 65

“Mantri Jeron nggih, Pak,” ujar Raka sambil menurunkan ransel dari punggungnya. “Mantri Jeron ning hotel opo, Mas?” “Ora ning hotel. Ning omahku dhewe,” jawab Raka pendek.

Di luar Stasiun Tugu, Raka ditawari tumpangan oleh seorang pengemudi becak dan berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Meski Pak Tukang Becak berbahasa Jawa Ngoko, lebih pas rasanya kalau Raka menjawabnya dengan bahasa Jawa Krama.

4. Hlm. 88

(x) Perdebatan seru berlangsung di acara Diskusi Sastra Remaja yang bertempat di rumah kaca. Tiga pembicara dan satu moderator berhasil membuat riuh suasana. Peserta terdiri atas dua mahasiswa dari perguruan tinggi yang berbeda, dan satu siswa kelas tiga SMA. (v) Perdebatan seru berlangsung di acara Diskusi Sastra Remaja yang bertempat di rumah kaca. Tiga pembicara dan satu moderator berhasil membuat riuh suasana. Pembicara terdiri atas dua mahasiswa dari perguruan tinggi yang berbeda, dan satu siswa kelas tiga SMA.

5. Di awal disebutkan kalau Raka sebenarnya merasa berat bekerja di Jakarta karena meninggalkan ibunya di Jogja. Tetapi sewaktu Raka pergi–meski sebentar–ke tempat yang lebih jauh lagi, yaitu Jaipur, India, masalah ini tidak dibahas lagi. Seharusnya disinggung lagi–sekalimat saja cukup–bahwa ibunya mendukung kepergian Raka atau bagaimana.

6. Kalimat pertama pada hlm. 140 harusnya masih satu paragraf dengan kalimat di halaman sebelumnya.

7. Saat di India, Nania dan rombongannya dipandu oleh orang India bernama Aditya. Di sini Aditya selalu berbahasa Inggris. Hanya pada satu kalimat saja Aditya berbahasa Indonesia (meski maksudnya berbahasa Inggris), yaitu hlm. 149. Lebih baik satu kalimat itu sekalian diinggriskan saja. Nanggung euy!

8. Hlm. 195

Nania memejamkan mata, menggigit bibir, merasakan Raka mengecup bibirnya kemarin.

Adegan “kemarin” ini ada di hlm. 184–185, tapi saya baca sampai berkali-kali nggak ada adegan mengecup loh xD

9. Hlm. 195

(x) “Na, kita lupa ambil Pangeran Kertas di Maleeka Handmade Paper,” bisik Raka lembut. “Nggak apa-apa, Alvan ….” (v) “Na, kita lupa ambil Pangeran Kertas di Maleeka Handmade Paper,” bisik Alvan lembut. “Nggak apa-apa, Alvan ….”

10. Font puisi tidak seragam.

11. Kata Baku . café > kafe . cafeteria > kafeteria . hektar > hektare

12. Typo
(18) artis management > artist management/manajemen artis
(38) tarik napas dalam dalam > tarik napas dalam-dalam
(42) Makasih ya udah mau gue anterin > Makasih ya, udah mau gue anterin
(67) bica-ra > bicara
(84) menggaris bawahi > menggarisbawahi
(92) sa-ngat > sangat
(105) Awalnya gimana sih Mbak, bisa demam kayak gini? > Awalnya gimana sih, Mbak, bisa demam kayak gini?
(107) lo duduk di belakang Lu, pegangin Nania > lo duduk di belakang, Lu, pegangin Nania
(110) Alvan tahu adalah cowok yang > Alvan tahu dia adalah cowok yang
(120) ma-lah > malah
(140) She will br in love again > She will be in love again
(144) I’am > I am/I’m
(151) menik-mati > menikmati
(171) me-lihat > melihat
(176) de-pan > depan
(178) berpi-kir > berpikir
(183) im_pian > impian
(191) bu-lan > bulan
(209) Yogayakarta > Yogyakarta

Sebagai penutup, akan saya kutipkan satu kalimat favorit saya dari novel ini :’)

Tak ada yang lebih cantik ketika bulu mata seorang wanita basah karena air wudu. (Hlm. 97)

0

[ACK #4] Obsesi – Lexie Xu

★ ★ ★ ☆ ☆

obsesi

Judul: Obsesi
Penulis: Lexie Xu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Teenlit
Tebal: 240 hlm
Rilis: Oktober 2010
Harga toko: Rp40.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Halo, namaku Jenny Angkasa dan hidupku saat ini bagaikan deretan mimpi buruk.

Pertama-tama, aku dimusuhi Hanny, cewek paling populer di sekolah yang tadinya adalah sahabatku satu-satunya. Mantan sohibku itu kini menganggapku lebih rendah daripada amuba, bahkan aku dikutuk untuk menjalani hidup sial selamanya.

Kedua, dua teman sekelasku yang memiliki nama yang sama denganku mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan. Berdasarkan observasi umum, aku akan menjadi korban berikutnya. Bagaimana aku tidak deg-degan?

Ketiga, aku mulai uring-uringan tinggal di rumah yang sudah kudiami selama enam tahun terakhir ini. Memang sih, kabarnya rumahku dihantui oleh wanita bergaun putih dan berambut panjang serta seorang anak perempuan kecil. Tapi selama ini kami hidup berdampingan tanpa saling mengganggu kok. Kini, mendadak saja di rumahku muncul kejadian misterius.

Apa yang terjadi sebenarnya? Benarkah penyebab semua masalah ini adalah hantu-hantu masa lalu? Atau gara-gara kutukan Hanny yang ternyata manjur banget?

Atau ada misteri lain di balik semua ini?

Setelah sekian lama melihat buku-buku karya Lexie Xu (alias Kalex) berseliweran di beranda Goodreads, akhirnya kesampaian juga saya mengicipi salah satunya. Dari awal saya memang sudah berniat untuk membacanya sesuai urutan (Obsesi untuk Johan Series atau Omen untuk Omen Series). Sayangnya yang sering saya temukan justru sekuel-sekuelnya. Niat untuk mengikuti kedua seri ini jadi terpaksa tertunda sampai kemarin mata saya menangkap penampakan Obsesi di persewaan buku kesayangan.

Meski buku ini cenderung tipis, saya butuh waktu nyaris seminggu untuk menyelesaikannya. Tahu nggak kenapa? Bukan karena nggak menarik dan saya jadi malas baca. Bukan pula karena saking bagusnya bikin saya “eman-eman” untuk segera menyelesaikannya. Alasan buku ini lelet dibaca adalah: saya berani baca cuma kalau siang dengan sinar matahari terang benderang, hahaha xD Ini bacaan kedua yang sukses bikin saya jadi penakut, selain seri Kindaichi. Nggak heran sih kalau efeknya cenderung sama. Kindaichi ini pun disinggung sedikit di dalam Obsesi dan kemungkinan besar menjadi salah satu referensi Kalex dalam menulis.

Secara umum sih saya cukup menikmati buku ini. Cara berceritanya mengalir dan yang bikin salut: kayaknya zero typo! Memang ada beberapa ganjalan yang saya temui, tetapi juga tidak menganggu jalannya cerita secara keseluruhan kok, misalnya:

. Kata ganti orang yang masih belum konsisten. Kadang pakai aku-kamu, kadang pakai gue-elo. Yang bikin pusing terutama sewaktu Jenny-Hanny-Tony-Markus ngobrol berempat. Campur aduk aku-kamu-gue-elo nggak karuan.

. Katanya Johan ini cerdas, tapi dia kok nyuruh Jenny (atau Hanny ya? lupa) untuk mengikat tangan Tony dan Markus sih? Kalau saya jadi Jenny/Hanny tentunya saya bikin ikatan ecek-ecek yang gampang dibuka dong~

. Tony dan Markus ini cenderung bawel deh -,- Mungkin maksudnya cowok-cowok asyik gitu, sukses juga bikin Jenny nggak sependiam sebelumnya. Tapi … sedang dalam suasana tegang kayaknya kurang pas deh kalau kebanyakan ngelawak.

. Saya nggak tahu buku ini dimaksudkan untuk bergenre “whodunit” atau bukan. Kalau iya, rasanya pelakunya terlalu mudah ditebak. Tapi pembaca telat kayak saya sepertinya nggak berhak untuk ngomong gitu deng. Lha wong udah tahu juga kalau buku ini bakal jadi buku berseri dengan judul JOHAN SERIES. Malah kebangetan kalau dari awal nggak tahu siapa pelakunya 😛

Kalex menurut saya sukses menciptakan tren baru di dunia perbukuan, yaitu Teenlit-thriller. Mungkin Kalex bukan orang pertama yang menulis Teenlit dengan nuansa thriller, tapi saya tahu persis ada penerbit lain yang juga menerbitkan genre ini karena mengekor kesuksesan Johan Series dan Omen Series. Dan yang paling penting … bukankah sukses-bikin-pembaca-nggak-berani-baca-pada-malam-hari adalah pencapaian tertinggi seorang penulis thriller? :))

0

[ACK #3] Fantasy – Novellina A.

★ ★ ★ ☆ ☆

2015-01-23 10.02.16-1

Judul: Fantasy
Penulis: Novellina A.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Metropop
Tebal: 312 hlm
Rilis: April 2014
Edisi: Cetakan pertama, 2014
Harga toko: Rp62.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Butuh tujuh tahun bagi Davina untuk memberanikan diri menginjak kota Tokyo, mengejar kembali apa yang telah hancur saat ia membiarkan Awang pergi mengejar impian. Perjalanan itu bukan semata untuk memenangkan kembali cintanya, namun ia membawa benih mimpi sahabatnya, Armitha: mimpi untuk berada di satu panggung kompetisi piano bersama Awang untuk membuktikan siapa yang terhebat di antara keduanya.

Fantasy berarti mimpi, imajinasi. Hingga sejauh apa Davina, Armitha, dan Awang melalui jalan mimpi yang tak pernah mudah? Inilah saatnya cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kepercayaan teruji. Dari Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin, hingga Wina, mereka berlari menyambut mimpi, mencoba membuktikan bahwa mimpi tidak terlalu jauh untuk digapai selama mereka selalu melangkah untuk meraihnya.

Hmmm, semakin bagus sebuah novel memang semakin susah di-review ya? :)) Oke, mari kita mulai dari hal yang saya suka dulu.

. Novel ini bukan novel pertama yang mengangkat tema musik klasik, tetapi ini novel tentang musik klasik pertama yang sukses membuat saya “peduli” dengan tema itu. Saya sendiri kurang familier dengan musik klasik. Kalau dengar pun seringnya berupa interpretasi modern ala Depapepe. Saya jadi mengamini apa yang ditulis di kata pengantar: bagi orang biasa, musik klasik seperti mal kalangan atas bagi kaum marginal. Tetapi, demi lebih bisa memahami cerita, saya “mau” membuka YouTube dan mendengarkan beberapa komposisi yang disebut dalam novel. Dalam hal ini, Mbak Novellina sudah berhasil memperkenalkan musik klasik bagi kalangan bawah kayak saya 😛

. Ini novel debut, tetapi sudah cukup bagus. Dan artinya, ada satu lagi penulis potensial yang novel-novel berikutnya bisa saya nantikan 🙂 Sebenarnya novel ini cenderung puitis dan saya bukan termasuk penggemar fiksi dengan cara bertutur seperti itu, tetapi novel ini toh bisa saya nikmati.

Nah, biasanya sih novel yang bisa saya nikmati (novel debut pula) bakal saya kasih 4 bintang. Namun, 1 bintang terpaksa saya tahan karena rasanya masih ada beberapa hal yang kurang sreg di hati, misalnya:

. Novel ini dikisahkan dari dua sudut pandang, Davina dan Armitha. Tapi, serius deh, kalau nggak ditulis keterangan di tiap pergantian sudut pandang, rasanya kok saya bakal kesulitan membedakan. Bagi saya penuturan mereka terasa masih “senapas”. Perbedaan karakter mereka, bahwa Mitha itu periang, ceplas-ceplos, judes, sementara Davina lebih pendiam dan kecewek-cewekan kurang tergambarkan dengan jelas.

. Di awal disebut kalau Awang ini suka gangguin adek kelas, laksana bad boy yang nyamperin Davina pun ditemani “dayang-dayangnya” (yang kemudian nggak pernah disebut lagi), perawakannya juga cenderung besar sehingga seperti beruang cokelat. Gampangnya, saya tinggal mengasosiasikan seseorang di kehidupan nyata saya dengan ciri-ciri seperti itu sebagai Awang. Makin ke belakang gambaran ini makin nggak cocok dan prangg~ pecahlah gambaran “asosiasi Awang” di kepala saya. Saya jadi merasa karakter Awang kurang konsisten.

. Tertahannya rating 1 bintang dari novel ini terutama ketika bacaan saya masuk hlm. 213. Dari awal saya berharap novel ini menjadi novel-bagus-tanpa-tokoh-antagonis, tetapi harapan saya rupanya tidak terkabul.

. Hlm. 206: Mitha ini sudah jadi Parisian (dengan visa belajar?), apa benar perlu mengurus lagi Schengen visa untuk pergi ke Jerman?

. Belakangan Mitha cacat karena kecelakaan, tetapi sewaktu jalan-jalan bertiga di Wina dengan Awang dan Brian (hlm. 250) tidak disebutkan cara Mitha berjalan. Apa dia kelelahan berjalan dengan kruk? Atau malah didorong dengan kursi roda oleh Awang dan Brian? Padahal Mitha bisa berjalan tanpa kruk jauh setelah itu (disebut dalam suratnya untuk Davina, hlm. 303).

. Typo nggak banyak, tapi ya tetap ada:
(Hlm. 56) “Sudah-sudah. Ayo masuk … >> “Sudah, sudah. Ayo masuk …
(Hlm. 58) Valentina >> Valenntina
(Hlm. 126) mensejajarkan >> menyejajarkan
(Hlm. 135) ” … now” >> ” … now.”
(Hlm. 140) kebanggan >> kebanggaan
(Hlm. 145) carut marut >> karut-marut
(Hlm. 149) 1500 >> 1.500
(Hlm. 155) Orang ini suka joging malam-malam. >> Orang sini suka joging malam-malam.
(Hlm. 171) mengikut kompetisi >> mengikuti kompetisi
(Hlm. 174) keterjutanku >> keterkejutanku
(Hlm. 196) 1600 >> 1.600
(Hlm. 207) sang idol >> sang idola
(Hlm. 280) perasaannnya >> perasaannya
(Hlm. 310) sekerang >> sekarang

Ditunggu novel selanjutnya, Mbak Novellina 🙂