0

[DNS #8] Fangirl – Rainbow Rowell

★ ★ ☆ ☆ ☆

fangirl

Judul: Fangirl
Penulis: Rainbow Rowell
Penerbit: Spring
Genre: Young Adult
Tebal: 456 hlm
Rilis: November 2014
Harga toko: Rp74.000,00
Cara dapat: @ Social Agency Baru Jakal (20% OFF)

Cath dan Wren—saudari kembarnya—adalah penggemar Simon Snow. Oke, seluruh dunia adalah penggemar Simon Snow, novel berseri tentang dunia penyihir itu. Namun, Cath bukan sekadar fan. Simon Snow adalah hidupnya!

Cath bahkan menulis fanfiksi tentang Simon Snow menggunakan nama pena Magicath di Internet, dan ia terkenal! Semua orang menanti-nantikan fanfiksi Cath.

Semuanya terasa indah bagi Cath, sampai ia menginjakkan kaki ke universitas. Tiba-tiba saja, Wren tidak mau tahu lagi tentang Simon Snow, bahkan tak ingin menjadi teman sekamarnya! Dicampakkan Wren, dunia Cath jadi jungkir balik. Sendirian, ia harus menghadapi teman sekamar eksentrik yang selalu membawa pacarnya ke kamar, teman sekelas yang mengusik hatinya, juga profesor Penulisan Fiksi yang menganggap fanfiksi adalah tanda akhir zaman.

Seolah dunianya belum cukup terguncang, Cath juga masih harus mengkhawatirkan kondisi psikis ayahnya yang labil. Sekarang, pertanyaan buat Cath adalah: mampukah ia menghadapi semua ini?

Saya percaya rating (di Goodreads) sekadar perkara selera. Setelah membaca Fangirl saya jadi makin memercayainya 😛

Sesuai kronologi penerbitan Spring, saya membeli Fangirl dulu baru To All the Boys I’ve Loved Before (TATBILB). Mau nggak mau saya jadi menaruh harapan besar pada Fangirl. Buku pertama penerbit baru gitu lho. Berpuluh-puluh tahun kemudian–semoga Penerbit Spring berusia panjang–Fangirl ini nantinya akan terus dikenang layaknya Karmila di Gramedia.

Beberapa halaman pertama … kenapa saya nggak mudeng-mudeng yaa xD Susahhh bangettt masuk ke dalam cerita. Apa ini masalah penerjemahan aja? Saya lantas mengintip beberapa review di Goodreads. Dapat sedikit bocoran cerita juga bodo amat deh, sebaca saya nggak ada spoiler fatal kok. Dan yang penting para reviewer pada kasih rating tinggi (termasuk yang membaca versi terjemahan ini), jadi lumayan termotivasi deh baca lagi.

Baca … baca … baca …

Tetep nggak konsen, euy! Belum bisa masuk-masuk juga ke dunia mereka. Selingkuhin dengan buku lain dulu deh …

Buku selingkuhan (yang rating-nya nggak tinggi-tinggi amat) malah bisa terselesaikan dengan lancar, lanjut baca Fangirl lagi, menyerah lagi, selingkuh lagi, begitu seterusnya sampai Fangirl ini keluar-masuk dari rak “currently-reading” berkali-kali. Sampai buku terbitan kedua Spring–TATBILB–nongol, dan ikut jadi selingkuhan juga. Berbeda dengan Fangirl, TATBILB ini saya baca dalam semalam aja! Dan saya suka banget bangettt, terutama sama Peter Kavinsky x)

Nah, karena saya sekelebat pernah baca kalau Levi ini orangnya so sweet, siapa tahu kan ya Levi ini se-sweet Peter Kavinsky juga. Jadilah Peter Kavinsky TATBILB ini akhirnya lumayan berhasil menggerakkan saya untuk membaca Fangirl.

Ya memang berhasil terselesaikan sih, tapi bacanya tetap saja nggak bisa enjoy. Berasa baca buku sekadar untuk menunaikan kewajiban aja.

1. Kalimat-kalimatnya nggak mudengi xD Beberapa terlalu panjang, lainnya berasa sekali terjemahan yang belum diluweskan. Beberapa kalimat yang nggak mudengi, misalnya:

Hlm. 130

Rambutnya masih basah dan jatuh (basah, pirang) ke matanya.

Saya merasa nggak sreg dengan adanya kata-kata dalam kurung itu aja sih. Dan kemunculan kata-kata berkurung ini nggak cuma sekali.

Hlm. 362

Perawat tadi kembali dengan berkas-berkas pelepasan dan memberitahu Wren kalau ia harus meninggalkan rumah sakit dengan kursi roda.

Berkas pelepasan? Maksudnya berkas kepulangan?

2. Cerita Simon Snow dan fanfic-nya kurang bisa saya nikmati. Padahal itu lumayan signifikan untuk mendekatkan pembaca dan tokoh utama. Gini lho, Simon Snow itu berasa banget fanfic Harry Potter. Nah, fanfic-nya ini dibikin fanfic lagi. Mau nggak mau ngebayanginnya Simon-Baz = Harry-Draco. Jadinya malah geli xD Kemunculannya pun kebanyakan berupa fragmen-fragmen yang nggak membentuk cerita. Apa ya harus baca Carry On (yang belum terbit) dulu, baru bisa menikmati Fangirl ya?

3. Interaksi Cath-Levi anehhh xD Cath itu kayak terobsesi dengan rambut Levi, tulang apanyalah, dll. Tiap adegan skinship mereka itu alurnya lambat pula. Hoahem~

4. Dalam percakapan-percakapan mereka banyak referensi yang nggak langsung dikenal oleh pembaca Indonesia (minimal saya deh), misalnya Battlestar Gallactica, dll. Harusnya disertakan catatan kaki, biar saya pembaca lebih paham.

Jadi, Spring, terjemahin P.S. I Still Love You aja ya, Carry On nggak usah xD

***

Typo
(18) megetik > mengetik
(150) di-persembahkan > dipersembahkan
(373) inda > indah

0

[DNS #5] [TMH #3] You Are the Apple of My Eye – Giddens Ko

★ ★ ★ ☆ ☆ yataome

Judul: You Are the Apple of My Eye
Penulis: Giddens Ko
Penerbit: Haru
Genre: M-Novel
Tebal: 350 hlm
Rilis: Februari 2014
Harga toko: Rp63.000,00
Cara dapat: @ Social Agency Baru Jakal (20% OFF)

Kau sangat kekanak-kanakan – Shen Jiayi Sedikit pun kau tidak berubah, nenek yang keras kepala – Ke Jingteng

Semua berawal saat Ke Jingteng, seorang siswa pembuat onar, dipindahkan untuk duduk di depan Shen Jiayi, supaya gadis murid teladan itu bisa mengawasinya. Ke Jingteng merasa Shen Jiayi sangat membosankan seperti ibu-ibu, juga menyebalkan. Apalagi, gadis itu selalu suka menusuk punggungnya saat ia ingin tidur di kelas dengan pulpen hingga baju seragamnya jadi penuh bercak tinta. Namun, perlahan Ke Jingteng menyadari, kalau Shen Jiayi adalah seorang gadis yang sangat spesial untuknya.

Karena masa mudaku, semua adalah tentangmu…

Kalau ada buku terbitan Haru yang paling pengin saya baca, itu adalah You Are the Apple of My Eye karya Giddens Ko ini. Kenapa? Karena rating di Goodreads menggiurkan sekali~~ :d Sudah melampaui angka psikologis alias 4 koma. Sepinter apa pun seorang mahasiswa nggak akan ber-IP segitu, deh~ *halah* Nah, karena rating itulah saya jadi berharap banyak. Ekspektasi saya terhadap buku ini kadung tinggi. Jatuhnya jadi rawan kecewa dan memang itulah yang terjadi. Bukan berarti buku ini nggak bagus, tapi ya nggak sebagus “itu” saja.

Pertama, karakter Li Xiaohua ini “nggak guna” banget deh xD Kemunculannya terkesan malah jadi pengganggu aja. Harusnya buku ini tentang Ke Jingteng & Shen Jiayi, tapi “muter jauh” nyeritain Ke Jingteng & Li Xiaohua dulu. Kalau pakai analogi Romeo+Juliet, Li Xiaohua ini jadi kayak Rosaline. Sempat berarti buat Romeo, tapi ya keberadaannya langsung dilupakan begitu Juliet muncul. Kalau saja ini fiksi, dihilangkan juga nggak bakal terlalu ngefek. Berhubung ini semacam autobiografi, ya dimaklumi deh Li Xiaohua nongol, lha wong kenyataannya memang ada tokoh ini 😛 Lagian berkat tokoh Li Xiaohua jadi ada adegan “anjing Li Xiaohua” dan saya suka bangettt sama bagian itu x)

Kedua, saya kurang cocok dengan gaya bercerita penulisnya. Beberapa kali saya sempat tersendat untuk melanjutkan karena gayanya memang bukan tipe page turner. Terus, ada apa sih dengan adegan mengupil?? Apa ini ritual favorit Giddens Ko? Sering banget muncul sampai saya nyaris bisa memprediksi kapan muncul lagi. Kayaknya sih perupilan ini dimunculkan untuk memberikan kesan bahwa Ke Jingteng itu cuek dan slengekan, tapi porsinya too much sehingga pembaca jadi bosen.

Nah, selanjutnya sisi positif buku ini … Saya suka sekali pesan di buku ini bahwa love can bring out the best in someone. Ke Jingteng yang dulunya cuek sama pelajaran bisa jadi pinter lhooo~ Yang jelas buku ini bikin inget masa SMA banget, huhu. Bukan masalah romance-nya, tapi bagaimana keseharian pelajar menghadapi ujian itu loh … autentik banget deh penggambarannya! Inget banget bagaimana di papan tulis tertulis besar-besar: H- … menuju UM UGM. Tapi seingat saya kok nggak ada H- … menuju UN ya? Zaman saya kayaknya memang pada lebih mementingkan ujian masuk perguruan tinggi daripada ujian kelulusan 😛 Dan entah kenapa kok ya UGM-oriented sekali, padahal dalam kenyataannya banyak juga yang kemudian kuliah di UI, ITB, dll., tapi yang mendapat tempat kehormatan di papan tulis SMA saya cuma UGM, cih~ 😛 Jadi inget pula bagaimana saat kelas 3 SMA itu pada sering bolos massal. Tapi waktu bolos itu pun digunakan untuk belajar, ckck. Biasanya pelajaran yang ditinggal itu yang dianggap nggak penting, seringnya PPKn, ehehehe.

Waduh, ini sih kebanyakan curcol x)

Seperti biasa, review ditutup dengan catatan typo (yang sedikittt):

(173) Sepajang > Sepanjang
(268) kampusku > kampusku.

P.S. Habis ini saya mau cari filmnya ah~ Kayaknya sih bakal lebih bisa saya nikmati.

0

[ACK #6] Tongkat Ajaib Lolita #1: A Magical Birthday Present – Karla M. Nashar

★ ★ ★ ☆ ☆

ambp

Judul: A Magical Birthday Present
Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Teenlit
Tebal: 184 hlm
Rilis: Januari 2010
Harga toko: Rp25.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Pernah membayangkan bisa mendengar isi hati orang lain? Kedengarannya sih asyik, tapi coba tanya Lolita. Pasto cewek itu bakal menggeleng keras-keras.

Sebagai hadiah ulang tahun kelima belas, Lolita mendapat warisan tongkat kayu kecil dari pohon Baobab berumur ribuan tahun, yang membuatnya bisa mendengar isi hati orang lain yang membutuhkan pertolongannya. Seketika hidup Lolita berubah. Waktu gaulnya habis untuk membantu orang-orang tersebut. Ia pun dimusuhi kedua sahabatnya yang menganggapnya nggak asyik lagi. Untung ada Dharma. Bersama cowok sederhana itu, Lolita memulai pengalaman uniknya sebagai pemegang kekuatan kelima dalam keluarga besar Brahmadiningrat.

Belum lama ini saya bilang kalau saya kurang bisa menikmati buku-buku lokal yang tebalnya kurang dari 200 halaman, tapi ini saya malah baca yang tipis-tipis lagi, hehe … Serial Tongkat Ajaib Lolita ini udah sering saya lihat di KK Book Rental, tapi ya itu … gara-gara bukunya tipis saya jadi nggak begitu tertarik untuk membawanya pulang. Berhubung rating serial ini di Goodreads cukup tinggi, di rental pun komplet ada ketiga bukunya, yaweslah, saya ngicip satu buku dulu. Kalau bagus ya pinjam lanjutannya, kalau nggak ya udah, nggak usah diteruskan.

Meski tipis, konfliknya terselesaikan dengan cukup baik kok, nggak terburu-buru seperti yang saya khawatirkan pada buku-buku tipis biasanya. Di buku pertama ini, ada dua kasus yang harus dibantu Lolita, yaitu masalah teman sekelasnya yang pendiam dan dua orang gurunya yang saling suka, tapi masih malu-malu. Ada benih-benih cinta juga di antara Lolita dan Dharma, yang tentunya bakal berkembang di buku-buku selanjutnya. Satu-satunya yang nggak saya suka dari buku ini adalah karakter Charlotte yang ngeselin. Mana di buku selanjutnya si Charlotte ini masih nongol lagi -,-

Apakah buku ini cukup bagus sehingga membuat saya pengin baca lanjutannya? Baca lanjutannya sih pengin, tapi buku ini bukan yang bagus banget sehingga bikin saya pengin baca lanjutannya sesegera mungkin, hehe.

***

Catatan:

1. Hlm. 55

Jam lima sore Lolita dan teman-temannya sampai di rumah. Ketiganya langsung berebut mandi duluan. Setelah selesai, mereka bergegas mengenakan gaun masing-masing. Sebelumnya wajah mereka sudah dirias di salon.

Apa memang orang lain ada yang dirias dulu baru mandi ya? Saya soalnya biasanya mandi dulu baru dirias 😐

2. Typo
(32) semuaa > semua
(145) menganti > mengganti
(151) Darma > Dharma
(165) barus > harus

0

[ACK #5] [DNS #2] Pangeran Kertas – Syahmedi Dean

“Kamu juga harus tahu … setiap bunga punya dua kekasih. Satu kekasih impian, satu kekasih kenyataan.”

★ ★ ★ ☆ ☆ pangeran

Judul: Pangeran Kertas Penulis: Syahmedi Dean
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Metropop
Tebal: 224 hlm
Rilis: September 2014
Harga toko: Rp50.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Mungkinkah Nania jatuh cinta pada impian yang ia ciptakan sendiri? Mungkin. Nania hidup dalam kesepian panjang, di antara Papa, bintang televisi yang sangat tenar, dan Mama, ibu yang hancur karena ketenaran suami. Nania mencari cinta dalam puisi-puisi yang ia tulis, sampai ia jatuh cinta pada sosok yang ia ciptakan, seorang Pangeran Kertas yang berhati putih, yang bisa menerima keluh kesah apa pun dari Nania, yang di dadanya Nania bisa menumpahkan tinta kata-kata. Apa yang terjadi ketika Pangeran Kertas menjadi kenyataan? Mereka berdua beradu kata-kata indah di bawah rembulan, beradu tatapan mata bertukar cinta.

Bagaimana jika pangeran impian berhadapan dengan pangeran lain yang lebih nyata? Mana yang harus dimenangkan, impian atau kenyataan? Nania semakin digempur oleh dua pilihan, sangat membingungkan. Salah satunya selalu menyembuhkan ketika yang lain menyakitkan. Mana yang menyakitkan, impian atau kenyataan? Puisi-puisi Nania semakin mengalir ke hamparan kertas.

Nania berdiri di depan megahnya Taj Mahal, monumen cinta paling abadi di muka bumi, merasakan betapa beruntungnya dihujani cinta dan kasih sayang. Nania pun terseret ke Yogyakarta, tempat benteng-benteng tua yang bertahan melalui dera kenangan masa lalu. Mencintai dan dicintai. Impian dan kenyataan. Pilihan yang sulit namun tetap harus diambil, lalu suatu hari nanti pilihan tersebut akan menjadi kenangan berair mata.

Pangeran Kertas merupakan novel kedelapan–sejauh ini novel terakhir–karya Syahmedi Dean, tetapi novel ini justru menjadi novel pertama karya Bang Dean yang saya baca. Dari segi tema sih sebenarnya tidak terlalu istimewa, yaitu kisah cinta segitiga antara Nania, sang “kekasih impian”, dan sang “kekasih kenyataan”. Untungnya, saya cukup suka dengan gaya bercerita Bang Dean yang mengalir. Dibanding tema novel sebagus apa pun, saya sih lebih memilih gaya bercerita sang penulisnyalah yang bagus. Syukur-syukur tema dan storytelling penulis sama bagusnya. Gaya cerita mengalir ini menurut saya karena Bang Dean banyak menggunakan dialog, tapi sayang jadi ada yang kelewatan belum diberi keterangan kata kerjanya, misalnya sahut, ujar, jawab, dll.:

Hlm. 18 “Cek jumlah followers-nya,” ujar Nania. “Huhu… Ada 65.531.” Lilu. Hlm. 36 “Dia ngebebasin kita menuliskan keluh kesah dan harapan ke dalam jiwanya. Tanpa pretensi, tanpa bikin kesal.” Nania.

Oh ya, meski ini novel Metropop, saya kok masih merasakan adanya nuansa Teenlit, terutama sampai pertengahan cerita. Mungkin karena Nania ini agak manja dengan ayahnya, plus digunakannya istilah “Pekan Sastra Remaja” pada acara yang dihadiri Nania. Barulah pada akhir cerita, di saat Nania harus memilih, saya merasakan kedewasaan Nania, sekaligus kedewasaan novel ini. Jujur saja saya termasuk yang pro dengan pilihan Nania. Percayalah, kalau Nania memilih sebaliknya, satu bintang sudah pasti akan berkurang 🙂

Kalau saya jadi Nania, saya sih nggak akan segitunya kesulitan menentukan pilihan. Karakter tokoh cowok-yang-tidak-jadi-dipilih Nania ini menurut saya agak lemah dan cenderung pasrah. Karakter favorit saya justru dua sahabat Nania, Lilu dan Deta, yang sukses memberi warna pada hari-hari suram Nania. Sayangnya, Lilu dan Deta ini karakternya masih “senapas”, tipe duo badut yang kurang bisa dibedakan satu sama lain. Bahkan, Bang Dean sendiri pun–dan juga lolos dari sensor Mbak Dinoy :P–sempat kecolongan menukar Lilu dan Deta. Pada hlm. 17 disebutkan kalau Deta-lah yang tengah dekat dengan Tito:

Jealous, jealous deh si Tito, lihat foto-foto gue sama si Boy ini,” ujar Deta sambil memperbesar wajah Boy di ponselnya.

Tapi, satu halaman kemudian, yang dipedekate Tito malah si Lilu. Yang bisa bikin jealous pun harusnya foto bersama Boy, bukan Dimas:

Oh, My God! Kenapa gue twitpic semua foto-foto gue sama si Dimas? Hadeeh!” pekik Lilu. “Lha, kenapa?” tanya Deta dan Nania serentak. “TITO’S BIRTHDAY BESOK!” teriak mereka bertiga serentak. “Aaaa… Delete, delete, delete!” “Mati lo, Lu! Tito bisa batal pedekate kalau dia lihat foto-foto selfie lo sama Dimas!”

Selain “pertukaran” di atas, ada lagi beberapa catatan lain: 1. Hlm. 31–32

Sebuah mobil sedan hitam berpelat nomor polisi terparkir di depan garasi. Nania mulai waswas. Pintu depan terbuka. Begitu Nania memasuki pintu, tiba-tiba seorang pria berseragam polisi mendadak berdiri sigap menyambut Nania.

Penggunaan nomor polisi ini agak rancu deh. Pelat nomor untuk kendaraan pribadi (meski bukan mobil polisi) itu tetap disebut pelat nomor polisi kok. Kalimat terakhir juga kurang efektif karena menggunakan tiba-tiba dan mendadak yang artinya sama. Jadi lebih baik salah satu saja:

(v) Begitu Nania memasuki pintu, tiba-tiba seorang pria berseragam polisi berdiri sigap menyambut Nania. (v) Begitu Nania memasuki pintu, seorang pria berseragam polisi mendadak berdiri sigap menyambut Nania.

2. Hlm. 38–39

Pada suatu siang Nania dan teman-temannya berkumpul di suatu tempat yang asri. Di sini Tito menjelaskan bahwa tempat tersebut pindahan dari Cikini, dulunya bernama Planten En Dierentuin dan merupakan taman bentukan organisasi Belanda bernama Culture Vereniging Planten En Dierentuin at Batavia. Paparan mengenai tempat tersebut ditutup dengan kata-kata Deta: “Dan sekarang, tadaaa… namanya telah menjadi Taman Margasatwa Ragunan.”

Fakta bahwa tempat tersebut adalah Ragunan terasa betul kalau sengaja diletakkan di akhir sebagai semacam kesimpulan/kejutan buat pembaca. Selain itu, paparan Tito soal sejarah Ragunan memang bagus, tapi cenderung agak “menceramahi”. Bagian ini jatuhnya jadi kurang natural.

3. Hlm. 65

“Mantri Jeron nggih, Pak,” ujar Raka sambil menurunkan ransel dari punggungnya. “Mantri Jeron ning hotel opo, Mas?” “Ora ning hotel. Ning omahku dhewe,” jawab Raka pendek.

Di luar Stasiun Tugu, Raka ditawari tumpangan oleh seorang pengemudi becak dan berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Meski Pak Tukang Becak berbahasa Jawa Ngoko, lebih pas rasanya kalau Raka menjawabnya dengan bahasa Jawa Krama.

4. Hlm. 88

(x) Perdebatan seru berlangsung di acara Diskusi Sastra Remaja yang bertempat di rumah kaca. Tiga pembicara dan satu moderator berhasil membuat riuh suasana. Peserta terdiri atas dua mahasiswa dari perguruan tinggi yang berbeda, dan satu siswa kelas tiga SMA. (v) Perdebatan seru berlangsung di acara Diskusi Sastra Remaja yang bertempat di rumah kaca. Tiga pembicara dan satu moderator berhasil membuat riuh suasana. Pembicara terdiri atas dua mahasiswa dari perguruan tinggi yang berbeda, dan satu siswa kelas tiga SMA.

5. Di awal disebutkan kalau Raka sebenarnya merasa berat bekerja di Jakarta karena meninggalkan ibunya di Jogja. Tetapi sewaktu Raka pergi–meski sebentar–ke tempat yang lebih jauh lagi, yaitu Jaipur, India, masalah ini tidak dibahas lagi. Seharusnya disinggung lagi–sekalimat saja cukup–bahwa ibunya mendukung kepergian Raka atau bagaimana.

6. Kalimat pertama pada hlm. 140 harusnya masih satu paragraf dengan kalimat di halaman sebelumnya.

7. Saat di India, Nania dan rombongannya dipandu oleh orang India bernama Aditya. Di sini Aditya selalu berbahasa Inggris. Hanya pada satu kalimat saja Aditya berbahasa Indonesia (meski maksudnya berbahasa Inggris), yaitu hlm. 149. Lebih baik satu kalimat itu sekalian diinggriskan saja. Nanggung euy!

8. Hlm. 195

Nania memejamkan mata, menggigit bibir, merasakan Raka mengecup bibirnya kemarin.

Adegan “kemarin” ini ada di hlm. 184–185, tapi saya baca sampai berkali-kali nggak ada adegan mengecup loh xD

9. Hlm. 195

(x) “Na, kita lupa ambil Pangeran Kertas di Maleeka Handmade Paper,” bisik Raka lembut. “Nggak apa-apa, Alvan ….” (v) “Na, kita lupa ambil Pangeran Kertas di Maleeka Handmade Paper,” bisik Alvan lembut. “Nggak apa-apa, Alvan ….”

10. Font puisi tidak seragam.

11. Kata Baku . café > kafe . cafeteria > kafeteria . hektar > hektare

12. Typo
(18) artis management > artist management/manajemen artis
(38) tarik napas dalam dalam > tarik napas dalam-dalam
(42) Makasih ya udah mau gue anterin > Makasih ya, udah mau gue anterin
(67) bica-ra > bicara
(84) menggaris bawahi > menggarisbawahi
(92) sa-ngat > sangat
(105) Awalnya gimana sih Mbak, bisa demam kayak gini? > Awalnya gimana sih, Mbak, bisa demam kayak gini?
(107) lo duduk di belakang Lu, pegangin Nania > lo duduk di belakang, Lu, pegangin Nania
(110) Alvan tahu adalah cowok yang > Alvan tahu dia adalah cowok yang
(120) ma-lah > malah
(140) She will br in love again > She will be in love again
(144) I’am > I am/I’m
(151) menik-mati > menikmati
(171) me-lihat > melihat
(176) de-pan > depan
(178) berpi-kir > berpikir
(183) im_pian > impian
(191) bu-lan > bulan
(209) Yogayakarta > Yogyakarta

Sebagai penutup, akan saya kutipkan satu kalimat favorit saya dari novel ini :’)

Tak ada yang lebih cantik ketika bulu mata seorang wanita basah karena air wudu. (Hlm. 97)

0

[DNS #1] Much Ado about Marriage – Karen Hawkins

★ ★ ☆ ☆ ☆

MAAM

Judul: Much Ado about Marriage
Penulis: Karen Hawkins
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 496 hlm
Rilis: Desember 2013
Harga toko: Rp62.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Pertemuan Thomas Wentworth dengan Fia MacLean yang cantik dan penuh semangat membuat misi mata-matanya berantakan. Belum lagi ketika bermesraan di hutan dengan gadis itu membuatnya ditangkap dan dikurung di kastel MacLean! Seakan kegagalan misinya belum cukup, upaya Thomas melarikan diri malah berujung pada hal yang paling tak ia inginkan: ia dipaksa menikahi Fia karena tertangkap basah dalam situasi—yang tampak—tak senonoh.

Sementara bagi Fia, walaupun enggan, pernikahannya dengan sang earl dari Inggris itu memberikan hikmah tersendiri. Ia terbebas dari perjodohan yang tak diinginkan, dan akan semakin dekat dengan mimpinya: pergi ke London untuk menjadi penulis drama.

Seiring waktu, Fia dan Thomas semakin kesulitan mengingkari perasaan terhadap satu sama lain. Meski Thomas bertekad meminta pembatalan pernikahan sesampainya di London, kehadiran Fia dalam hidupnya jelas menguji tekadnya itu.

Setelah saya ingat-ingat lagi (dan cek di Goodreads), Much Ado about Marriage ini rupanya merupakan genre hisrom pertama yang saya baca. Sebelumnya saya memang tidak pernah tertarik dengan hisrom karena untuk urusan novel hhhottt saya kadung cinta dengan yang dipadukan unsur suspense ala Sandra Brown. Hisrom pertama saya ini pun sepertinya belum bisa membuat saya tertarik untuk membaca hisrom lainnya 😛

Dari sisi karakter, misalnya. Heroin semacam Fia ini jelas bukan tipe favorit saya. Awalnya sih saya lumayan suka dengan sifatnya yang periang, penyayang binatang, dan cenderung tomboy (Btw, gambaran saya akan Fia kurang cocok dengan mbak-mbak yang di kover depan). Tapi makin belakang, Fia-nya kok jadi agak lenjeh dan err … gampangan. Tiap ketemu Thomas bawaannya agresif, pengen dicium mulu. Puncak kegemesan saya adalah sewaktu Fia memohon-mohon ke Thomas dengan bilang … “Bercintalah denganku.” -,- Ya tahu sih ini novel hhhottt, tapi kalau dibikin jaim dikit gitu (((kayaknya))) bakal lebih romantis kok. Thomas-nya juga sama aja. Sewaktu konflik utama akhirnya muncul, si Thomas ini main ngamuk aja, nggak mau dengerin penjelasan apa-apa. Tapi kalau dia mau dengerin penjelasan juga nggak jadi ada konflik, gimana dong? 😛

Soal konflik utama ini menurut saya memang cenderung lemah sih. Dari 496 halaman, nongolnya baru di halaman 432. Itu pun penyelesaiannya gampang, satu bab kemudian segala kesalahpahaman sudah terpecahkan. 432 halaman sebelumnya ngapain dong? Namanya juga novel hhhottt, sudah ketebak kan ngapain aja? x) Meskipun secara keseluruhan kurang bisa dinikmati, ada satu hal yang saya suka dari novel ini, yaitu perihal taruhan Robert dan Fia. Menurut saya taruhannya cute :”)

Oh ya, karena diikutkan untuk challenge dari Mbak Dinoy yang merupakan proofreader buku ini, berikut saya sertakan sedikit catatan kebahasaan:

Huruf Kapital
(110) Yang di atas > Yang di Atas (konteksnya Tuhan)

Inkonsistensi
. countess dan countess
. his lordship dan His Lordship
. laird dan laird

Kalimat
. Hlm. 37
(x) Kalau Angus punya pengetahuan sebanyak yang kaukatakan, kita akan mengajak dan Mary
(v) Kalau Angus punya pengetahuan sebanyak yang kaukatakan, kita akan mengajaknya dan Mary
. Hlm. 75
(x) Tidak manis, aku bukan Duncan
(v) Tidak, Manis, aku bukan Duncan
. Hlm. 164
(x) Ia akan mencari cara untuk mendekati pria keras kepala yang terpaksa setidaknya mereka bisa menjadi teman.
. Hlm. 203
(x) Dan aku tahu menurutmu secantik fisik dia menarik.
(v) Dan aku tahu menurutmu secara fisik dia menarik.
. Hlm. 358
(x) Duncan mengingatkannya bahwa kehangatan ini tidak nyata. Kedekatannya dengan Thomas bahwa hanya bersifat sementara.
(v) Duncan mengingatkannya bahwa kehangatan ini tidak nyata. Bahwa kedekatannya dengan Thomas hanya bersifat sementara.

Kata Baku (tergantung selingkung penerbit)
. mencelos > mencelus

Pemenggalan (Banyak ditemukan pemenggalan di tengah baris. Dilihat dari jumlahnya, kayaknya ini masalah teknis kali ya?)
(86) pu-nya
(88) meng-izin
(114) ti-dak
(122) ren-da
(217) meng-hin
(245) ja-wab
(253) ter-tekan
(278) ba-wah
(302) kori-dor
(309) bebera-pa
(427) ten-tang
(466) ban-tuan

Spasi
(250) takkasat > tak kasat

Tanda Baca
(166) membersihkan, menambatkan dan menangani kargo > membersihkan, menambatkan, dan menangani kargo
(289) “Terima kasih. > “Terima kasih.”
(306) Mary, Angus dan para binatang > Mary, Angus, dan para binatang

Typo
(15) dikatanan > dikatakan
(15) padahnya > padanya
(41) grak-geriknya > gerak-geriknya
(111) menyakitmu > menyakitimu
(190) kal > akal
(313) kamarnnya > kamarnya
(468) memberitahuaku > memberitahuku