[ACK #7] [DNS #6] A Beautiful Mess – Rosi L. Simamora

★ ★ ★ ☆ ☆

abm
Judul: A Beautiful Mess
Penulis: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Metropop
Tebal: 344 hlm
Rilis: Februari 2015
Harga toko: Rp75.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Sebuah rahasia kelam memaksa Freya, gadis manja dan “high maintenance”, meminta bantuan ayahnya, lalu dengan terpaksa menerima nasib menyingkir ke pulau terpencil.

Di sana ia harus bekerja, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Freya seumur hidupnya. Dan siapa lagi yang mengawasi Freya kalau bukan Lian, pria tampan yang sepertinya membenci Freya sejak awal?

Namun Lian juga menyimpan rahasia. Dan diam-diam, ia menyadari sesuatu telah tumbuh. Cintakah? Tidak. Tidak. Jangan cinta!

Dan benarkah Freya telah berhasil meninggalkan masa lalunya? Ataukah… hantu masa lalu yang kelam namun teramat memikat itu akhirnya mengejar Freya hingga ke ujung dunia, dan ia selamanya takkan pernah lepas darinya? Takluk kembali pada satu-satunya laki-laki yang membuatnya begitu hidup, dan sekaligus mati?

Kisah ini bercerita tentang cinta. Dan nafsu. Tentang jatuh. Dan bangkit. Tentang luka dan rasa takut. Dan bagaimana menaklukkannya.

Mulanya review ini mau saya awali dengan “Ini adalah karya pertama Rosi L. Simamora yang saya baca …”, tapi saya lantas teringat kalau sudah membaca Autumn Once More. Seingat saya banyak editor GPU yang menjadi kontributor buku itu, jadi kemungkinan besar saya pernah baca karya Mbak Rosi sebelumnya dong. Setelah googling sebentar, benar ternyata ada satu cerpen karya Mbak Rosi di sana. Judulnya “Senja yang Sempurna”. Sayangnya saya nggak ingat bagaimana ceritanya. Rupanya karya tersebut belum bisa meninggalkan kesan tertentu bagi saya, hehehe.

Lantas bagaimana kesan saya terhadap A Beautiful Mess ini? Coba deh dari kesan positif dulu ….

1. Saya nggak follow twitter-nya Mbak Rosi, tapi ada satu twitnya yang pernah nongol di TL dan membekas di ingatan saya (di-retweet Mbak Dinoy kalau nggak salah):

@rosimamora67: Krn kata2 adlh senjata utama penulis, bukalah kamus sesering mungkin. Pelajari kata2 baru, mk tulisanmu lebih kaya n berwarna. #WritingTips

Dan Mbak Rosi ini orangnya walk-the-talk banget. Diksi di novelnya itu … beuh … juara! Saya ini orang yang nggak malas-malas amat buka kamus (tuntutan kerjaan), tapi buanyakkk banget diksi di novel ini yang lumayan asing buat saya. Misalnya nih … merancap, bertemperasan, berkeredap, tubir, lindap, degil. Kata-kata dewa banget deh itu semua!

2. Meski setting-nya di Indonesia Timur, novel ini Batak banget dan membuka mata saya perihal budayanya. Dari yang semula nggak tahu apa-apa soal pariban, ya sekarang jadi tahu sedikit lah. Terus jadi mengerti juga bagaimana situasi keluarga Batak yang tidak punya keturunan laki-laki.

Nah, sekarang giliran kesan negatif …

1. Saya kurang suka gaya bercerita Mbak Rosi ketika hendak menekankan sesuatu. Biasanya kata yang ditekankan akan diulang tiga kali! Kali! Kali! Ya seperti ini! Ini! Ini! Dan itu berkali! Kali! Kali! Jadinya saya bosen! Bosen! Bosen!

2. Setiap Freya mengobrol dengan Patar itu … ya Tuhaaannn! Pengen saya skip! Benar-benar uji kesabaran! Gaya merayunya si Patar ini benar-benar nggak berkelas dan jadinya saya ikut sebel sama Freya yang meladeninya (kebanyakan sengaja supaya Lian cemburu). Mana dibilang cewek-cewek pada klepek-klepek kalau sudah kena rayuan Patar +_+

3. Saya nggak terlalu peduli sama tokoh-tokohnya. Habisnya nggak ada yang lovable. Patar-nya jelas ngeselin. Freya juga ikutan ngeselin. Alasan Lian ngambek sama Freya pun menurut saya kurang kuat dan agak kekanak-kanakan. Jadi ya memang susah untuk bisa sepenuhnya menikmati novel ini.

***

Catatan Kebahasaan
1. Hlm. 254

030259
made by Waraopea
Desa Syuru
US$ 2412

031267
Perahu Roh
made by Wilmora
US$ 2308

Yang di atas ini adalah keterangan produk patung yang dibikin Freya. Saya kurang sreg aja sama konsistensi urutannya. Mending disamain aja urutannya, misal: kode-judul patung-nama pemahat-harga.

2. Hlm. 262–263

Soal fakta-fakta tentang kepemilikan Lian akan resor itu kok agak aneh ya. Nggak ada penjelasan dari siapa pun, tetapi tiba-tiba Freya tahu akan fakta-fakta tersebut. Mungkin maksudnya pada saat itu ayah Freya menjelaskannya, tetapi hal itu nggak disebutkan sama sekali tuh. Jadi langsung masuk narasi pembeberan fakta-fakta dan kesannya Freya tahu begitu saja.

Saya juga nemu Ferya, mencap, dan mem baca (harusnya Freya, mengecap, dan membaca), tapi lupa nggak saya catat di halaman berapa. Untuk masalah kebahasaan ini nggak bisa saya bahas maksimal nih. Soalnya saya nulis review ini dalam keadaan udah nggak pegang bukunya, hehehe … v(^^)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s