0

[DNS #8] Fangirl – Rainbow Rowell

★ ★ ☆ ☆ ☆

fangirl

Judul: Fangirl
Penulis: Rainbow Rowell
Penerbit: Spring
Genre: Young Adult
Tebal: 456 hlm
Rilis: November 2014
Harga toko: Rp74.000,00
Cara dapat: @ Social Agency Baru Jakal (20% OFF)

Cath dan Wren—saudari kembarnya—adalah penggemar Simon Snow. Oke, seluruh dunia adalah penggemar Simon Snow, novel berseri tentang dunia penyihir itu. Namun, Cath bukan sekadar fan. Simon Snow adalah hidupnya!

Cath bahkan menulis fanfiksi tentang Simon Snow menggunakan nama pena Magicath di Internet, dan ia terkenal! Semua orang menanti-nantikan fanfiksi Cath.

Semuanya terasa indah bagi Cath, sampai ia menginjakkan kaki ke universitas. Tiba-tiba saja, Wren tidak mau tahu lagi tentang Simon Snow, bahkan tak ingin menjadi teman sekamarnya! Dicampakkan Wren, dunia Cath jadi jungkir balik. Sendirian, ia harus menghadapi teman sekamar eksentrik yang selalu membawa pacarnya ke kamar, teman sekelas yang mengusik hatinya, juga profesor Penulisan Fiksi yang menganggap fanfiksi adalah tanda akhir zaman.

Seolah dunianya belum cukup terguncang, Cath juga masih harus mengkhawatirkan kondisi psikis ayahnya yang labil. Sekarang, pertanyaan buat Cath adalah: mampukah ia menghadapi semua ini?

Saya percaya rating (di Goodreads) sekadar perkara selera. Setelah membaca Fangirl saya jadi makin memercayainya 😛

Sesuai kronologi penerbitan Spring, saya membeli Fangirl dulu baru To All the Boys I’ve Loved Before (TATBILB). Mau nggak mau saya jadi menaruh harapan besar pada Fangirl. Buku pertama penerbit baru gitu lho. Berpuluh-puluh tahun kemudian–semoga Penerbit Spring berusia panjang–Fangirl ini nantinya akan terus dikenang layaknya Karmila di Gramedia.

Beberapa halaman pertama … kenapa saya nggak mudeng-mudeng yaa xD Susahhh bangettt masuk ke dalam cerita. Apa ini masalah penerjemahan aja? Saya lantas mengintip beberapa review di Goodreads. Dapat sedikit bocoran cerita juga bodo amat deh, sebaca saya nggak ada spoiler fatal kok. Dan yang penting para reviewer pada kasih rating tinggi (termasuk yang membaca versi terjemahan ini), jadi lumayan termotivasi deh baca lagi.

Baca … baca … baca …

Tetep nggak konsen, euy! Belum bisa masuk-masuk juga ke dunia mereka. Selingkuhin dengan buku lain dulu deh …

Buku selingkuhan (yang rating-nya nggak tinggi-tinggi amat) malah bisa terselesaikan dengan lancar, lanjut baca Fangirl lagi, menyerah lagi, selingkuh lagi, begitu seterusnya sampai Fangirl ini keluar-masuk dari rak “currently-reading” berkali-kali. Sampai buku terbitan kedua Spring–TATBILB–nongol, dan ikut jadi selingkuhan juga. Berbeda dengan Fangirl, TATBILB ini saya baca dalam semalam aja! Dan saya suka banget bangettt, terutama sama Peter Kavinsky x)

Nah, karena saya sekelebat pernah baca kalau Levi ini orangnya so sweet, siapa tahu kan ya Levi ini se-sweet Peter Kavinsky juga. Jadilah Peter Kavinsky TATBILB ini akhirnya lumayan berhasil menggerakkan saya untuk membaca Fangirl.

Ya memang berhasil terselesaikan sih, tapi bacanya tetap saja nggak bisa enjoy. Berasa baca buku sekadar untuk menunaikan kewajiban aja.

1. Kalimat-kalimatnya nggak mudengi xD Beberapa terlalu panjang, lainnya berasa sekali terjemahan yang belum diluweskan. Beberapa kalimat yang nggak mudengi, misalnya:

Hlm. 130

Rambutnya masih basah dan jatuh (basah, pirang) ke matanya.

Saya merasa nggak sreg dengan adanya kata-kata dalam kurung itu aja sih. Dan kemunculan kata-kata berkurung ini nggak cuma sekali.

Hlm. 362

Perawat tadi kembali dengan berkas-berkas pelepasan dan memberitahu Wren kalau ia harus meninggalkan rumah sakit dengan kursi roda.

Berkas pelepasan? Maksudnya berkas kepulangan?

2. Cerita Simon Snow dan fanfic-nya kurang bisa saya nikmati. Padahal itu lumayan signifikan untuk mendekatkan pembaca dan tokoh utama. Gini lho, Simon Snow itu berasa banget fanfic Harry Potter. Nah, fanfic-nya ini dibikin fanfic lagi. Mau nggak mau ngebayanginnya Simon-Baz = Harry-Draco. Jadinya malah geli xD Kemunculannya pun kebanyakan berupa fragmen-fragmen yang nggak membentuk cerita. Apa ya harus baca Carry On (yang belum terbit) dulu, baru bisa menikmati Fangirl ya?

3. Interaksi Cath-Levi anehhh xD Cath itu kayak terobsesi dengan rambut Levi, tulang apanyalah, dll. Tiap adegan skinship mereka itu alurnya lambat pula. Hoahem~

4. Dalam percakapan-percakapan mereka banyak referensi yang nggak langsung dikenal oleh pembaca Indonesia (minimal saya deh), misalnya Battlestar Gallactica, dll. Harusnya disertakan catatan kaki, biar saya pembaca lebih paham.

Jadi, Spring, terjemahin P.S. I Still Love You aja ya, Carry On nggak usah xD

***

Typo
(18) megetik > mengetik
(150) di-persembahkan > dipersembahkan
(373) inda > indah

0

[DNS #7] [TMH #4] Wishing Her to Die – Jung Soo Hyun

★ ★ ★ ☆ ☆

wishing

Judul: Wishing Her to Die
Penulis: Jung Soo Hyun
Penerbit: Haru
Genre: K-Iyagi
Tebal: 408 hlm
Rilis: Maret 2014
Harga toko: Rp67.000,00
Cara dapat: @ Publisher Outlet (20% OFF)

Kepada Lee Min-ah.
Salam kenal. Aku Yoon Jae-hee. Meski sulit dipercaya, sekarang aku ada di dalam tubuhmu.

Jae-hee

Nasibku sungguh sial: pacarku meninggalkanku, aku tidak lulus audisi musikal, ditambah lagi aku mati ditabrak truk.
Tapi aku mendapat kesempatan untuk merasuki tubuh orang lain meskipun hanya sehari, dan aku mengambil kesempatan itu.

Boleh, kan? Hanya satu hari saja.

Min-ah

Orang pikir aku memiliki segalanya: karier sebagai pengacara di firma hukum raksasa Korea, kecantikan, dan kekayaan. Tapi, aku masih terikat dengan masa laluku. Aku harus menyelidiki semuanya sampai tuntas.

Namun, kenapa aku membuang waktu mengikuti audisi musikal yang bahkan tak bisa kuingat? Ke mana ingatanku selama beberapa jam itu? Jae-hee? Siapa Jae-hee?

Kenapa sepertinya dia menginginkan tubuhku selamanya?

Setelah puas dengan Girls in the Dark, ekspektasi saya terhadap Wishing Her to Die jadi meningkat pesat. Meski tidak bisa dibilang segenre, bagi saya kedua buku ini sepintas mirip: sama-sama (1) terbitan Haru, (2) bertema non-romance dengan (3) kover bernuansa gelap dan misterius.

Buku ini mulai saya baca sebagai pengantar tidur. Di awal memang agak susah masuk ke dunia Jae-hee dan Min-ah, tapi keseruan baru dimulai ketika mereka berdua saling berkirim surat. Dalam pertarungan memperebutkan tubuh (sekaligus pria) ini, awalnya saya pikir pembaca bakal disetir untuk lebih “memihak” Jae-hee yang gemuk-berhati-baik dibanding Min-ah yang bitchy-nan-cantik. Tapi rupanya cerita ini nggak sedangkal itu kok. Ke belakang saya justru lebih menyukai Min-ah yang cerdas dan punya strategi tersendiri untuk mempertahankan tubuhnya.

Berhubung ngantuk, buku ini saya tutup di halaman 200-an. Sekali duduk bisa betah baca segitu lho, ya memang semenarik itulah buku itu di awal. Sayangnya, begitu saya lanjutkan sehari kemudian, keajaiban itu sudah menghilang ….

Ketika ada ramalan bahwa akan terjadi kecelakaan dan hanya satu jiwa saja yang akan tinggal dalam tubuh tersebut, otak saya tidak cukup prima untuk mencerna mana yang akan terus hidup dan mana yang tidak. Prosedurnya agak mbingungi (bagi otak saya :)). Kekecewaan terbesar saya terhadap buku ini terutama pada halaman 325–345 ketika ada salah satu tokoh kunci menceritakan masa lalunya. Jawaban satu buku ditumpuk di bagian ini! Akan lebih baik kalau dicicil dari awal atau gimana. Si tokoh kunci ini pun udah ketebak di pertengahan cerita, jadi ya memang setelah 200-an halaman itu nggak ada motivasi kuat untuk melanjutkan membaca dengan semangat.

***

Catatan Kebahasaan
1. Kalimat membingungkan

a. Hlm. 138

Untuk mendapatkan rekomendasi magang di Goldman-Sachs, ia mencoba mendekat dan merawat dua anak perempuan profesornya yang membanggakan peringkat pertama selama dua bulan.

b. Hlm. 264

Menurut artikel yang dulu pernah ia cari, Grup Hyesung dipecah menjadi puluhan perusahaan kecil dan dijual ke perusahaan lain. Namun dalam surat wasiat itu, anak laki-laki tertua mewarisi seluruh perusahaan. Tidak ada manajer yang memecah perusahaannya sendiri seperti itu karena tidak selesai.

2. Font surat di hlm. 241 berbeda dengan sebelumnya.

3. Typo
(Blurb) mengambl > mengambil
(Blurb) karir > karier
(13) Gangnamyang > Gangnam yang
(104) kusinya > kursinya
(138) Golman-Sachs > Goldman-Sachs
(257–258) mengeta-ui > mengeta-hui
(268) menyenang-kan > menyenangkan
(272) tahu?Tidak > tahu? Tidak

0

[ACK #7] [DNS #6] A Beautiful Mess – Rosi L. Simamora

★ ★ ★ ☆ ☆

abm
Judul: A Beautiful Mess
Penulis: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Metropop
Tebal: 344 hlm
Rilis: Februari 2015
Harga toko: Rp75.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Sebuah rahasia kelam memaksa Freya, gadis manja dan “high maintenance”, meminta bantuan ayahnya, lalu dengan terpaksa menerima nasib menyingkir ke pulau terpencil.

Di sana ia harus bekerja, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Freya seumur hidupnya. Dan siapa lagi yang mengawasi Freya kalau bukan Lian, pria tampan yang sepertinya membenci Freya sejak awal?

Namun Lian juga menyimpan rahasia. Dan diam-diam, ia menyadari sesuatu telah tumbuh. Cintakah? Tidak. Tidak. Jangan cinta!

Dan benarkah Freya telah berhasil meninggalkan masa lalunya? Ataukah… hantu masa lalu yang kelam namun teramat memikat itu akhirnya mengejar Freya hingga ke ujung dunia, dan ia selamanya takkan pernah lepas darinya? Takluk kembali pada satu-satunya laki-laki yang membuatnya begitu hidup, dan sekaligus mati?

Kisah ini bercerita tentang cinta. Dan nafsu. Tentang jatuh. Dan bangkit. Tentang luka dan rasa takut. Dan bagaimana menaklukkannya.

Mulanya review ini mau saya awali dengan “Ini adalah karya pertama Rosi L. Simamora yang saya baca …”, tapi saya lantas teringat kalau sudah membaca Autumn Once More. Seingat saya banyak editor GPU yang menjadi kontributor buku itu, jadi kemungkinan besar saya pernah baca karya Mbak Rosi sebelumnya dong. Setelah googling sebentar, benar ternyata ada satu cerpen karya Mbak Rosi di sana. Judulnya “Senja yang Sempurna”. Sayangnya saya nggak ingat bagaimana ceritanya. Rupanya karya tersebut belum bisa meninggalkan kesan tertentu bagi saya, hehehe.

Lantas bagaimana kesan saya terhadap A Beautiful Mess ini? Coba deh dari kesan positif dulu ….

1. Saya nggak follow twitter-nya Mbak Rosi, tapi ada satu twitnya yang pernah nongol di TL dan membekas di ingatan saya (di-retweet Mbak Dinoy kalau nggak salah):

@rosimamora67: Krn kata2 adlh senjata utama penulis, bukalah kamus sesering mungkin. Pelajari kata2 baru, mk tulisanmu lebih kaya n berwarna. #WritingTips

Dan Mbak Rosi ini orangnya walk-the-talk banget. Diksi di novelnya itu … beuh … juara! Saya ini orang yang nggak malas-malas amat buka kamus (tuntutan kerjaan), tapi buanyakkk banget diksi di novel ini yang lumayan asing buat saya. Misalnya nih … merancap, bertemperasan, berkeredap, tubir, lindap, degil. Kata-kata dewa banget deh itu semua!

2. Meski setting-nya di Indonesia Timur, novel ini Batak banget dan membuka mata saya perihal budayanya. Dari yang semula nggak tahu apa-apa soal pariban, ya sekarang jadi tahu sedikit lah. Terus jadi mengerti juga bagaimana situasi keluarga Batak yang tidak punya keturunan laki-laki.

Nah, sekarang giliran kesan negatif …

1. Saya kurang suka gaya bercerita Mbak Rosi ketika hendak menekankan sesuatu. Biasanya kata yang ditekankan akan diulang tiga kali! Kali! Kali! Ya seperti ini! Ini! Ini! Dan itu berkali! Kali! Kali! Jadinya saya bosen! Bosen! Bosen!

2. Setiap Freya mengobrol dengan Patar itu … ya Tuhaaannn! Pengen saya skip! Benar-benar uji kesabaran! Gaya merayunya si Patar ini benar-benar nggak berkelas dan jadinya saya ikut sebel sama Freya yang meladeninya (kebanyakan sengaja supaya Lian cemburu). Mana dibilang cewek-cewek pada klepek-klepek kalau sudah kena rayuan Patar +_+

3. Saya nggak terlalu peduli sama tokoh-tokohnya. Habisnya nggak ada yang lovable. Patar-nya jelas ngeselin. Freya juga ikutan ngeselin. Alasan Lian ngambek sama Freya pun menurut saya kurang kuat dan agak kekanak-kanakan. Jadi ya memang susah untuk bisa sepenuhnya menikmati novel ini.

***

Catatan Kebahasaan
1. Hlm. 254

030259
made by Waraopea
Desa Syuru
US$ 2412

031267
Perahu Roh
made by Wilmora
US$ 2308

Yang di atas ini adalah keterangan produk patung yang dibikin Freya. Saya kurang sreg aja sama konsistensi urutannya. Mending disamain aja urutannya, misal: kode-judul patung-nama pemahat-harga.

2. Hlm. 262–263

Soal fakta-fakta tentang kepemilikan Lian akan resor itu kok agak aneh ya. Nggak ada penjelasan dari siapa pun, tetapi tiba-tiba Freya tahu akan fakta-fakta tersebut. Mungkin maksudnya pada saat itu ayah Freya menjelaskannya, tetapi hal itu nggak disebutkan sama sekali tuh. Jadi langsung masuk narasi pembeberan fakta-fakta dan kesannya Freya tahu begitu saja.

Saya juga nemu Ferya, mencap, dan mem baca (harusnya Freya, mengecap, dan membaca), tapi lupa nggak saya catat di halaman berapa. Untuk masalah kebahasaan ini nggak bisa saya bahas maksimal nih. Soalnya saya nulis review ini dalam keadaan udah nggak pegang bukunya, hehehe … v(^^)

0

[DNS #5] [TMH #3] You Are the Apple of My Eye – Giddens Ko

★ ★ ★ ☆ ☆ yataome

Judul: You Are the Apple of My Eye
Penulis: Giddens Ko
Penerbit: Haru
Genre: M-Novel
Tebal: 350 hlm
Rilis: Februari 2014
Harga toko: Rp63.000,00
Cara dapat: @ Social Agency Baru Jakal (20% OFF)

Kau sangat kekanak-kanakan – Shen Jiayi Sedikit pun kau tidak berubah, nenek yang keras kepala – Ke Jingteng

Semua berawal saat Ke Jingteng, seorang siswa pembuat onar, dipindahkan untuk duduk di depan Shen Jiayi, supaya gadis murid teladan itu bisa mengawasinya. Ke Jingteng merasa Shen Jiayi sangat membosankan seperti ibu-ibu, juga menyebalkan. Apalagi, gadis itu selalu suka menusuk punggungnya saat ia ingin tidur di kelas dengan pulpen hingga baju seragamnya jadi penuh bercak tinta. Namun, perlahan Ke Jingteng menyadari, kalau Shen Jiayi adalah seorang gadis yang sangat spesial untuknya.

Karena masa mudaku, semua adalah tentangmu…

Kalau ada buku terbitan Haru yang paling pengin saya baca, itu adalah You Are the Apple of My Eye karya Giddens Ko ini. Kenapa? Karena rating di Goodreads menggiurkan sekali~~ :d Sudah melampaui angka psikologis alias 4 koma. Sepinter apa pun seorang mahasiswa nggak akan ber-IP segitu, deh~ *halah* Nah, karena rating itulah saya jadi berharap banyak. Ekspektasi saya terhadap buku ini kadung tinggi. Jatuhnya jadi rawan kecewa dan memang itulah yang terjadi. Bukan berarti buku ini nggak bagus, tapi ya nggak sebagus “itu” saja.

Pertama, karakter Li Xiaohua ini “nggak guna” banget deh xD Kemunculannya terkesan malah jadi pengganggu aja. Harusnya buku ini tentang Ke Jingteng & Shen Jiayi, tapi “muter jauh” nyeritain Ke Jingteng & Li Xiaohua dulu. Kalau pakai analogi Romeo+Juliet, Li Xiaohua ini jadi kayak Rosaline. Sempat berarti buat Romeo, tapi ya keberadaannya langsung dilupakan begitu Juliet muncul. Kalau saja ini fiksi, dihilangkan juga nggak bakal terlalu ngefek. Berhubung ini semacam autobiografi, ya dimaklumi deh Li Xiaohua nongol, lha wong kenyataannya memang ada tokoh ini 😛 Lagian berkat tokoh Li Xiaohua jadi ada adegan “anjing Li Xiaohua” dan saya suka bangettt sama bagian itu x)

Kedua, saya kurang cocok dengan gaya bercerita penulisnya. Beberapa kali saya sempat tersendat untuk melanjutkan karena gayanya memang bukan tipe page turner. Terus, ada apa sih dengan adegan mengupil?? Apa ini ritual favorit Giddens Ko? Sering banget muncul sampai saya nyaris bisa memprediksi kapan muncul lagi. Kayaknya sih perupilan ini dimunculkan untuk memberikan kesan bahwa Ke Jingteng itu cuek dan slengekan, tapi porsinya too much sehingga pembaca jadi bosen.

Nah, selanjutnya sisi positif buku ini … Saya suka sekali pesan di buku ini bahwa love can bring out the best in someone. Ke Jingteng yang dulunya cuek sama pelajaran bisa jadi pinter lhooo~ Yang jelas buku ini bikin inget masa SMA banget, huhu. Bukan masalah romance-nya, tapi bagaimana keseharian pelajar menghadapi ujian itu loh … autentik banget deh penggambarannya! Inget banget bagaimana di papan tulis tertulis besar-besar: H- … menuju UM UGM. Tapi seingat saya kok nggak ada H- … menuju UN ya? Zaman saya kayaknya memang pada lebih mementingkan ujian masuk perguruan tinggi daripada ujian kelulusan 😛 Dan entah kenapa kok ya UGM-oriented sekali, padahal dalam kenyataannya banyak juga yang kemudian kuliah di UI, ITB, dll., tapi yang mendapat tempat kehormatan di papan tulis SMA saya cuma UGM, cih~ 😛 Jadi inget pula bagaimana saat kelas 3 SMA itu pada sering bolos massal. Tapi waktu bolos itu pun digunakan untuk belajar, ckck. Biasanya pelajaran yang ditinggal itu yang dianggap nggak penting, seringnya PPKn, ehehehe.

Waduh, ini sih kebanyakan curcol x)

Seperti biasa, review ditutup dengan catatan typo (yang sedikittt):

(173) Sepajang > Sepanjang
(268) kampusku > kampusku.

P.S. Habis ini saya mau cari filmnya ah~ Kayaknya sih bakal lebih bisa saya nikmati.

0

[ACK #6] Tongkat Ajaib Lolita #1: A Magical Birthday Present – Karla M. Nashar

★ ★ ★ ☆ ☆

ambp

Judul: A Magical Birthday Present
Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Teenlit
Tebal: 184 hlm
Rilis: Januari 2010
Harga toko: Rp25.000,00
Cara dapat: Sewa @ KK Book Rental

Pernah membayangkan bisa mendengar isi hati orang lain? Kedengarannya sih asyik, tapi coba tanya Lolita. Pasto cewek itu bakal menggeleng keras-keras.

Sebagai hadiah ulang tahun kelima belas, Lolita mendapat warisan tongkat kayu kecil dari pohon Baobab berumur ribuan tahun, yang membuatnya bisa mendengar isi hati orang lain yang membutuhkan pertolongannya. Seketika hidup Lolita berubah. Waktu gaulnya habis untuk membantu orang-orang tersebut. Ia pun dimusuhi kedua sahabatnya yang menganggapnya nggak asyik lagi. Untung ada Dharma. Bersama cowok sederhana itu, Lolita memulai pengalaman uniknya sebagai pemegang kekuatan kelima dalam keluarga besar Brahmadiningrat.

Belum lama ini saya bilang kalau saya kurang bisa menikmati buku-buku lokal yang tebalnya kurang dari 200 halaman, tapi ini saya malah baca yang tipis-tipis lagi, hehe … Serial Tongkat Ajaib Lolita ini udah sering saya lihat di KK Book Rental, tapi ya itu … gara-gara bukunya tipis saya jadi nggak begitu tertarik untuk membawanya pulang. Berhubung rating serial ini di Goodreads cukup tinggi, di rental pun komplet ada ketiga bukunya, yaweslah, saya ngicip satu buku dulu. Kalau bagus ya pinjam lanjutannya, kalau nggak ya udah, nggak usah diteruskan.

Meski tipis, konfliknya terselesaikan dengan cukup baik kok, nggak terburu-buru seperti yang saya khawatirkan pada buku-buku tipis biasanya. Di buku pertama ini, ada dua kasus yang harus dibantu Lolita, yaitu masalah teman sekelasnya yang pendiam dan dua orang gurunya yang saling suka, tapi masih malu-malu. Ada benih-benih cinta juga di antara Lolita dan Dharma, yang tentunya bakal berkembang di buku-buku selanjutnya. Satu-satunya yang nggak saya suka dari buku ini adalah karakter Charlotte yang ngeselin. Mana di buku selanjutnya si Charlotte ini masih nongol lagi -,-

Apakah buku ini cukup bagus sehingga membuat saya pengin baca lanjutannya? Baca lanjutannya sih pengin, tapi buku ini bukan yang bagus banget sehingga bikin saya pengin baca lanjutannya sesegera mungkin, hehe.

***

Catatan:

1. Hlm. 55

Jam lima sore Lolita dan teman-temannya sampai di rumah. Ketiganya langsung berebut mandi duluan. Setelah selesai, mereka bergegas mengenakan gaun masing-masing. Sebelumnya wajah mereka sudah dirias di salon.

Apa memang orang lain ada yang dirias dulu baru mandi ya? Saya soalnya biasanya mandi dulu baru dirias 😐

2. Typo
(32) semuaa > semua
(145) menganti > mengganti
(151) Darma > Dharma
(165) barus > harus